
HUTAN biasanya identik dengan puluhan bahkan ratusan tahun pertumbuhan. Tapi, Jepang membalik teori itu. Mereka punya cara bikin hutan mini dalam hitungan tahun, bukan generasi. Namanya metode Miyawaki.
Dan ketika banjir Sumatra membuka luka soal hilangnya hutan penahan air, pertanyaan itu datang lebih kencang, kenapa kita belum mencoba metode ini?
Hutan Mini Tumbuh Super Cepat
Metode ini lahir di Yokohama tahun 1970-an. Cara kerjanya unik, satu lahan kecil ditanami puluhan jenis pohon lokal, secara padat, acak, dan saling “berantem” tumbuh. Tiga anakan per meter persegi, dimulsa tebal, lalu disiram intensif beberapa tahun pertama.
Baca juga: Dari Batang Toru ke Banjir Besar, Hutan Sumatra Kirim Peringatan Keras
Setelah itu, mereka jalan sendiri. Akar besar dan akar dangkal saling mengunci tanah. Kanopi rapat bikin gulma kalah. Dalam satu dekade, tumbuhlah hutan kecil dengan struktur matang.
Di Eropa, metode ini nge-tren. Tree Council Inggris menyebut hutan Miyawaki tumbuh lebih tahan kekeringan, murah dirawat, dan punya keanekaragaman lebih tinggi dibanding tanam pohon biasa.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Kenapa ini Bisa Menjawab Sumatra?
Kita sedang “berkelahi” dengan dua hal besar, kota panas dan banjir yang makin ganas.
Jakarta, Medan, Bandung, hingga Makassar kekurangan ruang hijau.
Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatra, dari Mana Semua ini Berasal?
Sumatra, terutama Aceh dan Tapanuli, baru kena banjir bandang dan longsor besar. Lereng runtuh, bantaran sungai hilang, dan warga butuh solusi cepat. Miyawaki terasa masuk akal karena tumbuh cepat dan bisa ditanam di lahan sempit.
Sebenernya Indonesia Sudah Mulai, tapi Tanpa Nama
Beberapa kampus, komunitas kota, sampai TNI pernah bikin model tanam padat multi-spesies mirip Miyawaki. Tradisi lokal kita juga punya konsep serupa, seperti talun Sunda, repong damar, kebun campuran Dayak.
Baca juga: Net Zero Butuh Lahan Sebesar India, Kok Bisa?
Bedanya, Jepang membungkusnya jadi metodologi lengkap, mulai dari desain sampai monitoring.
Sumatra Punya PR, Miyawaki Punya Ide
Masalahnya bukan teknis. Masalahnya kebijakan. Kita masih doyan monokultur dan ruang kota belum mewajibkan hutan mini. Perawatan awal sering diabaikan. Padahal kalau Jakarta bikin Miyawaki di tiap RW, atau Sumatra pakai buat recovery pasca banjir, efeknya bisa viral dan nyata.

IKN bahkan bisa jadi “laboratorium Miyawaki” modern Asia. Hutan kota cepat tumbuh yang jadi contoh global.
Baca juga: Gila, Pengusaha Ini Beli Hutan Supaya Tidak Ditebang
Tinggal satu PR, mau nggak negara ini taruhan pada ide ekologi yang sudah terbukti?
Karena Jepang sudah membuktikan, hutan nggak harus menunggu 100 tahun.
Dan Sumatra mungkin butuh jawaban itu sekarang. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.