IWTC dan Dian Oerip Menenun Makna Hari Pahlawan

Dian Oerip, pelestari wastra Nusantara. Foto: @dian_oerip.

JAKARTA, mulamula.idHari Pahlawan tak selalu bicara tentang perang. Tahun ini, Indonesian Women Tourism Community (IWTC) memilih cara berbeda, menenun makna kepahlawanan lewat kisah perempuan yang menjaga budaya.

Melalui diskusi publik bertajuk “Pahlawan di Balik Wastra: Perempuan yang Menenun Citra Indonesia”, IWTC menghadirkan sosok inspiratif Dian Oerip, pelestari wastra Nusantara yang menghidupkan kembali helai-helai tradisi dan suara perempuan penenun dari berbagai pelosok negeri.

Pahlawan Tak Harus Berperang

Ketua IWTC, Ade Noerwenda, menegaskan bahwa makna kepahlawanan kini telah bergeser. “Pahlawan tidak selalu mereka yang mengangkat senjata. Dalam peradaban modern, banyak perempuan menjadi pahlawan di bidangnya masing-masing. Salah satunya seperti yang dilakukan Dian Oerip,” ujarnya kepada Mulamula.

Ia menambahkan, momen Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa perempuan hari ini berjuang dengan cara berbeda. Melestarikan, memberdayakan, dan menjaga kehidupan. “Mereka menenun kisah dan jati diri bangsa lewat karya yang membumi,” katanya.

Ketua IWTC Ade Noerwenda (tengah, berbaju kotak-kotak hitam putih) bersama Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irine Umar (kanan) saat menghadiri Pasar Seni Bermain di Jakarta, akhir Oktober 2025. Foto: Dok. IWTC.
Dian Oerip, Perempuan yang Menenun Harapan

Berawal dari hobinya berkeliling Nusantara dan memotret budaya lokal, Dian Oerip menemukan keindahan di balik setiap helai kain tradisional. Ia melihat bahwa para penenun bukan sekadar pekerja, melainkan penjaga identitas bangsa.

“Bagi saya, menjadi pahlawan tak harus berperang. Cukup menjaga agar jalinan tradisi dan tangan perempuan Indonesia tetap hidup, berdaya, dan berwarna,” ujar Dian dalam sebuah kesempatan.

Lewat karyanya, Dian mengangkat wastra dari berbagai daerah. Dari batik Jawa hingga tenun Sumba dan Karawo Gorontalo, menjadi mode yang hidup dan modern. Ia memadukan tradisi dan tren global tanpa menghilangkan ruh lokalnya.

Wastra dan Pemberdayaan Perempuan

Dian tak hanya melestarikan, tapi juga memberdayakan. Ia bekerja langsung dengan ibu-ibu penenun di berbagai daerah, membantu mereka memperoleh ruang, pengakuan, dan nilai ekonomi yang lebih baik.

Baca juga: IWTC Gelar Webinar Perempuan Pariwisata untuk SDGs

Dalam setiap proses, ia menjunjung tinggi prinsip minim potong kain, bentuk penghargaan terhadap kerja keras penenun dan nilai tinggi kain tenun. Desainnya mungkin longgar dan berukuran besar, tapi di situlah filosofi pelestarian dan keadilan ekonomi berpadu.

Wastra Indonesia sendiri merupakan simbol kekayaan budaya. Dari batik hingga songket, setiap motif punya makna spiritual dan sosial. Namun, tanpa pelestari seperti Dian, warisan itu bisa memudar di tengah arus modernitas.

Menjaga Jati Diri Bangsa

Kini karya-karya Dian Oerip telah menembus panggung internasional, termasuk Amerika Serikat. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya sendiri bisa menjadi jalan kepahlawanan baru.

Baca juga: Perempuan Berdaya, Pariwisata Kian Berjaya

IWTC ingin menjadikan kisah seperti ini sebagai inspirasi bagi perempuan Indonesia di berbagai bidang. Bahwa kepahlawanan bisa lahir dari empati, ketekunan, dan cinta pada Tanah Air, bahkan dari selembar kain.

“Kami berharap semakin banyak perempuan hebat yang muncul, menjadi inspirator dan motivator bagi pemberdayaan wanita di Indonesia,” tutup Ade Noerwenda.

Catat Jadwalnya

Webinar “Pahlawan di Balik Wastra: Perempuan yang Menenun Citra Indonesia” akan digelar pada Selasa, 11 November 2025, pukul 15.00–16.00 WIB.
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Simak langsung kisah inspiratif Dian Oerip dan perjalanan perempuan penenun Indonesia dengan mendaftar melalui tautan resmi IWTC di bit.ly/webinar_IWTC_2_11Nov25.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *