
PERDEBATAN tentang jenius nyaris tak pernah selesai.
Apakah kecerdasan luar biasa lahir sejak kecil, atau dibentuk lewat proses panjang?
Sains memberi jawaban yang berbeda dari keyakinan lama.
Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science menunjukkan bahwa sebagian besar individu dengan prestasi tertinggi di dunia tidak menonjol sejak masa kanak-kanak. Pola ini ditemukan lintas bidang, mulai dari sains, seni, hingga olahraga.
Temuan tersebut menggoyang asumsi lama dalam dunia pendidikan yang selama ini cenderung mengagungkan bakat dini.
Prestasi Tinggi Tidak Datang Seketika
Dalam riset tersebut, para peneliti menelusuri perjalanan hidup peraih Nobel, atlet elite dunia, komponis musik klasik, hingga pemain catur papan atas. Hasilnya konsisten.
Mayoritas dari mereka berkembang secara bertahap.
Bukan lewat lonjakan prestasi di usia muda, melainkan melalui proses panjang yang penuh latihan, kegagalan, dan adaptasi.
Baca juga: S3 di Usia 25, Rizky Aflaha Buktikan Tak Ada Batas untuk Mimpi
Sebaliknya, banyak individu yang bersinar terlalu cepat justru kesulitan mempertahankan performa saat dewasa. Di dunia olahraga, sebagian besar atlet juara dunia junior tidak pernah mencapai puncak yang sama di level senior.
Kesimpulan pentingnya, potensi manusia tidak tumbuh instan dan tidak selalu linier.
Ketika Sains Menjadi Teknologi Pengetahuan
Temuan ini lahir dari perkembangan teknologi riset dan analisis data performa manusia. Kemajuan metodologi ilmiah memungkinkan peneliti memetakan pola belajar, latihan, dan perkembangan individu secara lebih akurat dibandingkan dekade sebelumnya.
Baca juga: Rahasia Mia Yunita Lulus Sarjana UGM di Usia 20 Tahun
Dalam konteks ini, sains tidak hanya berfungsi sebagai teori, tetapi sebagai teknologi pengetahuan, alat untuk membaca, mengukur, dan memprediksi capaian manusia. Pendekatan berbasis data inilah yang kini mulai memengaruhi cara negara dan institusi merancang sistem pendidikan dan pengembangan talenta.
Pergeseran ini juga sejalan dengan tren global di bidang edtech dan personalized learning, yang menekankan proses belajar adaptif, bukan seleksi cepat berbasis bakat awal.

Dua Pola yang Berulang
Riset tersebut mengidentifikasi dua pola utama pada individu yang akhirnya mencapai prestasi tertinggi.
Pertama, proses jangka panjang.
Kemampuan berkembang melalui latihan bertahap dan konsisten. Tidak ada jalan pintas.
Kedua, pengalaman lintas disiplin.
Bukan langsung terkunci pada satu bidang, individu berprestasi tinggi justru mengeksplorasi banyak minat sejak usia dini. Pendekatan ini membentuk fleksibilitas berpikir dan daya adaptasi yang kuat.
Sebaliknya, spesialisasi terlalu dini kerap membatasi ruang berkembang di kemudian hari.
Implikasi bagi Sistem Pendidikan
Temuan ini mendapat perhatian pembuat kebijakan di Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menilai riset berbasis sains penting sebagai pijakan dalam merancang sistem pendidikan yang lebih adaptif.
Baca juga: Lulus S2 di Usia 22, Amanda Jadi Inspirasi Anak Muda
Menurutnya, sistem pendidikan perlu memberi ruang eksplorasi lebih luas, baik di sekolah maupun perguruan tinggi, agar pengembangan talenta tidak terjebak pada penilaian cepat di usia dini.
Pendekatan berbasis riset dan data dinilai membuka peluang lebih adil bagi setiap anak untuk berkembang sesuai ritmenya.
Menggeser Cara Pandang
Selama bertahun-tahun, banyak orang tua dan sekolah masih terpaku pada mitos bakat bawaan. Anak dipacu sejak dini, sering kali tanpa mempertimbangkan kesiapan mental dan sosial.
Sains menawarkan perspektif lain.
Keunggulan bukan soal siapa yang paling cepat unggul, melainkan siapa yang tumbuh paling konsisten dalam sistem yang tepat.
Di era teknologi pengetahuan, cara lama menilai kecerdasan mulai ditinggalkan. Digantikan pendekatan yang lebih rasional, berbasis data, dan berpihak pada proses. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.