
JAKARTA, mulamula.id – Istilah “kuota hangus” kembali jadi sorotan. Di sidang Mahkamah Konstitusi (MK), operator seluler menegaskan, yang hilang bukan kuota, tapi masa berlaku layanan.
Pernyataan ini muncul dalam uji materi Undang-Undang Cipta Kerja di sektor telekomunikasi. Sidang menghadirkan sejumlah pemain besar, mulai dari Telkomsel, Indosat, hingga XL Axiata.
Akses, Bukan Kepemilikan
Bagi operator, cara kita memahami internet selama ini perlu diluruskan.
Vice President Simpati Product Marketing Telkomsel, Adhi Putranto, menegaskan bahwa layanan internet bukan barang yang bisa dimiliki.
“Yang diberikan kepada pelanggan adalah hak akses terhadap kapasitas jaringan dalam volume dan periode tertentu,” ujarnya di hadapan hakim MK.
Baca juga: Indonesia Resmi Jadi Negara Ponsel
Artinya sederhana. Saat membeli paket data, pengguna sebenarnya tidak membeli “barang” berupa kuota, melainkan izin menggunakan jaringan dalam batas tertentu.
Kenapa Kuota Bisa “Habis”?
Penjelasan operator cukup konsisten.
Menurut Machdi Fauzi dari Indosat, paket internet adalah hubungan kontraktual. Isinya mencakup tiga hal, yakni harga, volume data, dan masa berlaku.
Ketika masa aktif habis, akses otomatis berhenti. Bukan karena “kuota diambil”, tapi karena kontraknya selesai.
Baca juga: DPR Tekan Telkomsel, Saatnya Akhiri Era Kuota Internet Hangus
Hal yang sama ditegaskan oleh Sukaca Purwokardjono dari XL Axiata. Ia menyebut kuota hanyalah bagian dari sistem penagihan (billing system), bukan objek yang bisa dimiliki secara hukum.
“Yang diperjualbelikan adalah layanan, bukan barang,” katanya.
Industri Mahal, Persaingan Ketat
Operator juga membawa argumen lain, biaya.
Industri telekomunikasi disebut sebagai sektor padat modal. Infrastruktur jaringan, spektrum frekuensi, hingga maintenance membutuhkan investasi besar.
Baca juga: Q-Chip Bawa Internet Kuantum ke Dunia Nyata
Di sisi lain, kompetisi harga makin ketat. Paket murah jadi standar. Margin pun makin tipis.
Dalam konteks ini, model berbasis waktu dan volume dianggap paling realistis untuk menjaga keberlanjutan layanan.
Ada Untung dari Kuota Sisa?
Isu lain yang sering muncul, apakah operator untung dari kuota yang tidak terpakai?
Jawaban dari operator, tidak.
XL Axiata menegaskan tidak ada pendapatan tambahan dari sisa kuota pelanggan. Sistem hanya menghitung penggunaan selama masa aktif, tanpa “mengakumulasi” sisa data menjadi keuntungan.
Perspektif Konsumen vs Industri
Di titik ini, ada dua cara pandang yang berhadap-hadapan.
Di satu sisi, pengguna merasa membeli sesuatu yang “seharusnya bisa dipakai sampai habis”.
Di sisi lain, operator melihatnya sebagai layanan dengan batas waktu, mirip langganan.
Perdebatan ini yang kini diuji di MK. Putusan nantinya akan menentukan arah industri, apakah internet diposisikan sebagai barang, atau tetap sebagai jasa berbasis akses.
Satu hal yang pasti, internet sudah bukan lagi kebutuhan sekunder. Tapi, sudah menjadi kebutuhan dasar, dan bagaimana ia diatur akan berdampak langsung pada jutaan pengguna. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.