
ADA tempat yang selalu kita sebut rumah.
Tempat pulang.
Tempat beristirahat.
Tempat di mana semuanya seharusnya terasa aman.
Namun, tidak semua orang merasakan rumah dengan cara yang sama.
Di Balik Pintu
Kita sering melihat rumah dari luar.
Rapi. Tenang.
Penuh aktivitas yang tampak biasa.
Di dalamnya, ada pekerjaan yang terus berjalan.
Menyapu. Memasak. Membersihkan. Merapikan.
Baca juga: Tidak Semua Tawa Itu Aman
Semua itu terasa seperti bagian dari keseharian.
Begitu biasa, sampai sering tidak lagi kita perhatikan.
Padahal, di balik pintu yang tertutup itu,
ada relasi yang tidak selalu seimbang.
Ada yang memerintah.
Ada yang mengerjakan.
Dan sering kali, tidak semua suara terdengar dengan cara yang sama.
Yang Terlambat Datang
Ketika Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga akhirnya disahkan,
itu datang sebagai kabar baik.
Sebuah pengakuan.
Bahwa kerja domestik adalah kerja.
Bahwa mereka yang selama ini bekerja di dalam rumah, juga memiliki hak.
Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli
Namun, hukum selalu punya jarak dengan kenyataan.
Hukum membutuhkan waktu untuk hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk benar-benar terasa.
Untuk benar-benar melindungi.
Dan kadang, waktu itu tidak selalu cukup cepat.
Ruang yang Sempit
Sehari setelah pengesahan itu, dua pekerja rumah tangga melompat dari lantai empat.
Bukan karena mereka ingin pergi jauh,
tapi karena mungkin tidak melihat jalan lain untuk keluar.
Kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka rasakan.
Tentang hari-hari yang dijalani.
Tentang kata-kata yang didengar.
Tentang tekanan yang tidak selalu terlihat.
Baca juga: Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan
Tidak semua kekerasan meninggalkan bekas yang mudah dilihat.
Tidak semua ketakutan punya suara yang cukup keras untuk didengar.
Dan di ruang yang terasa sempit,
pilihan bisa menjadi sangat terbatas.
Yang Tidak Kita Lihat
Kita sering berpikir bahwa perlindungan dimulai dari aturan.
Dari undang-undang.
Dari pasal-pasal yang tertulis rapi.
Padahal, mungkin juga dimulai dari cara kita melihat.
Baca juga: Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya
Cara kita memandang orang yang bekerja di rumah kita.
Cara kita berbicara.
Cara kita memperlakukan.
Karena tidak semua yang terlihat biasa, benar-benar baik-baik saja.
Dan tidak semua yang tampak tenang, benar-benar tanpa tekanan.

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman.
Namun mungkin, bagi sebagian orang,
rumah justru menjadi ruang yang paling sulit untuk ditinggalkan.
Baca juga: Ada Harga yang Tak Kita Hitung
Dan di antara harapan yang baru saja disahkan,
dan kenyataan yang masih terjadi,
ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul,
Jika rumah tidak selalu aman,
di mana seseorang bisa merasa benar-benar terlindungi?
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA