
INDONESIA punya daratan luas. Tapi, tidak semuanya ideal untuk bertani.
Dari total 189 juta hektare daratan, sekitar 91 juta hektare tergolong lahan suboptimum. Artinya, hampir separuh tanah kita menghadapi masalah seperti pH rendah (tanah masam), salinitas, hingga kekurangan unsur hara. Kondisi ini bikin tanaman sulit tumbuh maksimal.
Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor gandum dalam jumlah besar. Pada 2024, angkanya mencapai 12,7 juta ton. Ketergantungan ini membuat sistem pangan kita rentan terhadap gejolak harga global dan perubahan iklim.
Lalu, apakah masa depan pangan Indonesia terancam?
Lahan Sulit Bukan Berarti Tak Bisa Digarap
Guru Besar Fakultas Pertanian dari IPB University, Prof. Trikoesoemaningtyas, melihat lahan suboptimum bukan sebagai hambatan, tapi peluang.
Menurutnya, solusi tidak selalu harus memperbaiki tanahnya. Bisa juga memperbaiki tanamannya.
Baca juga: Move On dari Beras, Saatnya Pangan Lokal Naik Kelas
Lewat pemuliaan tanaman, peneliti mengembangkan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem. Tanaman dirancang agar tetap produktif meski tumbuh di tanah masam atau wilayah panas.
Pendekatan ini memanfaatkan riset fisiologi dan genetika. Tujuannya jelas, menghasilkan varietas yang lebih adaptif, hemat input, dan tetap memberi hasil stabil bagi petani.
Sorgum, Alternatif yang Mulai Dilirik
Salah satu tanaman yang dikembangkan adalah sorgum. Tanaman ini sebenarnya sudah lama dikenal, tapi belum populer.
Baca juga: Krisis Lahan Sawah, Bisakah Indonesia Bertahan dengan Produksi Beras Lokal?
Padahal, kandungan proteinnya sekitar 11 persen, hampir setara gandum. Sorgum juga bisa diolah jadi tepung dan bersifat gluten free. Cocok untuk orang yang sensitif terhadap gluten.

Menariknya lagi, sorgum bisa tumbuh di tanah masam dan lahan kering. Bahkan berpotensi jadi bahan baku bioetanol dan biomassa energi.
Artinya, satu tanaman bisa punya dua fungsi, pangan dan energi.
Gandum Tropis, Bisa Tumbuh di Indonesia?
Selain sorgum, peneliti juga mengembangkan gandum tropika. Dua varietas, Guri-7-Agritan dan Guri-8-Agritan, sudah dilepas untuk ditanam di dataran menengah tropis.
Baca juga: Pangan Dunia Tersandera 9 Tanaman, Alarm Bahaya dari FAO
Selama ini gandum identik dengan negara subtropis. Tapi, riset menunjukkan tanaman ini bisa beradaptasi di ketinggian 400–600 mdpl di Indonesia.
Memang, produksinya belum cukup untuk menggantikan impor. Namun, riset ini membuka peluang baru.
Diversifikasi Jadi Kunci
Swasembada pangan bukan cuma soal memperluas lahan. Lahan ideal semakin terbatas. Perubahan iklim juga makin terasa.
Karena itu, diversifikasi komoditas dan pengembangan varietas adaptif jadi penting. Sorgum dan gandum tropis bisa jadi bagian dari solusi jangka panjang.
Baca juga: Masa Depan Pangan Indonesia Ada di Sayap Serangga
Separuh lahan kita mungkin tidak ideal. Tapi, bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana riset, kebijakan, dan industri bisa berjalan searah.
Masa depan pangan Indonesia bukan hanya soal berapa luas lahannya. Tapi, seberapa cerdas kita mengelolanya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.