Ciremai Simpan Jejak Gempa 20 Ribu Tahun, Kuningan Pernah Bergeser

Lanskap Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat. Di balik permukaannya yang tenang, tersimpan jejak aktivitas tektonik dan gempa sejak puluhan ribu tahun lalu. Foto: Dimasr 21/ Wikimedia.

KUNINGAN, mulamula.id Lapisan tanah di kaki Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, menyimpan cerita lama yang baru saja berhasil dibaca ulang. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti kuat aktivitas tektonik dan vulkanik yang terjadi puluhan ribu tahun lalu di wilayah Lingkar Timur Kuningan.

Temuan ini bukan sekadar membuka masa lalu. Tapi, memberi petunjuk baru tentang bagaimana bumi di wilayah ini bekerja, dan apa artinya bagi risiko di masa kini.

Lapisan Tanah Tak Lazim

Peneliti menemukan susunan lapisan yang tidak biasa. Endapan berumur sekitar 22 ribu tahun justru berada di atas lapisan yang lebih muda, sekitar 20 ribu tahun.

Dalam ilmu geologi, kondisi ini bukan hal yang normal.

Baca juga: Pegunungan Kini Memanas Lebih Cepat dari Dataran Rendah

Fenomena ini menjadi bukti adanya sesar naik, yakni dorongan dari dalam bumi yang mengangkat lapisan tua melewati lapisan yang lebih muda. Peristiwa ini diperkirakan terjadi setelah 20 ribu tahun lalu, menandakan adanya tekanan tektonik yang cukup besar di kawasan tersebut.

Jejak Gempa Purba

Temuan lain memperkuat gambaran itu. Peneliti juga mengidentifikasi adanya sesar normal pada endapan berumur sekitar 16 ribu tahun.

Fase ini menunjukkan adanya proses penyeimbangan setelah tekanan besar sebelumnya. Dalam konteks geologi, kondisi tersebut bisa menjadi jejak peristiwa gempa bumi besar di masa lampau.

Baca juga: Kalau Gunung Fuji Meletus, Begini Cara Jepang Lindungi Warganya

Artinya, wilayah Kuningan tidak hanya pernah mengalami aktivitas tektonik, tetapi juga melalui siklus deformasi yang kompleks.

Visual struktur geologi Gunung Ciremai dan jalur sesar di kawasan Kuningan berdasarkan pemetaan LiDAR. Data ini membantu peneliti membaca jejak aktivitas tektonik dan gempa di masa lalu. Sumber: BRIN.
Teknologi Baca Bumi

Untuk mengungkap temuan ini, tim peneliti memanfaatkan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR). Teknologi ini memungkinkan pemetaan permukaan bumi secara detail, bahkan di area yang tertutup vegetasi lebat.

Baca juga: Serasa di Nepal, Padahal di Magelang: Ini Dia Nepal Van Java

Hasilnya cukup jelas. Terlihat kemiringan lapisan tanah dan pola patahan yang sebelumnya sulit dikenali.

Data ini kemudian dipadukan dengan analisis radiokarbon untuk menentukan usia endapan. Dari sinilah peneliti menyusun ulang kronologi aktivitas geologi di kawasan Lingkar Timur Kuningan.

Ciremai Lebih dari Gunung Api

Selama ini, Gunung Ciremai dikenal sebagai gunung api aktif. Namun, riset ini menunjukkan bahwa wilayah sekitarnya memiliki sistem geologi yang jauh lebih kompleks.

Aktivitas vulkanik dan tektonik ternyata saling berkaitan. Endapan vulkanik yang terbentuk dari letusan masa lalu turut merekam pergerakan bumi di wilayah tersebut.

Baca juga: Perubahan Iklim Hancurkan Tradisi Salju 130 Tahun di Gunung Fuji

Peneliti juga menemukan indikasi bahwa sekitar 15 ribu tahun lalu pernah terjadi erupsi di kawasan ini, yang meninggalkan jejak pada lapisan tanah yang kini diteliti.

Penting untuk Hari Ini

Temuan ini punya implikasi yang tidak kecil. Data geologi seperti ini bisa menjadi dasar untuk menyusun tata ruang yang lebih aman, membaca pola berulang gempa darat, hingga memperkuat sistem peringatan dini berbasis risiko.

Dengan kata lain, masa lalu memberi petunjuk penting untuk masa depan.

Baca juga: Kayu yang Tak Sekadar Tradisional, Kini Tahan Gempa dan Api

Semakin banyak data umur batuan yang terungkap, semakin jelas pula pola kegempaan yang bisa dipahami. Ini membuka peluang untuk menekan risiko bencana, terutama di wilayah dengan kompleksitas geologi tinggi seperti Kuningan dan sekitarnya.

Riset ini sekaligus menjadi pengingat sederhana. Bumi selalu bergerak, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *