
JAKARTA, mulamula.id – Pemerintah tak mau lagi sekadar menunggu. Kini, strategi komunikasi diubah. Lebih cepat, lebih aktif, dan siap berbalas narasi di ruang publik.
Pendeknya, pemerintah kini memilih tidak lagi pasif, tetapi aktif membangun dan melawan narasi di ruang publik.
Langkah ini ditegaskan oleh M. Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang baru. Ia menyebut, pendekatan komunikasi ke depan akan lebih agresif, mengikuti dinamika era media sosial yang serba cepat.
Era Baru Komunikasi
Menurut Qodari, lanskap komunikasi saat ini sudah berubah drastis dibanding satu hingga dua dekade lalu. Media sosial membuat arus informasi tidak lagi satu arah.
Narasi bisa datang dari mana saja. Kritik muncul dalam hitungan detik. Respons pun dituntut secepat itu.
Dalam konteks ini, pemerintah tidak bisa lagi bersikap pasif. “Sekarang ini seperti ‘Your Words Against My Words’. Adu narasi,” kata Qodari, dalam acara serah terima jabatan Kepala Bakom RI dari Angga Raka Prabowo kepada Qodari di Kantor Bakom, Jakarta, Selasa (28/4).
Artinya, komunikasi publik kini menjadi arena terbuka. Siapa yang cepat dan kuat dalam menyampaikan pesan, berpotensi memengaruhi persepsi publik.
Bukan Sekadar Bertahan
Penunjukan Qodari bersama Hasan Nasbi sempat dibaca sebagai sinyal perubahan gaya komunikasi pemerintah.
Sejumlah pengamat menilai, pemerintah ingin tampil lebih ofensif di ruang publik.
Qodari tidak menampik tafsir tersebut. Ia justru melihat pendekatan agresif sebagai kebutuhan.
Baginya, ruang publik harus berimbang. Jika kritik terus mengalir tanpa respons, narasi bisa timpang. “Tidak bisa dibiarkan satu arah. Harus ada jawaban,” ujarnya.
Strategi di Tengah Polarisasi
Pendekatan ini mencerminkan realitas baru, ruang publik yang makin terfragmentasi.
Media sosial tidak hanya mempercepat informasi, tetapi juga memperbesar polarisasi. Setiap kelompok punya narasi sendiri.
Di titik ini, pemerintah mencoba mengambil posisi lebih aktif. Bukan hanya menjelaskan kebijakan, tetapi juga melawan narasi yang dianggap tidak tepat.
Namun, strategi ini punya konsekuensi.
Komunikasi yang terlalu agresif bisa memicu resistensi. Sebaliknya, terlalu pasif berisiko kehilangan kendali atas opini publik.
Di sinilah keseimbangan menjadi kunci.
Taruhan pada Persepsi Publik
Qodari tetap optimistis. Ia percaya program pemerintah di bawah Prabowo Subianto akan mendapat dukungan mayoritas masyarakat.
Dengan catatan, komunikasi dilakukan secara aktif dan konsisten.
Ia juga tak khawatir jika pernyataannya menuai perhatian luas. “Kalau ramai dibahas, tidak masalah,” ujarnya.
Karena di era sekarang, perhatian publik bukan lagi efek samping, melainkan bagian dari strategi itu sendiri. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.