
JAKARTA, mulamula.id – Dunia usaha Indonesia membuka tahun 2026 dengan sinyal yang tidak sepenuhnya positif. Tekanan datang bersamaan, dari dalam negeri yang belum pulih dan dari luar yang makin tak pasti.
Survei terbaru dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) melalui Business Pulse Kuartal I-2026 menunjukkan perubahan tajam dalam persepsi pelaku usaha. Sebanyak 40,5% responden menilai kondisi bisnis memburuk, naik dari 34,8% pada kuartal sebelumnya.
Sebaliknya, pelaku usaha yang melihat kondisi membaik turun signifikan menjadi 25,2% dari sebelumnya 39,3%. Pergeseran ini menandai satu hal: optimisme mulai terkikis.
Permintaan Tertahan, Biaya Menekan
Masalah utama datang dari dua sisi yang saling mengunci.
Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Permintaan tidak stabil. Di saat yang sama, biaya operasional terus naik. Harga bahan baku dan energi menekan margin usaha.
Kondisi ini membuat pelaku usaha harus bertahan di ruang sempit: menjaga produksi di tengah pasar yang belum pulih.
Tekanan global ikut memperumit. Gangguan distribusi dan fluktuasi harga komoditas membuat perencanaan bisnis makin sulit diprediksi.
Industri Ikut Melambat
Tekanan tidak hanya terjadi di level umum. Sektor industri juga menunjukkan tren yang sama.
Sebanyak 44,3% pelaku usaha industri menilai kondisi sektoral memburuk, naik dari 35,5%. Sementara itu, tingkat optimisme turun ke 22,9%.
Ini menandakan bahwa perlambatan tidak hanya terjadi di konsumsi, tetapi juga merambat ke produksi dan distribusi.

Investasi Mulai Ditahan
Sinyal kehati-hatian semakin terlihat dari rencana investasi.
Sebanyak 39% responden menyatakan tidak berencana melakukan investasi dalam enam bulan ke depan. Angka ini melonjak dari 24,5% pada kuartal sebelumnya.
Ketika investasi ditahan, itu bukan sekadar strategi jangka pendek. Ini cerminan keraguan terhadap arah ekonomi ke depan.
Hambatan Lama, Tekanan Baru
Sejumlah tantangan klasik masih membayangi dunia usaha.
Kebijakan dan program pemerintah menjadi perhatian utama dengan porsi 16,7%. Birokrasi tetap menjadi hambatan (14,3%). Sementara permintaan lemah masih signifikan di angka 11,4%.
Namun, tidak semua bergerak negatif.
Perkembangan pasar menjadi faktor positif terbesar (24,1%). Kemajuan teknologi juga memberi harapan baru dengan kontribusi 22%, seiring percepatan digitalisasi di berbagai sektor.
rapan pada Kebijakan
Memasuki Kuartal II-2026, pelaku usaha masih menaruh harapan pada pemerintah pusat.
Sebanyak 39,5% responden menilai kebijakan pemerintah akan menjadi faktor utama pendorong perbaikan. Selain itu, tren pasar internasional dan akses pembiayaan mulai menunjukkan sinyal positif.
Namun, harapan ini masih dibayangi ketidakpastian global.
Efek Geopolitik Meningkat
Dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, mulai terasa langsung ke dunia usaha.
Baca juga: PHK Awal 2026 Capai 8.389 Orang, Pemerintah Siapkan Sistem Deteksi Dini
Harga energi melonjak hingga 20,9%. Nilai tukar tertekan 16,2%. Permintaan juga melemah di angka yang sama.
Kombinasi ini memperbesar tekanan terhadap biaya produksi dan stabilitas usaha.
Strategi Bertahan
Di tengah kondisi ini, pelaku usaha mulai mengambil langkah adaptif.
Sebanyak 33,9% memilih melakukan efisiensi biaya operasional. Namun, 29,3% lainnya masih belum mengambil langkah khusus dan memilih menunggu perkembangan situasi.
Baca juga: Pasar Kerja Tertekan, Mengapa Pengangguran Indonesia Tertinggi di ASEAN?
Artinya, sebagian pelaku usaha masih berada dalam fase bertahan, bukan ekspansi.
Dukungan Jadi Kunci
Satu hal menjadi semakin jelas. Peran pemerintah akan sangat menentukan arah dunia usaha ke depan.
Pelaku usaha berharap pada kombinasi kebijakan yang konkret: insentif fiskal, kemudahan akses pembiayaan, stabilitas nilai tukar, serta kebijakan moneter yang responsif.
Tanpa itu, tekanan global berisiko berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam di dalam negeri. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.