Biaya Haji Turun Rp 2 Juta, Saat Avtur Justru Melonjak

Jamaah haji memadati Masjidil Haram, Makkah. Di tengah kenaikan biaya avtur, pemerintah memastikan biaya haji 2026 tetap turun. Foto: alharamainsa.

JAKARTA, mulamula.idDi saat biaya penerbangan melonjak, pemerintah justru mengambil arah berbeda. Presiden Prabowo Subianto memastikan biaya haji 2026 akan turun sekitar Rp 2 juta.

Keputusan ini datang di tengah kenaikan harga avtur yang signifikan. Dari sebelumnya Rp 13.656 per liter, kini melonjak ke Rp 23.551 per liter. Kenaikan ini biasanya langsung berdampak pada biaya perjalanan, termasuk ibadah haji.

Namun kali ini, pemerintah memilih menahan beban tersebut agar tidak sampai ke jamaah.

Menahan Tekanan Biaya

Prabowo menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar angka. Ini soal keberpihakan.

Pemerintah, kata dia, ingin memastikan biaya haji tetap terjangkau, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika biaya operasional meningkat.

“Walaupun harga avtur naik, kita berani turunkan biaya haji,” ujarnya dalam taklimat di Istana, Rabu (8/4/2026).

Baca juga: Haji Tetap Berjalan Meski Konflik Timur Tengah Memanas

Pesan yang ingin ditegaskan bahwa negara hadir untuk menahan tekanan biaya, bukan meneruskannya ke masyarakat.

Efek Domino dari Avtur

Kenaikan harga avtur bukan isu kecil. Dalam struktur biaya haji, komponen penerbangan menjadi salah satu yang paling besar.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengakui lonjakan harga ini dipicu dinamika global, terutama di kawasan Timur Tengah.

Dampaknya langsung terasa ke maskapai.

Baca juga: Kuota Haji 2026 Tetap 221 Ribu, Lebih Ramah untuk Perempuan

Garuda Indonesia sebagai pengangkut utama jamaah haji Indonesia harus menanggung biaya tambahan yang tidak kecil. Maskapai Arab Saudi juga mengalami tekanan serupa.

Artinya, secara logika ekonomi, biaya haji seharusnya naik.

Strategi Menjaga Keterjangkauan

Di sinilah letak keputusan politiknya.

Pemerintah memilih menyerap sebagian tekanan biaya tersebut. Tujuannya satu: menjaga keterjangkauan.

Baca juga: 25 Tahun ke Depan, Haji Tak Lagi Didominasi Musim Panas

Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa kebijakan haji tidak hanya mengikuti mekanisme pasar, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial.

Terutama karena haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan ibadah yang menyangkut jutaan umat.

Antara Komitmen dan Tantangan

Meski begitu, tantangan ke depan tidak ringan.

Jika harga avtur tetap tinggi atau bahkan naik, pemerintah harus mencari ruang fiskal atau efisiensi tambahan. Tanpa itu, tekanan bisa kembali muncul di tahun-tahun berikutnya.

Namun untuk 2026, arah kebijakan sudah jelas. Biaya ditekan. Jamaah dilindungi. Dan di tengah gejolak biaya global, keputusan ini menjadi langkah yang cukup berani. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *