668 Ribu Laporan Scam, Uang Korban Kembali Berapa?

Seorang pengguna memeriksa ponselnya. Indonesia Anti-Scam Centre menerima 668.441 laporan penipuan hingga 31 Agustus 2026. Kecepatan melapor menentukan peluang dana korban ditemukan dan diblokir sebelum dipindahkan pelaku. Foto: Ilustrasi/ RDNE/ Pexels.

SEBUAH pesan masuk ke ponsel. Isinya bisa berupa undangan digital, tagihan palsu, tawaran kerja, paket yang tertahan, hingga permintaan mendesak dari seseorang yang dikenal.

Satu tautan diklik. Data diberikan. Uang pun berpindah.

Semua dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit. Namun, ketika korban mencoba mengambil kembali uangnya, prosesnya tidak lagi secepat transaksi yang baru saja terjadi.

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan besarnya skala persoalan tersebut. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 668.441 laporan penipuan sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Agustus 2026.

Laporan itu terhubung dengan 1.276.688 rekening yang telah dilaporkan dan diverifikasi. Sebanyak 659.419 rekening berhasil diblokir.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa scam bukan lagi kejahatan digital yang terjadi sesekali. Sebaliknya, telah tumbuh menjadi industri dengan jaringan rekening, nomor telepon, akun, dan saluran pembayaran yang luas.

Uang Bergerak Cepat

Pelaku penipuan jarang membiarkan uang bertahan lama di rekening pertama. Dana dapat segera dipindahkan, dipecah ke beberapa rekening, dibelikan aset digital, atau diteruskan melalui dompet elektronik.

Karena itu, kecepatan menjadi penentu.

IASC dibentuk untuk mempercepat koordinasi antara bank, penyedia sistem pembayaran, OJK, dan aparat penegak hukum. Setelah menerima laporan, sistem ini dapat membantu menelusuri aliran dana serta meminta penundaan transaksi dan pemblokiran rekening terkait.

Baca juga: Suara Bisa Ditiru AI, Lansia Jadi Sasaran Scam

Masalahnya, pemblokiran belum tentu berarti pengembalian.

Hingga akhir Agustus 2026, IASC berhasil memblokir dana korban senilai Rp771,2 miliar. Dari jumlah tersebut, baru Rp206 miliar yang telah dikembalikan melalui 19 bank.

Artinya, dana yang sudah kembali baru setara sekitar 26,7 persen dari uang yang berhasil diblokir. Perhitungan itu bahkan belum menggambarkan seluruh kerugian korban karena dana yang sempat dipindahkan atau ditarik pelaku tidak termasuk dalam angka yang diblokir.

Tertinggal dari Penipu

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan kapasitas IASC akan terus ditingkatkan untuk mempercepat penanganan penipuan sektor keuangan.

Namun, ratusan ribu laporan memperlihatkan bahwa persoalannya tidak dapat dibebankan hanya kepada kewaspadaan pengguna.

Bank dan penyedia pembayaran menguasai teknologi untuk membaca pola transaksi. Platform digital juga memiliki data tentang akun, iklan, dan tautan yang digunakan untuk menjaring korban. Operator seluler mengetahui nomor yang dipakai berulang kali.

Baca juga: Buron Sejak 2022, Kenapa Bos Net89 Belum Tertangkap?

IASC sendiri menemukan 159.472 nomor telepon yang dilaporkan terkait penipuan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa korban percaya. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah mengapa rekening, nomor telepon, dan akun yang terindikasi menipu masih dapat terus digunakan sampai korbannya bertambah.

Saat IASC diluncurkan, Friderica Widyasari Dewi dari OJK mengingatkan bahwa uang yang hilang bisa merupakan tabungan puluhan tahun, dana pendidikan anak, atau persiapan masa tua. Pusat anti-scam dibangun agar laporan tidak lagi tersendat di antara berbagai lembaga.

Jangan Menunggu Besok

Bagi korban, menit pertama setelah menyadari penipuan sangat menentukan. Menghubungi bank atau penyedia pembayaran dan menyampaikan laporan melalui kanal resmi IASC perlu dilakukan secepatnya. Bukti transfer, percakapan, nomor rekening, nomor telepon, serta tautan pelaku harus disimpan.

Semakin lama korban menunggu, semakin besar peluang uang berpindah dari rekening pertama dan semakin sulit pula menelusurinya.

Baca juga: Sering Ditelepon Nomor Asing? Ini Cara Deteksi Scam dan Spam di HP Kamu

Namun, keberhasilan melawan scam tidak boleh hanya bergantung pada seberapa cepat korban menyadari bahwa dirinya telah ditipu. Sistem keuangan dan platform digital harus mampu mengenali serta menghentikan transaksi mencurigakan sebelum seluruh uang menghilang.

Lebih dari satu juta rekening telah terhubung dengan laporan penipuan. Ratusan miliar rupiah sudah diblokir, tetapi sebagian besar belum kembali.

Di dunia digital, uang dapat lenyap dalam beberapa menit. Negara perlu memastikan pemulihannya tidak berjalan tanpa kepastian. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *