
JAKARTA, mulamula.id – Naik KRL di jam sibuk kadang bukan lagi soal duduk atau berdiri. Di beberapa jalur, penumpang bahkan harus berbagi ruang sangat sempit. Kondisi itu paling terasa di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung atau Green Line.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kini menyiapkan langkah baru. Jalur Tanah Abang-Rangkasbitung akan ditingkatkan kapasitas listriknya agar bisa dilalui rangkaian KRL 12 gerbong atau SF12.
Saat ini, jalur tersebut baru bisa melayani rangkaian 8 gerbong dan 10 gerbong. Padahal, jumlah penumpangnya terus naik. Pada jam sibuk, kepadatan di jalur Rangkasbitung disebut sudah mencapai 161 persen.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menggambarkan kondisi itu secara sederhana saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DP, di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (3/6). Dalam satu meter persegi, bisa ada sekitar delapan orang. Artinya, ruang gerak penumpang sudah sangat terbatas.
Kepadatan KRL tidak hanya terjadi di jalur Rangkasbitung. Jalur Bekasi juga mencatat okupansi sekitar 140 persen. Jalur Bogor berada di kisaran 130 persen. Namun, Green Line menjadi salah satu titik paling mendesak karena keterbatasan sarana dan daya listrik.
Listrik Jadi Kunci
Masalah utama di jalur Rangkasbitung bukan hanya jumlah kereta. KAI menyebut kapasitas listrik di jalur tersebut belum cukup untuk mengoperasikan rangkaian 12 gerbong.
Jalur Rangkasbitung memiliki kapasitas listrik sekitar 3.000 volt. Angka ini lebih rendah dibandingkan jalur Bogor dan Bekasi yang sudah berada di sekitar 4.000 volt.
Baca juga: LRT Jakarta Bisa Tembus PIK 2 dan Bandara
Karena itu, KAI akan meningkatkan daya Listrik Aliran Atas atau LAA. Pekerjaan peningkatan kapasitas listrik disebut akan dimulai dalam waktu dekat.
KAI juga menyiapkan tambahan 11 gardu traksi. Gardu ini berfungsi memperkuat pasokan listrik untuk operasional kereta. Dengan daya yang lebih besar, rangkaian KRL 12 gerbong diharapkan bisa masuk ke jalur Tanah Abang-Rangkasbitung.
Bagi penumpang, dampaknya bisa terasa langsung. Rangkaian yang lebih panjang berarti kapasitas angkut bertambah. Kepadatan di dalam kereta pun diharapkan berkurang, terutama pada pagi dan sore hari.
Sinyal Juga Di-upgrade
KAI tidak hanya mengurus listrik. Sistem persinyalan di jalur Rangkasbitung juga akan dimodernisasi.
Saat ini, persinyalan di jalur tersebut dinilai sudah tua. Sistem yang digunakan disebut masih berbasis blok tertutup. Kondisi ini membuat jarak antar kereta atau headway belum bisa dibuat terlalu rapat.
Baca juga: Ini Dia Transportasi Publik di Jakarta
Dengan sistem baru, KAI berharap headway bisa dipangkas. Jika saat ini jarak antar kereta masih sekitar 10 menit, ke depan jaraknya bisa lebih dekat. Targetnya mendekati jalur Bekasi dan Bogor yang berada di kisaran 3–4 menit.
Ini penting karena kepadatan KRL tidak hanya diselesaikan dengan menambah gerbong. Frekuensi perjalanan juga harus lebih rapat. Semakin sering kereta datang, semakin besar peluang penumpang tersebar ke lebih banyak perjalanan.
Ekspansi Layanan KRL
KAI juga menyiapkan rencana pengembangan layanan lain di sekitar Jabodetabek dan kawasan penyangga.
Salah satunya adalah perpanjangan layanan Commuter Line dari Cikarang hingga Cikampek. Proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp1,2 triliun.
Selain itu, jalur Bogor-Sukabumi juga direncanakan masuk pengembangan layanan KRL. Kebutuhan anggarannya diperkirakan mencapai Rp1,28 triliun.
Baca juga: Tanah Abang Level Up, Stasiun Baru Layani 380 Ribu Penumpang per Hari
Untuk mendukung penambahan rangkaian kereta, KAI juga akan memperluas depo di Rangkasbitung, Cikarang, dan Bogor. Total kebutuhan anggaran perluasan depo itu sekitar Rp900 miliar.
Depo menjadi bagian penting dari ekosistem KRL. Di sanalah rangkaian kereta disimpan, diperiksa, dan dirawat. Tanpa depo memadai, penambahan kereta baru tidak bisa berjalan optimal.
Karet-BNI City Disambungkan
Di sisi lain, KAI juga menyiapkan integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City. Jarak dua stasiun itu hanya sekitar 150 meter.
Menurut KAI, posisi Stasiun Karet saat ini membuat perjalanan kereta kurang efisien. Kereta baru berjalan sebentar, lalu harus berhenti lagi. Selain itu, area sekitar Stasiun Karet juga dinilai punya risiko kecelakaan lalu lintas cukup tinggi.
Karena itu, akses penumpang akan diarahkan melalui Stasiun BNI City. KAI berencana membangun selasar penghubung dan trotoar berjalan atau travelator.
Baca juga: Rel Kereta Disebut Tak Punya Medan Magnet yang Bisa Bikin Mobil Mogok
Dengan konsep ini, penumpang tetap bisa mengakses kawasan sekitar Karet, tetapi melalui fasilitas yang lebih aman dan nyaman. Gate masuk dan keluar nantinya akan dipusatkan di Stasiun BNI City.
Rencana ini menunjukkan satu hal penting. Masalah KRL Jabodetabek bukan hanya soal jumlah penumpang. Ada urusan listrik, sinyal, depo, integrasi stasiun, hingga keselamatan akses.
KRL sudah menjadi tulang punggung mobilitas jutaan warga. Karena itu, peningkatan layanan tidak bisa lagi ditunda terlalu lama. Terutama untuk jalur yang setiap hari menjadi ruang penuh sesak bagi pekerja, pelajar, dan warga komuter dari kawasan penyangga Jakarta. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.