
BANDUNG, mulamula.id – Tidak ada dialog. Tidak ada narasi panjang. Tapi, “Cecilia” justru berbicara lebih lantang dari banyak film lain.
Film pendek karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini menembus panggung nasional hingga menjangkau penonton global. Sebuah capaian yang tidak datang dari kebetulan.
Tim Liga Film Mahasiswa ITB melalui Ophiuchus Project meraih juara 2 dalam Cinemation Festival 2025 di Auditorium Bale Santika, Universitas Padjadjaran, Sumedang.
Lebih dari itu, “Cecilia” juga diputar di berbagai ajang, termasuk Rishka Fest, dan ditonton audiens hingga ke Bangladesh. Film mahasiswa, tapi resonansinya lintas batas.
Saat Pujian Berubah Tekanan
“Cecilia” mengisahkan seorang penari perempuan di atas panggung. Ia dipuji saat tampil sempurna. Tapi ketika ekspektasi berubah, pujian itu bergeser menjadi kritik, bahkan hujatan.
Cerita ini sederhana. Namun dekat dengan realitas.
Baca juga: Dari Rotan ke Gitar, Kisah Aruma Cumlaude ITB
Film ini memperlihatkan bagaimana manusia hidup di bawah tekanan penilaian. Apa yang dianggap indah hari ini, bisa dianggap gagal esok hari.
Tanpa dialog, emosi disampaikan lewat gerak tubuh. Lewat ekspresi. Lewat keheningan yang justru terasa bising.
Berangkat dari Rasa Gagal
Ide cerita lahir dari pengalaman personal penulis, Stephanus Jan Deardo Sihotang.
Ia pernah berada di titik merasa gagal. Merasa dihakimi. Dari situ, lahir keinginan untuk membingkai pengalaman tersebut menjadi karya visual.
“Ada momen merasa gagal dan seperti dihujat. Dari situ ingin dibingkai jadi film,” ujarnya, dalam keterangan yang dipublikasikan melalui laman resmi Institut Teknologi Bandung.
Pilihan tari sebagai medium bukan tanpa alasan. Tari dianggap sebagai bahasa emosi yang paling jujur, tanpa perlu kata.
Representasi yang Jarang Disadari
Karakter Cecilia juga membawa lapisan makna lain. Ia merepresentasikan perempuan yang menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi publik.
Film ini tidak menggurui. Tapi, mengajak penonton melihat lebih dekat realitas yang sering luput.
Baca juga: ITB Perkenalkan Serum Anti-Aging Berbasis Cangkang Telur
Tentang bagaimana penilaian bisa berubah cepat. Tentang bagaimana perempuan kerap berada di posisi rentan.

Lima Bulan, Banyak Tantangan
Proses produksi “Cecilia” berlangsung selama lima bulan, dari November 2024 hingga Maret 2025.
Mulai dari penulisan naskah, pencarian kru, hingga tahap finalisasi.
Tantangan terbesar datang dari kursi sutradara. Vincentius Bhagaskara menjalani debutnya dalam proyek ini.
Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum Berbasis AI, Siap Tampil di Paris 2026
Sebelumnya, ia lebih banyak berkutat di bidang kajian dan apresiasi film.
“Awalnya cukup stres. Tapi bisa diatasi dengan terus belajar. Sutradara harus punya visi yang kuat,” katanya.
Makna di Balik Nama
Nama “Cecilia” dipilih bukan sekadar estetika.
Itu diambil dari bunga mawar cecilia. Juga merujuk pada santo pelindung musik dalam tradisi Kristiani.
Di sisi lain, nama ini cukup umum. Dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mudah dikenali, tapi menyimpan makna.
Dari Kampus ke Dunia
Tim ini beranggotakan 11 mahasiswa angkatan 2022 dan 2023. Salah satunya Naurah Safa Ararya Cetta sebagai pemeran utama.
Selain meraih juara di Cinemation Festival, “Cecilia” juga masuk berbagai seleksi festival. Mulai dari UI Film Festival hingga Airlangga Cinema Festival.
Baca juga: Solusi untuk PRT dari mahasiswa ITB Menangi SDGs Challenge
Sejumlah detail mengenai proses dan capaian film ini juga dipublikasikan melalui laman resmi Institut Teknologi Bandung.
Ke depan, tim LFM ITB berencana terus memproduksi film pendek dan menargetkan lebih banyak festival.
Langkahnya sederhana. Tapi arahnya jelas.
Dari kampus. Menuju dunia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.