Live Commerce Ternyata Bisa Memicu Belanja Impulsif

Nadya Marvella Santarini bersama keluarga usai wisuda di Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta. Nadya meneliti pengaruh live commerce terhadap perilaku belanja impulsif. Foto: Dok. Nadya.

JAKARTA, mulamula.idDiskon terbatas, komentar “checkout sekarang”, hingga host yang terus membangun suasana ramai ternyata bisa memengaruhi cara seseorang berbelanja di live commerce. Fenomena itu kini diteliti mahasiswi psikologi Universitas Gadjah Mada yang justru lulus lebih cepat setelah membedah perilaku belanja impulsif di era digital.

Namanya Nadya Marvella Santarini. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi UGM hanya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 1 hari dan diwisuda pada Mei 2026. Catatan itu lebih cepat dibanding rata-rata masa studi lulusan sarjana periode yang sama yang mencapai hampir empat tahun.

Menariknya, skripsi Nadya membahas fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan digital anak muda saat ini, compulsive buying atau kebiasaan belanja berlebihan tanpa kontrol saat menonton live commerce.

Baca juga: Doktor UGM Lulus 2,5 Tahun, Risetnya Dorong Kit DNA Lokal Kurangi Impor

Live commerce adalah metode penjualan yang menggabungkan siaran langsung dengan fitur belanja online. Model ini makin populer karena menghadirkan interaksi real time antara penjual, host, dan pembeli di satu ruang digital yang sama.

Melalui penelitian berjudul The Role of Social Influence in Compulsive Buying on Live Commerce: Self Control as the Moderator, Nadya meneliti pengaruh tekanan sosial terhadap perilaku belanja impulsif pengguna live commerce. Mengutip laman resmi UGM, penelitian itu melibatkan lebih dari 250 responden dengan pendekatan kuantitatif.

Tekanan Sosial Digital

Menurut Nadya, live commerce bukan sekadar tempat jualan online. Ada pengaruh sosial yang bekerja secara halus dan sering tidak disadari pengguna.

Komentar penonton lain, suasana ramai, promosi host, hingga dorongan membeli dalam waktu singkat bisa memicu keputusan belanja emosional.

“Aku meneliti apakah pengaruh orang-orang, baik itu konsumer lain ataupun host di live commerce, memiliki dampak kepada kecenderungan konsumer untuk jatuh ke compulsive buying,” ujarnya.

Penelitian itu menunjukkan bahwa pengaruh sosial memang berkontribusi terhadap perilaku compulsive buying.

Baca juga: Inovasi Gelora dari UGM, Bakar Sampah Tanpa Bikin Polusi

Penelitian ini juga menunjukkan live commerce tidak sekadar menjadi metode jualan digital, tetapi dapat memengaruhi perilaku konsumtif seseorang melalui tekanan sosial di ruang virtual.

Sementara itu, kontrol diri atau self control ternyata tidak memperkuat maupun memperlemah pengaruh sosial tersebut. Namun, kontrol diri tetap memiliki pengaruh langsung terhadap kecenderungan belanja impulsif.

Artinya, seseorang dengan kontrol diri yang lebih baik cenderung lebih mampu menahan dorongan belanja emosional meski berada di tengah tekanan sosial digital.

Revisi Bukan Musuh

Di balik keberhasilannya lulus cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi tidak selalu mudah.

Menurutnya, revisi menjadi salah satu tantangan terbesar yang sering membuat mahasiswa kehilangan motivasi. Banyak mahasiswa sebenarnya bukan kekurangan kemampuan, tetapi sudah lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang.

“Banyak teman-teman aku juga stuck karena setelah revisi mereka merasa capek duluan, self-esteemnya rendah, percaya dirinya kurang, dan akhirnya jadi malas lanjut lagi,” katanya.

Namun Nadya memilih mengubah cara pandangnya terhadap revisi dan dosen pembimbing.

Baca juga: “Buy Now”, Konspirasi Global Mengubah Hasrat Belanja Jadi Bencana Lingkungan

Ia tidak melihat revisi sebagai hambatan, melainkan bagian dari proses berkembang. Ia juga membangun komunikasi aktif dengan dosen agar memiliki timeline pengerjaan yang lebih jelas.

“Aku menganggap dosen itu pemandu yang membantu aku berkembang,” ujarnya.

Menurut Nadya, deadline menjadi faktor penting agar mahasiswa terus bergerak dan tidak menunda pengerjaan skripsi.

“Salah satu alasan kenapa skripsi itu susah dikerjain karena rasanya selalu bisa besok lagi,” katanya.

Belajar dari Dunia Nyata

Selama kuliah, Nadya juga aktif mengikuti berbagai program magang yang memperkaya sudut pandangnya sebagai mahasiswa psikologi.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika magang di sekolah autisme lanjut di Yogyakarta. Di tempat itu, ia membantu aktivitas keseharian siswa untuk belajar hidup lebih mandiri melalui kegiatan sederhana.

Ia juga pernah magang di lingkungan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dalam program tersebut, Nadya meneliti kondisi psikologis awak kapal yang bekerja lama di laut.

Baca juga: NeoSemar, Inovasi Mahasiswa UGM yang Bantu Otak Lawan Kecanduan Narkoba

Dari pengalaman itu, ia menyadari banyak orang yang terlihat kuat ternyata juga menyimpan tekanan mental yang jarang terlihat.

Tak hanya aktif di akademik dan pengalaman profesional, Nadya kini juga bersiap melanjutkan studi magister di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, pada program Master of Educational Psychology.

Istirahat Itu Penting

Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Nadya mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan akademik dan budaya serba cepat.

Menurutnya, istirahat bukan bentuk kemunduran, melainkan cara untuk memulai ulang dengan kondisi yang lebih baik.

“Istirahat itu lebih penting dari yang kalian bayangkan. Otak kita bekerja lebih baik kalau sudah istirahat,” ujarnya.

Di tengah budaya yang mendorong orang selalu produktif, Nadya percaya kemampuan berhenti sejenak kadang justru menjadi cara terbaik untuk terus bergerak. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *