
JAKARTA, mulamula.id – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi hanya membaca kata. Teknologi ini mulai belajar memahami emosi, opini, bahkan konflik perasaan manusia di ruang digital.
Di Indonesia, riset itu mulai dikembangkan serius oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Fokusnya bukan sekadar mendeteksi komentar positif atau negatif, tetapi membaca situasi ketika publik memiliki dua emosi berbeda terhadap satu isu dalam waktu bersamaan.
Fenomena ini disebut sebagai sentimen konflik. Dan di era media sosial, kondisinya makin sering muncul.
Seseorang bisa mendukung kebijakan pemerintah, tetapi sekaligus kecewa pada cara pelaksanaannya. Publik dapat menyukai sebuah produk, namun tetap marah terhadap layanan purnajualnya. Di sinilah AI konvensional sering gagal membaca konteks.
Baca juga: AI Hukum Buatan Indonesia Dipakai Jepang, Kenapa Belum Laku di Dalam Negeri?
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN bidang Natural Language Processing (NLP), Nuryani, menjelaskan analisis sentimen kini berkembang lebih detail melalui pendekatan aspect-based sentiment analysis atau ASBA.
ASBA adalah metode analisis AI yang mampu membaca opini publik berdasarkan aspek tertentu dalam satu kalimat atau percakapan.
“Dengan analisis sentimen, para pengambil kebijakan dapat meningkatkan kualitas layanan, memantau reputasi, hingga memahami respons masyarakat terhadap suatu isu,” ujar Nuryani dalam webinar Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi (DESAIN) #4, dikutip dari laman resmi BRIN.
Membaca Emosi Campuran
Berbeda dari analisis sentimen biasa yang hanya memberi label positif, negatif, atau netral, pendekatan ASBA mencoba memahami detail opini dalam satu isu.
Masalahnya, emosi publik tidak selalu hitam putih.
Dalam banyak kasus, satu komentar bisa mengandung pujian sekaligus kritik. Kondisi ini membuat AI sulit mengambil kesimpulan akurat.
Baca juga: Negara Perlu Protokol Komunikasi
Nuryani menyebut sebagian besar penelitian AI masih terbatas pada klasifikasi sederhana dua atau tiga kelas sentimen. Akibatnya, sentimen konflik sering diabaikan.
Padahal, kondisi itu justru banyak ditemukan di ruang digital Indonesia.
Media sosial kini dipenuhi opini bercampur. Mulai dari respons terhadap kebijakan pemerintah, layanan publik, harga kebutuhan pokok, hingga isu sosial dan politik.
AI yang gagal membaca konteks bisa menghasilkan kesimpulan keliru.

AI Belajar Konteks
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan pendekatan berbasis model Bidirectional Encoder Representations from Transformers atau BERT.
BERT adalah model AI pemrosesan bahasa yang dirancang untuk memahami konteks kata secara lebih mendalam dalam sebuah kalimat.
Lewat pendekatan ini, satu aspek dapat memiliki representasi sentimen positif dan negatif secara bersamaan. Dengan kata lain, AI diajarkan memahami bahwa manusia sering memiliki perasaan yang kompleks terhadap satu isu.
Baca juga: Di Balik Kecerdasan AI, Ada Listrik dan Air yang Terus Terkuras
BRIN juga memanfaatkan synthetic data generation atau pembangkitan data sintetis untuk memperkuat kemampuan model AI.
Teknik ini memakai model bahasa besar seperti Llama, Gemma, dan Mixtral untuk menciptakan data pelatihan tambahan. Langkah tersebut penting karena riset AI Indonesia masih menghadapi keterbatasan dataset lokal.
“Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan performa model secara signifikan dalam mengidentifikasi sentimen konflik, terutama pada dataset dengan sumber daya terbatas,” kata Nuryani.
Penting untuk Kebijakan
Riset ini bukan sekadar eksperimen laboratorium.
Teknologi NLP kini mulai menjadi alat penting dalam membaca dinamika sosial secara real time. Pemerintah, perusahaan, hingga platform digital semakin membutuhkan sistem yang mampu memahami opini publik secara cepat dan akurat.
AI analisis sentimen dapat membantu pemerintah dan perusahaan membaca respons masyarakat secara lebih detail, termasuk emosi yang saling bertabrakan dalam satu isu.
Kepala PRSDI BRIN, Esa Prakasa, mengatakan pengembangan AI Indonesia harus tetap memperhatikan konteks budaya lokal dan kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Apakah SEO akan Bertahan di Era AI Search?
Menurutnya, teknologi tidak cukup hanya canggih secara teknis. AI juga harus relevan dengan karakter sosial Indonesia.
“Pemanfaatan data teks dari berbagai platform digital menjadi kunci dalam memahami dinamika masyarakat secara lebih komprehensif,” ujar Esa.
Di tengah banjir percakapan digital setiap hari, kemampuan membaca emosi publik bisa menjadi aset strategis baru. Bukan hanya untuk bisnis, tetapi juga untuk kebijakan publik yang lebih responsif.
Karena di era AI, memahami manusia ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar membaca kata.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.