Bantu Korban Bencana, Niat Baik Saja Cukup?

Anak-anak mengikuti kegiatan pendampingan di tengah situasi pascabencana. Dukungan psikososial bagi korban tidak hanya membutuhkan kepedulian, tetapi juga pemahaman tentang kebutuhan dan batas dalam membantu. Foto: Ilustrasi/ Leonard Antasari/ Pexels.

BENCANA sering membuat banyak orang ingin melakukan sesuatu. Mengirim makanan, berdonasi, menjadi relawan, atau sekadar hadir menemani mereka yang kehilangan rumah dan orang-orang terdekat.

Keinginan itu penting. Tetapi ketika yang dihadapi adalah manusia yang baru saja melewati pengalaman sangat menakutkan, ada satu hal yang mudah terlupakan, membantu juga perlu tahu caranya.

Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Enam hari kemudian, bumi di kawasan itu belum benar-benar tenang. BMKG masih mencatat rangkaian gempa susulan, sementara puluhan ribu warga bertahan di pengungsian.

Di tengah proses penanganan itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengajak sejumlah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ke NTT. Sekretariat Wakil Presiden menyebut mahasiswa diberi ruang untuk membantu trauma healing korban sesuai kapasitas dan keahlian mereka.

Di pengungsian Sikka, mahasiswa terlihat mendampingi anak-anak dengan bernyanyi dan bermain tebak-tebakan. Tujuannya sederhana: menghadirkan suasana yang lebih nyaman di tengah kondisi yang jauh dari normal.

Itu bentuk kepedulian yang layak dihargai.

Namun peristiwa ini juga membuka pertanyaan lebih besar. Ketika kita ingin membantu seseorang setelah bencana, apakah niat baik saja sudah cukup?

Membantu Bukan Membuat Korban Bercerita

Dalam panduan Psychological First Aid, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa pertolongan psikologis awal bukan terapi dan bukan pula sesi untuk menggali pengalaman traumatis seseorang.

Prinsipnya justru cukup manusiawi: melihat apa yang dibutuhkan, mendengarkan tanpa memaksa, membantu seseorang merasa lebih aman, menghubungkannya dengan keluarga atau layanan yang diperlukan, serta melindunginya dari bahaya lebih lanjut.

Artinya, seseorang tidak harus menjadi psikolog untuk memberikan dukungan dasar.

Guru, pekerja kemanusiaan, petugas kesehatan, bahkan relawan yang telah mendapat pembekalan dapat melakukannya. Yang penting, mereka memahami apa yang boleh dilakukan, dan kapan harus berhenti serta menyerahkan penanganan kepada tenaga yang lebih kompeten.

Di sinilah niat baik bertemu tanggung jawab.

Orang yang baru kehilangan anggota keluarga mungkin belum ingin bicara. Anak yang terlihat kembali bermain belum tentu sudah selesai dengan ketakutannya. Sebaliknya, tidak semua kesedihan setelah bencana otomatis harus diberi label trauma.

Kadang bantuan terbaik bukan bertanya lebih banyak, tetapi menyediakan ruang aman.

Peduli Juga Berarti Tahu Batas

Bagi anak muda yang ingin menjadi relawan, pesan ini bukan alasan untuk mundur.

Justru sebaliknya.

Indonesia berada di wilayah yang berkali-kali menghadapi gempa, banjir, erupsi, dan berbagai bencana lain. Energi anak muda, jejaring kampus, serta kemampuan mereka bergerak cepat bisa menjadi kekuatan besar dalam situasi seperti itu.

Baca juga: Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan

Tetapi solidaritas akan jauh lebih berguna ketika berjalan bersama pengetahuan.

Belajar pertolongan pertama psikologis. Mendengarkan arahan petugas. Menghormati privasi korban. Tidak menjadikan penderitaan sebagai konten. Dan menyadari bahwa ada persoalan yang memang perlu ditangani tenaga profesional.

Karena dalam bencana, hadir adalah sesuatu yang berarti.

Tapi kadang bentuk kepedulian paling besar justru sederhana, tahu bagaimana membantu, dan tahu batas ketika membantu. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *