Media Sosial Bikin Sulit Berhenti, Siapa Bertanggung Jawab?

Sejumlah pengguna mengakses ponsel dalam satu ruang. Perdebatan kini bergeser dari soal kontrol diri menuju tanggung jawab desain platform. Foto: Vitaly Gariev/ Pexels.

Kebiasaan terus menggulir layar sering dianggap sebagai kegagalan mengendalikan diri. Ribuan gugatan kini mempertanyakan apakah desain platform juga ikut bertanggung jawab.

AWALNYA hanya ingin melihat satu video.

Lalu muncul video berikutnya. Disusul rekomendasi lain yang terasa lebih menarik. Tanpa terasa, setengah jam sudah lewat.

Kejadian seperti ini akrab bagi banyak pengguna media sosial.

Selama ini, solusinya terdengar sederhana. Kurangi waktu layar, matikan notifikasi, simpan ponsel, lalu belajar lebih disiplin.

Saran itu tidak salah.

Namun, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab kini mulai bergerak lebih jauh. Apakah pengguna memang sekadar kurang mampu mengendalikan diri? Atau platform juga dirancang untuk membuat orang terus bertahan?

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Medsos Dihukum karena Bikin Anak Kecanduan

Pertanyaan tersebut kembali menguat setelah TikTok menyelesaikan secara tertutup tiga gugatan yang diajukan remaja di Amerika Serikat.

Para penggugat menuduh platform media sosial menggunakan desain yang dapat mendorong penggunaan berlebihan dan berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental. TikTok tidak mengakui kesalahan melalui penyelesaian tersebut, sementara perusahaan-perusahaan teknologi yang digugat dalam perkara serupa membantah tuduhan terhadap mereka.

Kasus itu bukan perkara tunggal.

Sekitar 3.300 gugatan telah dikonsolidasikan di pengadilan negara bagian California. Ribuan perkara lain juga berjalan di pengadilan federal dan melibatkan perusahaan seperti Meta, Google melalui YouTube, TikTok, serta Snap.

Mengapa Scroll Sulit Dihentikan?

Media sosial tidak bekerja seperti buku yang memiliki halaman terakhir.

Umpannya terus bergerak.

Begitu satu video selesai, video berikutnya dapat diputar otomatis. Ketika layar digulir, konten baru langsung muncul. Notifikasi juga memancing pengguna kembali membuka aplikasi.

Platform kemudian mempelajari perilaku pengguna.

Video apa yang ditonton sampai selesai? Konten mana yang disukai? Apa yang dibagikan, dikomentari, atau dilewati?

Informasi tersebut membantu sistem rekomendasi memperkirakan konten yang kemungkinan besar akan membuat seseorang terus menonton.

Inilah yang membuat pengalaman setiap pengguna terasa sangat personal.

Baca juga: Dunia Mulai Tutup Akses Medsos Anak, Indonesia Ikut Masuk Gelombang Besar

Seseorang yang sering menonton konten olahraga akan memperoleh lebih banyak olahraga. Penggemar musik akan terus disuguhi musik. Pengguna yang tertarik pada satu drama dapat menerima rangkaian cerita serupa tanpa perlu mencarinya.

Teknologinya terasa membantu.

Namun, semakin tepat rekomendasi yang diberikan, semakin sulit pula pengguna menemukan alasan untuk berhenti.

Dari Kontrol Diri ke Desain Produk

Perkara hukum yang berkembang di Amerika mengubah cara persoalan ini dibicarakan.

Sebelumnya, penggunaan berlebihan lebih sering dianggap sebagai tanggung jawab pribadi atau keluarga.

Kini, pengadilan mulai diminta menilai apakah fitur tertentu merupakan bagian dari desain produk yang dapat menimbulkan risiko bagi pengguna muda.

Pada Maret 2026, juri California menyatakan Meta dan Google bertanggung jawab dalam satu perkara terkait desain platform yang dinilai membahayakan pengguna muda. Kedua perusahaan menolak tuduhan tersebut dan berupaya menggugat hasilnya.

Satu putusan tentu tidak otomatis membuktikan bahwa semua persoalan kesehatan mental disebabkan media sosial.

