Suara Bisa Ditiru AI, Lansia Jadi Sasaran Scam

Ilustrasi lansia menerima panggilan telepon. AI kini bisa dipakai untuk meniru suara dan menipu korban. Foto: SHVETS Production/ Pexels.

Jakarta, mulamula.idPenipuan digital makin naik kelas. Pelaku tidak lagi hanya mengirim pesan palsu, tautan mencurigakan, atau menawarkan investasi bodong. Kini, suara seseorang pun bisa ditiru dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Korban yang paling rentan adalah lansia.

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi mengingatkan, banyak masyarakat lanjut usia menjadi sasaran scam digital berbasis AI. Modusnya terdengar sederhana, tetapi efeknya bisa sangat serius.

Pelaku bisa meniru suara pejabat, kerabat, atau orang yang dipercaya korban. Setelah itu, suara palsu diputar dalam panggilan telepon untuk meyakinkan korban agar mengirim uang, membagikan data pribadi, atau mengikuti instruksi tertentu.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut, penipuan dengan menyamar sebagai orang lain menjadi salah satu modus paling berbahaya. Ia menyoroti banyak lansia yang menjadi korban scam dan spam karena mudah percaya pada suara yang terdengar familiar.

Masalahnya, teknologi AI membuat batas antara asli dan palsu makin kabur. Dulu, orang bisa curiga dari gaya bicara atau kualitas suara. Sekarang, suara palsu bisa terdengar lebih natural.

Kerugian Scam Capai Rp7,5 Triliun

Komdigi menyebut angka kerugian akibat penipuan digital di Indonesia mencapai sekitar Rp7,5 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa scam bukan lagi gangguan kecil di layar ponsel.

Ini sudah menjadi masalah ekonomi digital.

Korban tidak hanya kehilangan uang. Mereka juga bisa kehilangan rasa aman, kepercayaan pada layanan digital, bahkan mengalami tekanan psikologis. Pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena sebagian korban tidak terbiasa menghadapi pola manipulasi digital yang bergerak cepat.

Baca juga: AI Bisa Tiru Suaramu, Jangan Asal Angkat Telepon!

Pemerintah kini mendorong perusahaan telekomunikasi memperkuat perlindungan konsumen. Salah satunya lewat fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi maupun sistem lain yang bisa mendeteksi panggilan atau pesan mencurigakan.

Perusahaan telekomunikasi juga diminta melakukan asesmen mandiri. Artinya, setiap perusahaan perlu memilih sistem perlindungan yang sesuai dengan layanan dan model bisnis masing-masing.

Namun, teknologi perlindungan saja tidak cukup. Literasi digital tetap menjadi kunci. Apalagi, modus penipuan terus berubah mengikuti kebiasaan pengguna.

Fake Call Makin Mengkhawatirkan

Data Indonesia Anti-Scam Center atau IASC juga menunjukkan skala masalah yang besar. Sepanjang November 2024 hingga Mei 2026, IASC menerima 579.459 laporan pengaduan penipuan dari seluruh Indonesia.

Wilayah dengan laporan tertinggi adalah Jawa Barat dengan 119.750 laporan. DKI Jakarta menyusul dengan 84.845 laporan.

Dari berbagai modus yang masuk, penipuan transaksi belanja menjadi yang paling banyak dilaporkan, yakni 77.740 laporan. Modus ini biasanya memanfaatkan transaksi online, toko palsu, atau pembayaran yang diarahkan ke rekening penipu.

Baca juga: Sindikat Love Scam Berbasis AI Terbongkar, 27 WNA Diciduk di Tangerang

Modus impersonation atau fake call juga menonjol dengan 47.269 laporan. Dalam modus ini, pelaku menyamar sebagai pihak lain melalui panggilan telepon. Kehadiran AI membuat pola ini makin berisiko karena suara palsu bisa membuat korban lebih percaya.

Selain itu, ada penipuan investasi dengan 26.649 laporan. Modus ini biasanya menjual janji keuntungan cepat. Ada pula penipuan lowongan kerja palsu dengan 23.910 laporan, serta penipuan media sosial dengan 20.469 laporan.

Semua modus ini punya pola yang mirip. Pelaku menciptakan rasa panik, mendesak korban mengambil keputusan cepat, lalu meminta uang atau data pribadi.

Gen Z Bisa Jadi Pelindung Keluarga

Isu scam AI sebenarnya bukan hanya urusan lansia. Gen Z juga punya peran penting.

Banyak anak muda menjadi anggota keluarga yang paling paham teknologi. Mereka bisa membantu orang tua dan kakek-nenek mengenali tanda bahaya penipuan digital.

Misalnya, jangan langsung percaya pada panggilan yang meminta uang secara mendadak. Jangan membagikan kode OTP, PIN, password, atau data kartu identitas. Jika ada telepon mengaku dari pejabat, bank, keluarga, atau perusahaan tertentu, lakukan verifikasi lewat nomor resmi atau hubungi orang yang bersangkutan melalui jalur berbeda.

Baca juga: Sering Ditelepon Nomor Asing? Ini Cara Deteksi Scam dan Spam di HP Kamu

Keluarga juga bisa membuat “kode aman”. Misalnya, satu kata atau pertanyaan khusus yang hanya diketahui anggota keluarga. Cara sederhana ini bisa membantu membedakan panggilan asli dan palsu, terutama ketika suara sudah bisa dimanipulasi AI.

Di tengah perkembangan AI, kemampuan untuk ragu secara sehat menjadi penting. Tidak semua suara yang terdengar akrab benar-benar datang dari orang yang dikenal.

Teknologi memang membuat hidup makin praktis. Namun, teknologi yang sama juga bisa dipakai untuk menipu. Karena itu, perlindungan digital tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, OJK, polisi, atau perusahaan telekomunikasi.

Perlindungan itu juga dimulai dari rumah.

Satu panggilan telepon bisa terlihat biasa. Tetapi, di era AI, satu panggilan juga bisa menjadi pintu masuk penipuan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *