Kenapa Semua Perusahaan Tiba-tiba Butuh Software Akuntansi Karbon?

Interaksi dengan dashboard digital kini jadi bagian penting perusahaan untuk menghitung dan melaporkan emisi mereka secara akurat. Foto: Towfiqu Barbhuiya/ Pexels.

DI TENGAH dorongan dunia menuju ekonomi rendah karbon, satu tren teknologi naik cepat, software akuntansi karbon. Dulu hanya dipakai perusahaan besar yang rajin bikin laporan keberlanjutan. Sekarang? Hampir semua industri mulai merasa wajib punya.

Bukan sekadar mengikuti tren hijau. Ada tekanan nyata yang membuat software jenis ini jadi kebutuhan mendesak. Mulai dari regulasi internasional sampai tuntutan investor dan pelanggan.

Regulasi Global Makin Ketat

Uni Eropa sudah jalan dengan CSRD (Corporate Sustainability Reporting Directive), aturan yang mewajibkan perusahaan melaporkan emisi secara detail dan siap diaudit. Di Amerika Serikat, SEC juga sedang menyelesaikan standar pengungkapan iklim baru. Belum lagi harmonisasi global lewat GHG Protocol.

Artinya apa?
Perusahaan enggak bisa lagi sekadar menebak-nebak angka emisi. Semua harus rapi, presisi, dan bisa dibuktikan.

Baca juga: Pasar Karbon Dunia Naik Kelas, Indonesia Siap Ikut Main?

Kesalahan perhitungan bisa berujung pada:

  • denda,
  • tuntutan hukum,
  • dan reputasi yang rontok di mata investor yang makin sensitif terhadap isu iklim.

Software akuntansi karbon hadir sebagai alat yang membuat seluruh proses ini jadi jauh lebih efisien, sekaligus lebih aman.

AI dan Cloud Bikin Semuanya Makin Mudah

Kalau dulu penghitungan emisi dilakukan manual lewat excel dan laporan manual, sekarang sudah berubah total. AI, otomatisasi, dan analitik data mengubah cara perusahaan mengelola emisi. Perhitungan bisa dilakukan real-time, lintas pabrik, negara, sampai pemasok global.

Baca juga: Google Luncurkan Teknologi Baru untuk Bantu Pabrik Pangkas Emisi

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Kuncinya, cloud.
Solusi berbasis cloud mendominasi pasar karena murah di awal, mudah dipasang, dan gampang terhubung ke berbagai sumber data. Perusahaan tinggal “plug and play”, lalu angka emisi bergerak otomatis.

Baca juga: Bisakah Karbon Selamatkan Hutan Indonesia?

Dengan teknologi ini, perusahaan bukan hanya menghitung jejak karbon mereka. Mereka bisa mensimulasikan skenario, membandingkan strategi dekarbonisasi, sampai mempersiapkan laporan keberlanjutan berbasis standar internasional.

Amerika Utara Ambil Posisi Terdepan

Saat ini, Amerika Utara menjadi pasar terbesar software akuntansi karbon. Alasannya sederhana:

  • tekanan investor tinggi,
  • regulasi lebih matang,
  • dan banyak perusahaan teknologi hijau bermarkas di sana.

Baca juga: Dana Karbon dan Jalan Terjal Kaltim Membangun Model Hijau Nasional

Nama-nama seperti Microsoft, SAP SE, BraveGen, Carbon Analytics, dan Net0 terus memperluas solusi digital untuk iklim. Persaingan ketat ini membuat inovasi melaju cepat, dan seluruh dunia ikut terdorong.

Indonesia? Siap atau Tidak, Bakal Ikut Arusnya

Global supply chain akan ikut memaksa perusahaan Indonesia berbenah. Ketika perusahaan besar di Eropa atau AS meminta data emisi pemasoknya, pelaku industri di Indonesia mau tidak mau harus mampu menyajikan angka yang akurat dan bisa diaudit.

Baca juga: 17 Pusat Karbon Biru, Ambisi Besar Tantangan Lebih Besar?

Dengan kata lain, software akuntansi karbon sebentar lagi jadi “alat wajib” bagi perusahaan yang ingin tetap bersaing.

Bukan karena ingin terlihat hijau, tapi karena dunia usaha sudah bergerak ke standar transparansi baru. Yang lambat beradaptasi, berisiko tertinggal. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *