
JAKARTA, mulamula.id – Suasana hangat terasa di Istana Merdeka, Kamis (19/3). Presiden Prabowo Subianto menerima Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam sebuah pertemuan yang sarat makna politik sekaligus simbol kebersamaan.
Momen ini berlangsung di hari ke-29 Ramadan, hanya beberapa saat sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah. Prabowo menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari silaturahmi antar pemimpin bangsa.
“Pertemuan ini melanjutkan silaturahmi antarpemimpin bangsa,” tulis Prabowo melalui unggahan di akun Instagram resminya.
Gestur Hangat di Beranda Istana
Pertemuan dimulai dari beranda Istana Merdeka. Prabowo menyambut langsung Megawati. Keduanya tampak santai. Senyum mengembang. Bahasa tubuh mereka mencairkan jarak politik yang selama ini kerap dibaca publik.
Megawati hadir dengan balutan batik biru. Sementara Prabowo mengenakan kemeja safari krem, gaya khas yang kini melekat pada dirinya sebagai presiden.
Saat berjalan menuju ruang dalam istana, Prabowo terlihat menggandeng Megawati. Gestur sederhana, tapi kuat secara simbolik. Publik membaca ini sebagai pesan stabilitas.

Lebaran dan Momentum Rekonsiliasi
Pertemuan ini tidak sekadar seremoni. Timing-nya penting. Ramadan selalu menjadi ruang sosial untuk meredakan ketegangan dan membuka komunikasi.
Apalagi, hubungan antara dua figur ini punya sejarah panjang dalam dinamika politik nasional. Pertemuan di momen menjelang Lebaran memperkuat narasi rekonsiliasi.
Dalam konteks politik pasca pemilu, sinyal seperti ini menjadi penting. Bukan hanya untuk elite, tapi juga untuk menjaga suhu publik tetap kondusif.
Keluarga Turut Mendampingi
Nuansa kekeluargaan juga terlihat dari kehadiran anggota keluarga. Putri Megawati, Puan Maharani, turut hadir. Begitu juga putra Prabowo, Didit Hediprasetyo.
Kehadiran mereka mempertegas bahwa pertemuan ini tidak hanya formal, tetapi juga personal. Lebih cair. Lebih manusiawi.

Sinyal ke Publik
Pertemuan Prabowo dan Megawati memberi satu pesan jelas, stabilitas politik tetap dijaga. Di tengah berbagai dinamika nasional, elite menunjukkan wajah yang lebih teduh.
Bagi generasi muda, momen seperti ini penting untuk dibaca bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah simbol bahwa komunikasi tetap terbuka, bahkan di antara tokoh dengan latar politik berbeda.
Di ujung Ramadan, publik disuguhi pemandangan yang jarang, yakni politik yang hangat, bukan panas. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.