Orang Muka Dua Sering Terlihat Paling Baik

Sikap ramah tidak selalu menunjukkan niat yang sama di baliknya. Konsistensi perilaku menjadi cara penting membaca karakter seseorang. Ilustrasi: AI-generated/ mulamula.id.

ADA orang yang mudah dikenali ketika sedang marah, iri, atau tidak menyukai kita.

Namun, ada pula yang jauh lebih sulit dibaca.

Mereka ramah di depan banyak orang. Tutur katanya lembut. Sikapnya tampak penuh perhatian. Akan tetapi, setelah berinteraksi cukup lama, kita justru sering merasa lelah, bersalah, atau meragukan diri sendiri.

Inilah yang kerap disebut sebagai perilaku bermuka dua.

Masalahnya bukan sekadar seseorang bersikap berbeda dalam situasi yang berbeda. Semua orang bisa menyesuaikan cara bicara ketika berada di rumah, kampus, kantor, atau lingkungan pertemanan.

Tanda bahaya muncul ketika perubahan sikap itu dipakai untuk mencari keuntungan, menghindari tanggung jawab, atau merendahkan orang yang dianggap tidak penting.

Baik kepada Atasan, Kasar kepada Pelayan

Salah satu cara sederhana membaca karakter seseorang adalah memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan.

Ia mungkin sangat sopan kepada atasan, dosen, orang terkenal, atau seseorang yang sedang dibutuhkan. Namun, sikapnya mendadak berubah ketika berbicara dengan pelayan restoran, kurir, petugas kebersihan, atau anggota tim yang posisinya lebih rendah.

Kebaikan seperti ini bersifat selektif.

Baca juga: Makin Dewasa, Kamu Tak Lagi Menanggapi Semua Hal

YourTango menempatkan perubahan persona dan pencitraan publik sebagai pola yang sering muncul pada orang manipulatif. Mereka berusaha terlihat menarik di depan kelompok tertentu, tetapi dapat memperlakukan orang lain dengan sangat berbeda ketika tidak ada keuntungan sosial yang dipertaruhkan.

Karena itu, jangan hanya menilai seseorang dari bagaimana ia memperlakukan kita pada awal perkenalan.

Perhatikan konsistensinya.

Apakah ia tetap menghormati orang lain ketika sedang kesal? Apakah kebaikannya masih ada ketika tidak sedang dilihat banyak orang?

Karakter biasanya lebih terlihat dalam situasi kecil daripada dalam pidato besar.

Selalu Menjadi Korban dalam Setiap Konflik

Orang yang sulit bertanggung jawab biasanya memiliki banyak alasan.

Ketika melakukan kesalahan, ia menyalahkan situasi. Ketika ditegur, ia menyerang cara orang lain menyampaikan teguran. Ketika tindakannya menyakiti seseorang, ia justru merasa menjadi pihak yang paling disakiti.

Akhirnya, inti persoalan menghilang.

Psikolog Jennifer Freyd mengenalkan istilah DARVO untuk menggambarkan pola menyangkal kesalahan, menyerang pihak yang mempersoalkan, lalu membalik posisi korban dan pelaku. Pola ini tidak boleh digunakan sembarangan untuk mendiagnosis seseorang, tetapi dapat membantu kita memahami bagaimana tanggung jawab kadang dialihkan melalui percakapan.

Baca juga: ‘Hey Hanging’, Kebiasaan Chat Kerja yang Bikin Orang ‘Overthinking’

Dalam hubungan sehari-hari, polanya bisa terlihat melalui kalimat sederhana.

“Kamu terlalu sensitif.”

“Kalau kamu tidak memancing emosi, aku tidak akan seperti ini.”

“Aku malah yang paling dirugikan.”

Kalimat tersebut membuat orang yang terluka sibuk membela diri. Padahal, pembicaraan awalnya seharusnya membahas perilaku yang menyakitkan.

Jika pola ini terus berulang, seseorang dapat mulai meragukan penilaiannya sendiri.

Emosimu Selalu Dianggap Berlebihan

Hubungan yang sehat tidak menuntut dua orang untuk selalu sepakat.

Namun, masing-masing tetap perlu mengakui bahwa perasaan orang lain nyata.

Orang yang manipulatif sering melakukan hal sebaliknya. Mereka mengecilkan emosi orang lain agar tidak perlu menghadapi dampak dari tindakannya.

Ketika kita kecewa, mereka mengatakan kita terlalu dramatis. Ketika kita menetapkan batas, kita dituduh egois. Ketika kita meminta penjelasan, kita dianggap mencari masalah.

Sikap semacam ini disebut sebagai invalidasi emosi.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Emotion menunjukkan bahwa pengalaman merasa terus-menerus tidak divalidasi berkaitan dengan memburuknya kondisi emosi sehari-hari. Sementara itu, Cleveland Clinic mengingatkan bahwa gaslighting merupakan bentuk manipulasi yang lebih spesifik dan serius karena dapat membuat seseorang meragukan ingatan, keputusan, serta persepsinya sendiri.

Karena itu, tidak semua kebohongan atau perbedaan pendapat otomatis merupakan gaslighting.

Yang perlu diperhatikan adalah polanya: apakah seseorang terus-menerus mengubah cerita, menyangkal kejadian, dan membuat kita merasa tidak mampu mempercayai diri sendiri?

Jangan Buru-buru Memberi Label

Media sosial membuat istilah seperti “toksik”, “narsistik”, dan “gaslighting” sangat mudah digunakan.

Padahal, satu tindakan buruk belum tentu menggambarkan seluruh kepribadian seseorang.

Orang dapat bersikap defensif karena malu. Seseorang dapat gagal memahami perasaan kita karena kemampuan komunikasinya terbatas. Konflik juga bisa terjadi karena dua pihak mempunyai ingatan dan sudut pandang yang berbeda.

Karena itu, fokuslah pada perilaku yang konkret.

Baca juga: Pura-pura Humble? Ini Tanda yang Sering Terlihat

Apakah orang tersebut bersedia mendengarkan? Apakah ia mampu meminta maaf tanpa mencari pembenaran? Apakah ada perubahan setelah masalah dibicarakan?

Orang yang sehat secara emosional tidak harus selalu benar. Namun, ia bersedia belajar, memperbaiki kesalahan, dan menghargai batas orang lain.

Sebaliknya, hubungan patut dievaluasi ketika kita terus merasa tertekan, bingung, takut berbicara, atau dipaksa menanggung kesalahan yang bukan milik kita.

Jaga Batas, Bukan Membalas Permainan

Kita tidak selalu bisa mengubah orang lain.

Namun, kita dapat mengatur seberapa besar akses yang mereka miliki terhadap hidup kita.

Mulailah dengan menyampaikan batas secara jelas. Catat fakta ketika persoalan menyangkut pekerjaan. Hindari perdebatan tanpa akhir. Bicaralah dengan orang tepercaya yang mampu melihat situasi secara lebih netral.

Bila hubungan sudah mengganggu kesehatan mental atau mengarah pada kekerasan emosional, mencari bantuan profesional bukan tindakan berlebihan.

Pada akhirnya, kebaikan sejati tidak hanya terlihat ketika suasana sedang nyaman.

Kebaikan terlihat dari konsistensi, empati, dan keberanian untuk bertanggung jawab.

Sebab, orang yang benar-benar baik tidak membutuhkan orang lain menjadi kecil agar dirinya terlihat besar. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *