Traveler Makin Berani Bayar Mahal demi Liburan Impian

Traveler makin berani menyiapkan anggaran lebih besar untuk mengejar pengalaman liburan premium dan sekali seumur hidup. Foto: Dave Garcia/ Pexels.

Mulamula.id Liburan tidak lagi sekadar pindah tempat. Bagi banyak traveler, perjalanan kini menjadi cara membeli pengalaman yang sulit diulang.

Karena itu, harga mahal tidak selalu membuat orang mundur. Sebagian justru rela menata ulang pengeluaran agar bisa pergi ke destinasi impian.

Tren ini terlihat dari data terbaru Squaremouth, platform pembanding asuransi perjalanan. Dari 6.000 pelanggan yang disurvei, 45 persen mengaku menaikkan anggaran perjalanan untuk 2026. Lebih dari separuh responden juga memangkas pengeluaran lain demi membiayai rencana liburan mereka.

Yang menarik, penghematan itu bukan untuk perjalanan hemat. Sebanyak 23 persen responden justru ingin membayar lebih untuk pengalaman premium atau bucket-list travel. Artinya, mereka tidak sekadar ingin pergi. Mereka ingin perjalanan yang terasa besar, langka, dan layak dikenang.

Mahal karena Jauh

Destinasi paling mahal pada 2026 didominasi tempat yang sulit dijangkau. Ada wilayah kutub, pulau tropis premium, hingga destinasi safari dan wildlife.

Squaremouth menyusun indeks ini dari beberapa komponen biaya. Mulai dari biaya perjalanan harian, tiket pesawat ekonomi, akomodasi, sewa mobil, hingga harga makanan dan minuman sehari-hari. Data tiket mengacu pada Google Travel Flights, sedangkan biaya penginapan memakai data KAYAK.

Baca juga: ‘Microtrip’ Internasional Jadi Tren, Gen Z Liburan Tanpa Cuti Panjang

Hasilnya, Greenland menempati posisi pertama sebagai destinasi paling mahal. Biaya perjalanan hariannya rata-rata mencapai 1.171 dolar AS. Faktor yang membuat mahal bukan hanya tiket pesawat, tetapi juga biaya sewa mobil, makanan, dan akses logistik yang terbatas.

Di bawah Greenland, ada British Virgin Islands, French Polynesia, Antarctica, dan Maldives. Nama-nama ini punya pola serupa. Jauh. Eksklusif. Punya daya tarik visual yang kuat. Dan sering dipasarkan sebagai pengalaman sekali seumur hidup.

Pengalaman Jadi Alasan

USA Today, yang ikut mengulas laporan ini, menyoroti bahwa banyak traveler kini rela membayar lebih untuk perjalanan impian, bukan sekadar liburan biasa. Dalam konteks ini, biaya tinggi dianggap sepadan jika

perjalanan memberi memori, pengalaman, dan cerita yang tidak mudah diganti.

Antarctica menjadi contoh paling jelas. Perjalanan ke benua es itu rata-rata menelan biaya 27.195 dolar AS untuk 18 hari. Perhitungannya menggunakan Ushuaia, Argentina, sebagai kota gerbang utama ekspedisi.

Namun, jika dihitung per hari, Rwanda menjadi salah satu yang paling mahal. Biaya hariannya mencapai sekitar 1.609 dolar AS. Ini menunjukkan bahwa mahalnya perjalanan tidak selalu ditentukan oleh durasi. Kadang, itinerary pendek justru lebih mahal karena aktivitasnya sangat khusus.

Safari di Afrika juga masuk dalam pola serupa. Zimbabwe dan Botswana berada dalam daftar 10 besar. Perjalanan seperti ini biasanya melibatkan lokasi terpencil, pemandu khusus, akomodasi premium, dan akses terbatas ke kawasan konservasi.

Liburan Jadi Prioritas Baru

Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara orang melihat perjalanan. Liburan bukan lagi sisa anggaran setelah kebutuhan lain terpenuhi. Bagi sebagian traveler, liburan justru menjadi prioritas emosional.

Mereka mungkin mengurangi belanja lain. Menunda pembelian barang. Atau memangkas gaya hidup harian. Tetapi, ketika menyangkut perjalanan besar, mereka mau membayar lebih.

Ini juga menjelaskan mengapa destinasi premium tetap diminati meski biaya hidup global masih menekan banyak rumah tangga. Traveler tidak hanya menghitung harga. Mereka juga menghitung nilai pengalaman.

Baca juga; Wisata 2026 Berubah Arah, dari Destinasi ke Pengalaman

Bagi industri pariwisata, tren ini memberi sinyal penting. Destinasi mahal tetap punya pasar jika mampu menawarkan pengalaman yang jelas, unik, aman, dan sulit ditemukan di tempat lain.

Namun bagi traveler, tren ini juga menjadi pengingat. Perjalanan impian tetap perlu perencanaan matang. Tiket, hotel, asuransi, transportasi lokal, makanan, dan risiko pembatalan harus dihitung sejak awal.

Sebab, semakin mahal sebuah perjalanan, semakin besar pula risiko kerugian jika rencana berubah.

Pada akhirnya, liburan mahal bukan hanya soal gengsi. Dalam banyak kasus, itu adalah cara orang membeli cerita. Cerita tentang tempat jauh, pengalaman langka, dan momen yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *