
YOGYAKARTA, mulamula.id – Lulus doktor biasanya butuh waktu panjang. Bisa empat sampai lima tahun. Tapi, Stanley Evander Emeltan Tjoa mematahkan pola itu. Ia menyelesaikan studi S3 Biologi di Universitas Gadjah Mada hanya dalam 2 tahun 5 bulan 14 hari.
Catatan itu membuatnya jadi salah satu lulusan tercepat dalam wisuda pascasarjana UGM pada 22–23 April lalu.
Lebih dari sekadar cepat, risetnya juga menyasar masalah nyata, ketergantungan Indonesia pada kit DNA impor.
Dari “Iseng” Jadi Riset
Jalan Stanley ke dunia biologi tidak dimulai dari ambisi besar. Justru sebaliknya.
Ia mengaku dulu tidak terlalu tertarik pada pelajaran IPA. Titik balik datang saat ia mencoba masuk kelas sains khusus di SMA, sekadar coba-coba.
Baca juga: Lulus S2 Cuma 1 Tahun, Ini Cara Tania “Ngebut” Tanpa Asal Cepat
Ternyata lolos. Rasa penasaran muncul.
Sejak itu, biologi bukan lagi pelajaran biasa. Ia berubah menjadi pintu masuk ke dunia riset.
Jalur “By Research” yang Ngebut
Kecepatan studi Stanley bukan kebetulan. Ia mengambil jalur by research, model studi berbasis riset sejak awal.
Artinya, sejak semester pertama, ia sudah menyusun proposal. Awal semester dua, ia langsung menghadapi ujian komprehensif.
Strategi ini memberi satu keuntungan penting. Waktu penelitian jadi lebih panjang dan fokus.
Ditambah lagi, studinya didukung perusahaan tempat ia bekerja. Sinergi ini membuat risetnya tidak berhenti di teori, tapi langsung relevan dengan kebutuhan industri.

iset dari Kolaborasi Kampus–Industri
Perjalanan riset Stanley dimulai dari pertemuan dua dunia: akademik dan industri.
Diskusi antara kampus dan perusahaan tempatnya bekerja membuka peluang pengembangan teknologi baru. Salah satunya bersama Prof. Budi Daryono.
Baca juga: Rahasia Mia Yunita Lulus Sarjana UGM di Usia 20 Tahun
Dari situ, ia mulai mengembangkan kit ekstraksi DNA.
Produk ini penting dalam proses awal analisis DNA, sebelum masuk tahap Polymerase Chain Reaction (PCR).
Teknologi Magnetik untuk Efisiensi
Yang membuat riset ini menarik, Stanley tidak memakai metode konvensional. Ia menggunakan nanopartikel magnetik untuk mengekstraksi DNA.
Pendekatan ini membuat proses lebih cepat, lebih efisien, dan berpotensi lebih murah.
Risetnya juga didukung tim promotor lintas disiplin, Biologi, Kimia, hingga Fisika, agar produk yang dihasilkan benar-benar siap digunakan sebagai satu sistem utuh.
Lawan Ketergantungan Impor
Masalahnya jelas. Kit DNA di Indonesia masih didominasi produk impor.
Harganya mahal. Distribusinya lama. Dan ketergantungan ini berisiko bagi sektor kesehatan dan riset.
Melalui disertasinya, Stanley mencoba menjawab tantangan itu.
Baca juga: Ravidho Ramadhan, Doktor Termuda UGM dengan IPK Sempurna
Ia mengembangkan kit lokal yang bisa diproduksi di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan industri nasional hingga 2035.
Dengan kata lain, riset ini bukan cuma soal akademik. Tapi juga tentang kedaulatan teknologi.
Lebih dari Sekadar Cepat
Kisah Stanley menunjukkan satu hal penting. Kecepatan studi bukan hanya soal pintar. Tapi soal strategi, kolaborasi, dan relevansi riset.
Ketika kampus dan industri terhubung, hasilnya bisa lebih cepat dan lebih berdampak. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.