Kesehatan mental dipengaruhi banyak faktor: keluarga, lingkungan, pengalaman pribadi, sekolah, kondisi ekonomi, dan kehidupan sosial.

Namun, rangkaian perkara itu membawa pesan penting.

Platform bukan lagi dipandang sekadar sebagai ruang kosong tempat orang mengunggah konten. Cara aplikasi dirancang juga mulai diperiksa.

Pengguna Tetap Punya Peran

Meminta tanggung jawab platform bukan berarti membebaskan pengguna sepenuhnya.

Batas pribadi tetap penting.

Mematikan notifikasi yang tidak perlu, menetapkan waktu tanpa ponsel, berhenti mengikuti akun yang mengganggu, dan tidak membawa layar hingga waktu tidur merupakan langkah yang masuk akal.

Orang tua dan sekolah juga perlu membantu anak memahami cara kerja platform, bukan hanya melarang penggunaannya.

Namun, perlindungan digital akan rapuh apabila seluruh bebannya diberikan kepada individu.

Baca juga: MK: Kerusuhan di Media Sosial Tak Bisa Dipidana UU ITE

Ada ketimpangan yang jelas.

Seorang pengguna mencoba mengandalkan disiplin pribadi. Di sisi lain, platform memiliki data, sistem rekomendasi, pengujian produk, dan teknologi yang terus dikembangkan untuk mempertahankan perhatian.

Karena itu, tanggung jawabnya perlu dibagi.

Pengguna membangun batas. Keluarga memberikan pendampingan. Pemerintah membuat aturan. Platform memastikan produknya tidak mengorbankan keselamatan demi waktu penggunaan yang lebih panjang.

Indonesia Mulai Membatasi Akun Anak

Indonesia juga mulai mengambil langkah lebih tegas.

Sejak 28 Maret 2026, pemerintah menerapkan secara bertahap pembatasan akun bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital yang dikategorikan berisiko tinggi.

Platform yang disebut mencakup TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Kebijakan itu diarahkan untuk melindungi anak dari pornografi, perundungan siber, penipuan, konten berbahaya, serta penggunaan digital berlebihan.

Namun, aturan usia bukan akhir persoalan.

Baca juga: Mulai 28 Maret, Anak di Bawah 16 Tahun Tak Bisa Akses Media Sosial

Anak dapat memasukkan tanggal lahir yang berbeda. Verifikasi usia berpotensi memerlukan data identitas. Akun baru juga dapat dibuat menggunakan perangkat atau informasi milik orang lain.

Karena itu, keberhasilannya bergantung pada pelaksanaan.

Platform perlu memiliki verifikasi usia yang efektif tanpa mengorbankan privasi. Orang tua perlu memahami aturan. Sekolah harus memperkuat literasi digital. Pemerintah juga harus memastikan perlindungan tidak berhenti pada pemblokiran akun.

Hal yang tidak kalah penting adalah perubahan desain.

Pengguna muda memerlukan pengaturan privasi yang kuat, batas notifikasi, kontrol rekomendasi, perlindungan dari konten berbahaya, serta fitur pengingat yang benar-benar mudah digunakan.

Tidak Harus Pergi Sepenuhnya

Media sosial tidak hanya membawa risiko.

Media sosial dapat menjadi ruang belajar, membangun komunitas, menunjukkan karya, menemukan pekerjaan, menjalankan usaha, dan berhubungan dengan orang lain.

Persoalannya bukan semata-mata apakah media sosial baik atau buruk.

Yang perlu dilihat adalah bagaimana teknologi digunakan, siapa yang paling rentan, dan apakah desain produknya memberi ruang yang cukup bagi pengguna untuk berhenti.

Selama ini, orang yang terlalu lama menggunakan media sosial sering dianggap kurang disiplin.

Pandangan itu perlu diperluas.

Kontrol diri memang penting. Namun, ketika sebuah perusahaan memperoleh manfaat dari semakin lamanya pengguna bertahan, keselamatan digital tidak boleh hanya bergantung pada kemampuan seseorang menekan tombol keluar.

Pengguna perlu belajar membuat batas.

Platform juga harus bertanggung jawab atas cara mereka merancang perhatian. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *