
KITA hidup di zaman ketika semua orang bisa berbicara.
Setiap saat.
Setiap menit.
Dari mana saja.
Satu pernyataan muncul.
Lalu disusul klarifikasi.
Kemudian muncul penjelasan lain yang arahnya berbeda.
Semua terasa cepat.
Semua terasa ingin segera didengar.
Namun, entah sejak kapan, semakin banyak suara muncul, semakin sulit kita benar-benar memahami mana yang perlu didengarkan.
Terlalu Banyak Suara
Di era media sosial, satu kalimat bisa bergerak lebih cepat daripada penjelasan panjang.
Masalahnya, kita tidak lagi hidup dalam ruang yang tenang.
Semua orang berbicara bersamaan.
Lembaga berbicara.
Pejabat berbicara.
Komentar datang dari berbagai arah.
Baca juga: Negara Perlu Protokol Komunikasi
Kadang nadanya tidak sama.
Kadang maksudnya berbeda.
Kadang publik justru sibuk menerjemahkan siapa sebenarnya yang sedang mewakili negara.
Dan pelan-pelan, kebisingan itu berubah menjadi kelelahan.
Yang Hilang di Tengah Ramai
Mungkin, masalah terbesar hari ini bukan kurangnya informasi.
Justru sebaliknya.
Kita dibanjiri terlalu banyak pernyataan.
Terlalu banyak respons cepat.
Terlalu banyak opini yang muncul hampir bersamaan.
Akibatnya, ada sesuatu yang perlahan hilang, kejelasan.
Baca juga: Aksara: Kita Tak Kehilangan Informasi, Kita Kehilangan Kejernihan
Publik akhirnya tidak hanya bertanya apa yang benar,
tetapi juga siapa yang sebenarnya harus dipercaya.
Dan ketika terlalu banyak suara hadir tanpa arah yang sama, orang perlahan berhenti mendengar dengan sungguh-sungguh.
Negara dan Nada Suara
Dalam ruang publik modern, komunikasi bukan lagi sekadar soal bicara.
Komunikasi adalah cara negara menghadirkan dirinya.
Cara menjelaskan keputusan.
Cara menenangkan situasi.
Cara memastikan bahwa publik tidak merasa berjalan sendirian di tengah ketidakpastian.
Karena itu, ketika satu isu dijawab dengan banyak nada berbeda, yang terganggu bukan hanya pesan.
Baca juga: Aksara: Semua Ingin Didengar, tapi Sedikit yang Mau Mendengar
Tapi, juga rasa percaya.
Publik mulai melihat negara bukan sebagai satu arah yang utuh,
melainkan kumpulan suara yang saling bersahutan.
Belajar Mendengar Lagi
Mungkin, kita semua sedang hidup di masa yang terlalu ramai.
Terlalu cepat bereaksi.
Terlalu ingin segera menjawab.
Terlalu takut untuk diam sejenak.
Padahal, tidak semua hal harus langsung dibalas dalam hitungan menit.
Baca juga: Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya
Kadang, yang dibutuhkan justru jeda.
Ruang untuk memastikan bahwa kata-kata yang keluar benar-benar punya arah.
Karena di tengah dunia yang semakin bising,
kemampuan untuk berbicara dengan tenang mungkin menjadi sesuatu yang semakin langka.

Mungkin, masalahnya bukan karena negara terlalu banyak berbicara.
Tapi, karena publik terlalu sering mendengar nada yang berbeda dari arah yang seharusnya sama.
Dan di tengah semua suara itu, ada satu pertanyaan yang perlahan muncul:
Jika semua orang terus berbicara bersamaan,
siapa yang sebenarnya masih benar-benar mendengar?
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA