Pasar Karbon Turun ke Individu, Siap Jadi Gerakan Massal?

Aksi penanaman pohon menjadi salah satu bentuk carbon offset berbasis alam yang kini mulai melibatkan partisipasi individu dalam pasar karbon. Foto:  Tường Chopper/ Pexels. 

JAKARTA, mulamula.id Pasar karbon Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih inklusif. Tidak lagi hanya untuk korporasi, kini individu pun mulai dilibatkan.

Namun, pertanyaannya belum selesai. Apakah akses yang terbuka ini cukup untuk mengubah partisipasi menjadi gerakan massal?

Data dari IDX Carbon menunjukkan sinyal awal yang menarik. Hingga kini, tercatat 2.065 penerima manfaat telah melakukan carbon offset. Dari jumlah itu, 1.566 di antaranya adalah individu atau retail. Total emisi yang berhasil diimbangi mencapai lebih dari 1,3 juta ton CO2 ekuivalen.

Angka ini belum besar jika dibandingkan dengan total emisi nasional. Tapi arahnya jelas. Kesadaran mulai bergeser dari institusi ke individu.

Direktur Keuangan, SDM, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia, Risa E. Rustam, menyebut tren ini sebagai perkembangan penting.

“Isu keberlanjutan mulai bertransformasi dari sekadar wacana institusi menjadi kesadaran individu,” ujarnya dalam peluncuran kampanye “Aku Net-Zero Hero”.

Dari Kesadaran ke Aksi

Secara sederhana, carbon offset adalah upaya menyeimbangkan emisi yang kita hasilkan dengan mendanai proyek pengurangan emisi.

Di Indonesia, rata-rata jejak karbon individu berada di kisaran 2–3 ton CO2 per tahun. Dengan harga unit karbon saat ini, angka tersebut sebenarnya bisa diimbangi dengan biaya yang relatif terjangkau.

Masalahnya bukan hanya soal biaya. Tapi, soal akses dan kemudahan.

Baca juga: Pasar Karbon Dunia Naik Kelas, Indonesia Siap Ikut Main?

Di sinilah konsep retirement on behalf di IDX Carbon mulai memainkan peran. Individu kini bisa melakukan offset secara langsung atau melalui perantara. Setiap transaksi tercatat resmi dan mendapatkan sertifikat di Sistem Registri Nasional (SRN).

Artinya, kontribusi individu tidak lagi simbolik. Ia menjadi bagian dari sistem yang terverifikasi.

Bank Masuk, Akses Dibuka

Langkah yang lebih signifikan datang dari integrasi dengan layanan perbankan.

Bank Mandiri, melalui fitur Livin’ Planet di aplikasi Livin’ by Mandiri, kini membuka akses pembelian Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) untuk segmen retail.

Ini bukan sekadar fitur tambahan. Ini perubahan struktur pasar.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Henry Panjaitan, menegaskan bahwa langkah ini ditujukan untuk mendorong aksi nyata.

“Nasabah tidak hanya sadar, tetapi juga bisa langsung mengimbangi jejak karbonnya melalui mekanisme yang kredibel,” ujarnya.

Baca juga: Kenapa Semua Perusahaan Tiba-tiba Butuh Software Akuntansi Karbon?

Melalui aplikasi, pengguna bisa menghitung emisi pribadi lewat carbon calculator, lalu langsung membeli unit karbon untuk mengimbanginya.

Sederhana. Terukur. Dan semakin dekat dengan keseharian.

Apa itu SPE-GRK?

SPE-GRK adalah unit karbon yang menunjukkan pengurangan emisi dari sebuah proyek yang sudah melalui proses pengukuran, pelaporan, dan verifikasi.

Satu unit merepresentasikan pengurangan 1 ton CO2 ekuivalen.

Unit ini bisa digunakan oleh individu atau institusi untuk menyeimbangkan emisi dari aktivitas mereka.

Sumbernya beragam. Mulai dari solusi berbasis alam seperti penanaman pohon, hingga teknologi seperti energi terbarukan dan efisiensi energi.

Baca juga: Bisakah Karbon Selamatkan Hutan Indonesia?

Salah satu proyek yang saat ini menjadi sumber SPE-GRK adalah PLTBg Sei Mangkei di Sumatera Utara. Proyek ini mengolah limbah kelapa sawit menjadi energi, dengan kapasitas 2,4 MW.

Dampaknya tidak kecil. Pengurangan emisinya mencapai sekitar 265 ribu ton CO2 ekuivalen. Setara dengan emisi sekitar 30.000 kendaraan berbahan bakar bensin.

Jembatan yang Masih Setengah Jadi

Meski akses mulai terbuka, tantangan utama tetap ada.

Pasar karbon masih membutuhkan “jembatan” agar lebih mudah dipahami dan digunakan oleh masyarakat luas.

Literasi karbon masih rendah. Banyak orang belum tahu bagaimana menghitung jejak karbonnya, apalagi mengimbanginya.

Baca juga: Rp 500 Triliun dari Pengemplang Pajak dan Pasar Karbon

Selain itu, kepercayaan juga menjadi faktor penting. Publik perlu diyakinkan bahwa setiap unit karbon benar-benar mewakili pengurangan emisi yang nyata.

Di sisi lain, regulator seperti BEI memiliki peran strategis. Tidak hanya sebagai fasilitator transaksi, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem pembiayaan berkelanjutan dan praktik ESG.

Dari Tren ke Transformasi

Yang sedang terjadi saat ini adalah fase awal. Partisipasi individu mulai tumbuh. Teknologi mulai mendekatkan akses. Institusi mulai membuka pintu.

Namun, untuk menjadi gerakan massal, ada satu syarat utama, konsistensi. Kesadaran harus berubah menjadi kebiasaan.

Karena pada akhirnya, net zero bukan hanya target negara atau perusahaan. Tapi juga akumulasi dari keputusan kecil yang diambil individu setiap hari.

Dan di titik itulah, pasar karbon akan benar-benar menemukan momentumnya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *