
DULU, orang tua takut anaknya pulang terlalu malam. Takut salah pergaulan. Takut merokok diam-diam di belakang sekolah.
Hari ini, ketakutan itu berubah bentuk.
Anak-anak kini bisa bersentuhan dengan perjudian tanpa harus pergi ke mana-mana. Tidak perlu meja kasino. Tidak perlu lorong gelap. Tidak perlu bandar di sudut kota.
Cukup layar kecil di tangan mereka.
Cukup satu iklan yang muncul di media sosial.
Cukup satu tautan yang dikirim teman.
Dan semuanya bisa masuk diam-diam ke kamar tidur.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut hampir 200 ribu anak Indonesia telah terpapar judi online. Yang paling mengganggu, sekitar 80 ribu di antaranya bahkan masih berusia di bawah 10 tahun.
Angka itu bukan sekadar statistik digital.
Itu terdengar seperti alarm tentang sesuatu yang sedang retak dalam cara anak-anak tumbuh hari ini.
Masa Kecil Baru
Generasi hari ini lahir dalam dunia yang berbeda. Mereka mengenal layar bahkan sebelum mengenal halaman rumah. Belajar menyentuh ponsel sebelum belajar menulis tangan.
Di tengah dunia seperti itu, batas antara permainan, hiburan, dan jebakan digital menjadi semakin kabur.
Banyak aplikasi kini bekerja dengan logika yang mirip perjudian. Hadiah acak, sensasi menang, notifikasi yang memancing rasa penasaran, hingga dorongan untuk terus mencoba lagi setelah kalah.
Anak-anak mungkin belum memahami probabilitas. Belum mengerti uang. Belum paham risiko finansial.
Baca juga: Tidak Semua Rumah Adalah Rumah
Tetapi, otak mereka sudah mulai mengenal sensasi taruhan.
Sensasi menunggu keberuntungan.
Sensasi kalah dan ingin membalas.
Sensasi “sekali lagi mungkin menang”.
Dan di situlah masalah sebenarnya bermula.
Judi online tidak selalu masuk sebagai sesuatu yang tampak menyeramkan. Kadang datang dengan warna cerah, suara lucu, bonus gratis, atau tampilan yang terasa seperti gim biasa.
Anak-anak sering tidak sadar bahwa mereka sedang diperkenalkan pada mekanisme candu.
Rumah yang Bocor
Yang membuat situasi ini lebih rumit, banyak orang tua merasa ancaman terbesar masih ada di luar rumah.
Padahal sekarang, ancaman justru masuk lewat internet rumah sendiri.
Lewat ponsel yang dipinjamkan agar anak tenang.
Baca juga: Aksara | Harga Sebuah Kursi
Lewat media sosial yang terus menyodorkan algoritma tanpa benar-benar peduli usia pengguna.
Lewat iklan yang muncul berulang-ulang karena sistem digital membaca perhatian manusia sebagai komoditas.
Judi online bekerja seperti jebakan yang sabar.

Judi online tidak selalu meminta uang besar di awal. Kadang justru memberi kemenangan kecil agar pemain merasa beruntung. Setelah itu, sistem perlahan membuat orang terus kembali.
Menteri Meutya Hafid menyebut judi online sebagai scam yang memang dirancang agar pemain kalah dalam jangka panjang.
Masalahnya, banyak anak belum cukup matang untuk memahami bahwa sistem itu sejak awal memang tidak dibuat agar mereka menang.
Mereka hanya diajak terus bermain.
Terus mencoba.
Terus berharap.
Keluarga yang Lelah
Dampak judi online sebenarnya tidak berhenti pada kehilangan uang.
Yang ikut terkuras sering kali adalah ketenangan rumah.
Banyak keluarga mulai hidup dalam emosi yang pendek. Orang tua mudah marah. Anak-anak semakin tertutup. Hubungan di rumah terasa dingin meski semua orang berada di ruangan yang sama.
Dalam banyak kasus, judi online bahkan memicu utang, kebohongan, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Baca juga: Aksara: Buku yang Didengar, Bukan Dibaca
Ironisnya, sebagian besar kehancuran itu terjadi tanpa suara besar.
Tidak ada kaca pecah.
Tidak ada alarm.
Semuanya berjalan perlahan.
Sampai suatu hari orang tua sadar ada uang yang hilang, tagihan yang membengkak, atau anak yang berubah terlalu cepat.
Dan sering kali, saat itu semuanya sudah telanjur jauh.
Benteng Terakhir
Pemerintah memang terus melakukan pemblokiran situs dan takedown konten judi online. Platform digital juga mulai diminta lebih agresif menurunkan iklan dan promosi perjudian.
Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli
Tetapi, masalah ini tampaknya tidak akan selesai hanya dengan menutup situs.
Karena yang sedang kita hadapi bukan cuma teknologi.
Melainkan juga kesepian, pengawasan yang longgar, rasa penasaran anak-anak, dan dunia digital yang terlalu cepat bergerak dibanding kemampuan orang dewasa memahaminya.
Di titik ini, rumah mungkin kembali menjadi benteng terakhir yang paling penting.
Bukan benteng yang penuh larangan dan kemarahan.
Tetapi ruang yang membuat anak masih merasa didengar, ditemani, dan tidak mencari pelarian sendirian di internet.
Sebab mungkin bahaya terbesar judi online bukan cuma uang yang hilang.
Melainkan masa kecil yang perlahan berubah menjadi ruang transaksi, candu, dan taruhan.
Dan mungkin pertanyaan paling sunyi dari semua ini adalah, kalau anak-anak sudah terlalu cepat mengenal sensasi taruhan, apakah mereka masih sempat menikmati masa kecilnya dengan utuh?
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA