
JAKARTA, mulamula.id – Rel kereta api kembali jadi sorotan setelah muncul berbagai spekulasi soal mobil mogok di perlintasan. Sebagian orang menduga ada medan magnet besar di rel yang bisa “mematikan” sistem elektronik kendaraan.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai anggapan itu tidak didukung hasil pengukuran ilmiah.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, menjelaskan bahwa medan elektromagnetik di rel kereta masih berada dalam batas aman dan tidak cukup kuat untuk merusak sistem elektronik kendaraan modern.
Pernyataan itu disampaikan dalam Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (13/5).
Medan elektromagnetik adalah energi yang muncul dari aliran listrik atau pergerakan arus listrik. Dalam kehidupan sehari-hari, medan seperti ini juga muncul pada peralatan elektronik rumah tangga hingga jaringan listrik.
Tak Seberapa Kuat
Mengutip laman resmi BRIN, hasil pengukuran di jalur kereta menunjukkan medan magnet tertinggi hanya sekitar 82,6 gauss. Angka itu dinilai masih jauh dari level yang dapat merusak komponen elektronik kendaraan.
Sebagai perbandingan, magnet kulkas bisa mencapai sekitar 5.000 mikrotesla atau 5 gauss. Sementara mesin MRI di rumah sakit bahkan mampu menghasilkan medan magnet hingga 1,5 sampai 3 tesla.
Baca juga: Rel Licin Bisa Picu Kecelakaan, BRIN Siapkan Teknologi Baru
“Semua pengujian yang dilakukan tidak menunjukkan adanya medan magnet besar di rel kereta,” kata Eka.
BRIN juga menjelaskan bahwa sistem rel kereta, terutama pada jalur KRL, telah dilengkapi grounding atau pembumian. Sistem ini membuat arus listrik langsung dialirkan kembali ke tanah sehingga tidak terjadi akumulasi medan listrik atau medan magnet dalam jumlah besar.

Kendaraan Modern Sudah Diuji
Eka mengatakan kendaraan modern saat ini sudah dirancang tahan terhadap gangguan elektromagnetik.
Produsen otomotif, kata dia, melakukan pengujian electromagnetic compatibility (EMC) sebelum kendaraan dipasarkan. Dalam pengujian itu, mobil ditempatkan di ruang khusus lalu dipaparkan gelombang elektromagnetik untuk memastikan seluruh sistem elektronik tetap bekerja normal.
Artinya, sistem kendaraan masa kini memang dibuat agar tidak mudah terganggu oleh paparan elektromagnetik dari lingkungan sekitar.
Baca juga: Standar Diuji Amerika, Lab BRIN Jadi Penentu Nasib Ekspor Pangan Indonesia
Karena itu, BRIN menilai penyebab mobil mogok di perlintasan lebih mungkin dipicu faktor teknis kendaraan atau kesalahan pengemudi.
Beberapa kemungkinan yang disebut antara lain panic stall pada mobil manual, gangguan kabel atau konektor akibat getaran rel yang tidak rata, hingga anomali sistem kendaraan.
AI Mulai Didorong
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap keselamatan perlintasan, BRIN juga mendorong penggunaan teknologi yang lebih modern di sistem perkeretaapian nasional.
Salah satunya melalui penguatan sistem persinyalan berbasis Artificial Intelligence (AI).
AI atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer membaca pola, menganalisis kondisi, lalu membantu pengambilan keputusan secara otomatis dan cepat.
BRIN menilai teknologi AI dapat membantu meningkatkan akurasi deteksi perjalanan kereta, terutama jika dikombinasikan dengan sensor tambahan seperti axle counter. Sensor ini digunakan untuk menghitung jumlah gandar kereta yang melintas sehingga posisi perjalanan kereta bisa dipantau lebih presisi.
Baca juga: AI Mulai Belajar Memahami Emosi Publik Indonesia
Selain teknologi, BRIN juga menyoroti persoalan klasik di lapangan. Mulai dari perangkat keselamatan yang dirusak atau dicuri hingga masih banyaknya perlintasan liar yang digunakan masyarakat.
Menurut Eka, penutupan perlintasan liar dan penguatan keamanan perangkat lapangan tetap menjadi langkah penting untuk menekan risiko kecelakaan di jalur kereta. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.