
Mulamula.id – Platform media sosial X mulai keluar dari zona nyamannya. Bukan lagi hanya ruang opini publik, tapi masuk ke wilayah yang lebih sensitif, percakapan pribadi.
Aplikasi baru bernama XChat dijadwalkan meluncur pada 17 April 2026. Ini bukan sekadar fitur tambahan. Ini sinyal perubahan arah.
Dari Timeline ke Ruang Privat
Rencana awalnya sederhana. Elon Musk sempat menjanjikan pembaruan direct message (DM) dengan enkripsi dan arsitektur baru.
Namun, yang terjadi justru lebih besar.
Bukan memperbarui DM di dalam aplikasi utama, X memilih memisahkannya menjadi aplikasi mandiri. Strategi ini mengingatkan pada langkah Meta saat memisahkan Messenger dari Facebook, sebuah keputusan yang dulu menuai kritik, tapi kini menjadi standar industri.
Artinya jelas, X tidak lagi hanya ingin jadi platform konten. X ingin menguasai komunikasi end-to-end.
Fitur Bukan Lagi Pembeda
Secara fungsi, XChat tidak datang dengan sesuatu yang benar-benar baru. Namun, justru di situlah strateginya.
XChat menggabungkan fitur-fitur yang sudah menjadi ekspektasi pengguna saat ini. Mulai dari pesan dengan enkripsi end-to-end, panggilan suara dan video, hingga pengiriman dokumen dalam satu ekosistem yang terhubung langsung dengan akun X.
Pengguna juga diberi kontrol lebih atas percakapan mereka. Pesan bisa diedit atau dihapus untuk semua pihak, bahkan diatur untuk menghilang otomatis dalam lima menit. Ada pula opsi untuk memblokir tangkapan layar, fitur yang menargetkan kebutuhan privasi yang semakin sensitif.
Untuk komunikasi kelompok, XChat membuka ruang lebih luas. Satu grup bisa menampung hingga 481 anggota, angka yang cukup besar untuk mendukung komunitas digital yang aktif.
Dengan kata lain, X tidak mencoba menjadi berbeda lewat fitur. X mencoba menang lewat integrasi.
Privasi Jadi Senjata Baru
Yang menarik, X secara eksplisit menekankan dua hal: tanpa iklan dan tanpa pelacakan pengguna.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal data, ini bukan sekadar fitur. Ini positioning.
Pernyataan ini juga muncul tidak lama setelah Elon Musk menyindir kebijakan privasi WhatsApp. Ia menuduh platform tersebut tidak transparan soal enkripsi.
WhatsApp langsung membantah. Mereka menyebut klaim itu tidak masuk akal.
Namun di pasar teknologi, persepsi sering kali sama pentingnya dengan fakta.
Ekosistem, Bukan Aplikasi
Ada satu hal yang perlu dicatat. XChat hanya bisa digunakan oleh pengguna yang memiliki akun X.
Ini bukan kebetulan. Ini strategi.
X sedang membangun ekosistem tertutup, di mana publikasi konten dan percakapan privat terjadi dalam satu platform. Jika berhasil, pengguna tidak perlu lagi berpindah aplikasi.
Namun, ada tantangan besar.
Saat ini, XChat baru tersedia untuk iPhone dan iPad. Belum ada kepastian untuk Android, padahal mayoritas pengguna global, termasuk Indonesia, berada di platform tersebut.
Pertaruhan Besar X
Langkah X meluncurkan XChat menunjukkan satu hal, persaingan media sosial tidak lagi berhenti di timeline.
Platform kini berlomba menguasai seluruh siklus interaksi pengguna, dari membaca, berkomentar, hingga berbicara secara privat.
XChat adalah bagian dari ambisi itu.
Jika berhasil, X bisa menjadi platform komunikasi yang utuh. Jika gagal, ia hanya akan menjadi satu lagi aplikasi chat yang sulit menyaingi dominasi pemain lama.
Yang pasti, peta persaingan baru saja berubah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.