Kalau Medsos Berbahaya, Kenapa Dibuat Bikin Betah?

Media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Kini, desain itu ikut dipersoalkan ketika penggunanya adalah anak dan remaja. Foto: Ilustrasi/ Towfiqu barbhuiya/ Pexels. 

SCROL. Satu video. Lalu satu lagi. Tahu-tahu setengah jam lewat.

Kebiasaan sederhana itu sekarang berada di tengah persidangan besar terhadap Meta, perusahaan di balik Instagram dan Facebook. Pertanyaannya bukan lagi cuma apakah anak terlalu lama bermain media sosial.

Yang dipersoalkan, apakah platform memang dirancang agar pengguna muda sulit berhenti?

Persidangan di pengadilan federal Oakland, California, mulai bergulir pekan ini. Sejumlah negara bagian Amerika Serikat menuduh Meta merancang produknya untuk meningkatkan keterlibatan pengguna muda sekalipun perusahaan mengetahui adanya risiko terhadap keselamatan dan kesehatan mental mereka. Meta membantah tuduhan tersebut.

Engagement atau Keselamatan?

Pernyataan paling tajam datang dari Arturo Béjar, mantan direktur teknik Meta yang pernah bekerja di perusahaan itu pada 2009–2015 dan kembali sebagai kontraktor.

Dalam kesaksiannya pada 19 Agustus, Béjar mengatakan orientasi terhadap pertumbuhan dan engagement ikut membentuk keputusan produk di perusahaan. Ia menilai perlindungan terhadap anak tidak mendapatkan bobot yang sebanding.

Salah satu fitur yang ikut disorot adalah infinite scroll, layar yang terus menyajikan konten baru tanpa pengguna harus berhenti atau membuka halaman berikutnya.

Baca juga: Media Sosial Bikin Sulit Berhenti, Siapa Bertanggung Jawab?

Secara bisnis, logikanya sederhana.

Semakin lama pengguna berada di aplikasi, semakin banyak konten yang dilihat dan semakin banyak peluang iklan muncul.

Tetapi, di sinilah konfliknya muncul. Bagaimana perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari perhatian pengguna sekaligus menentukan kapan perhatian itu sudah terlalu banyak?

Meta mengatakan pihaknya telah membangun berbagai perangkat keselamatan, membatasi pengguna di bawah umur tertentu, dan berupaya mengurangi risiko bagi remaja. Perusahaan juga menyatakan tuduhan para penggugat mengambil sejumlah bukti tanpa konteks.

Jadi persidangan ini bukan sekadar soal berapa jam anak memegang HP.

Yang sedang diuji adalah tanggung jawab desain platform.

Indonesia Sudah Memilih Ikut Campur

Perdebatan serupa sudah sampai ke Indonesia.

Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, aturan pelaksanaan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak dalam sistem elektronik. Aturan itu berlaku dan implementasinya dimulai bertahap sejak 28 Maret 2026.

Untuk platform digital berisiko tinggi, anak di bawah 16 tahun tidak lagi diperbolehkan memiliki akun sendiri. Pemerintah menyebut antara lain Instagram, TikTok, Facebook, YouTube, X, Threads hingga Roblox dalam tahap implementasinya.

Baca juga: Belajar Jadi Hacker, tapi untuk Melindungi Sistem

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga anak tidak boleh hanya dibebankan kepada orang tua. Platform yang mengelola ruang digital juga harus ikut bertanggung jawab.

Ini perubahan penting.

Selama bertahun-tahun, pembicaraan tentang penggunaan media sosial sering berhenti pada nasihat sederhana: anak harus mengontrol diri, orang tua harus mengawasi, pengguna harus bijak.

Sekarang pertanyaannya bergeser.

Bagaimana kalau masalahnya bukan cuma pengguna yang sulit berhenti, tetapi juga desain produk yang memang dibuat agar mereka terus kembali?

Baca juga: Konten AI Asal Jadi Terancam Tak Cuan di YouTube

Media sosial tentu tidak otomatis buruk. Ia menjadi tempat belajar, bekerja, membangun komunitas, bahkan mencari peluang.

Tetapi keselamatan digital tidak cukup hanya dengan tombol “ingatkan saya untuk istirahat”.

Kalau sebuah platform tahu persis cara membuat kita betah, wajar kalau publik juga bertanya, seberapa keras platform itu bekerja untuk membuat kita bisa berhenti? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *