
Seratus talenta muda dari 15 negara bertemu di Bali untuk menguji kemampuan keamanan siber. Mereka belajar mencari celah sistem bukan untuk mencuri data, tetapi agar kelemahan ditemukan sebelum penjahat siber menemukannya.
SEKELOMPOK mahasiswa di Bali sedang mencoba membobol sistem komputer.
Mereka mencari celah, memecahkan kode, membaca pola serangan, dan mencoba menemukan jalan masuk yang mungkin tidak terlihat oleh pengguna biasa.
Tidak ada polisi yang mengejar mereka.
Justru itulah tugasnya.
Mereka adalah finalis Country-to-Country Capture-the-Flag atau C2C-CTF 2026, kompetisi keamanan siber internasional yang berlangsung di Bali pada 10–14 Agustus 2026. Sebanyak 100 mahasiswa terbaik dari 15 negara lolos ke babak final setelah tahap kualifikasi daring diikuti 710 peserta.
Pesertanya datang dari berbagai kampus, termasuk University of Cambridge, University of Melbourne, Keio University, Royal Holloway University of London, hingga Universitas Indonesia.
Apa yang mereka lakukan terlihat seperti hacking.
Memang.
Bedanya terletak pada izin dan tujuan.
Meretas Tidak Selalu Berarti Mencuri
Kata hacker sering langsung diasosiasikan dengan pencurian akun, pembobolan bank, atau kebocoran data.
Padahal, teknik serupa juga digunakan untuk melindungi sistem.
Dalam keamanan siber ada praktik penetration testing: penguji sengaja mencoba menembus sistem untuk mengetahui seberapa kuat sistem tersebut menghadapi serangan aktif. NIST mendefinisikannya sebagai pengujian untuk melihat sejauh mana sistem atau perangkat mampu bertahan dari upaya kompromi.
Bedanya dengan peretasan ilegal sangat mendasar.
Ada izin.
Ada sistem yang memang boleh diuji.
Ada batas tindakan.
Ada tujuan menemukan kelemahan agar dapat diperbaiki.
Baca juga: Indonesia, “Raja Hacker” Baru di Internet Dunia
NIST bahkan mengenal rules of engagement, yaitu aturan dan batas yang ditetapkan sebelum pengujian keamanan dilakukan.
Jadi, kemampuan teknis yang sama bisa memiliki makna sangat berbeda tergantung bagaimana dan untuk apa digunakan.
Belajar dengan Cara Diserang
Capture The Flag atau CTF menjadi salah satu cara melatih kemampuan itu.
Peserta diberi tantangan keamanan dan harus menemukan kelemahan, memecahkan masalah, atau memperoleh “flag” yang tersembunyi dalam sistem yang sengaja disiapkan untuk diuji.
Model belajar seperti ini digunakan dalam pelatihan keamanan siber karena peserta tidak hanya membaca teori. Mereka berhadapan langsung dengan masalah dan harus mencari jalan keluarnya. OWASP juga menggunakan lingkungan CTF sebagai sarana latihan keterampilan keamanan secara praktis.
Baca juga: UI Buka Jurusan AI, Mahasiswa Disiapkan Bangun Otak Mesin
Logikanya sederhana.
Untuk membuat pintu lebih sulit dibobol, kita perlu memahami bagaimana pencuri mencoba membukanya.
Dalam dunia digital, prinsipnya sama.
Sistem perlu diuji sebelum penyerang sungguhan menemukan celahnya.
Bukan Cuma Anak Coding
Keamanan siber juga lebih luas daripada bayangan seseorang mengetik kode di ruangan gelap.
Ada pekerjaan mencari kerentanan sistem, mengawasi aktivitas mencurigakan, menangani insiden, menganalisis serangan, hingga melakukan forensik digital.
Karena semakin banyak aktivitas pindah ke dunia digital, kebutuhan menjaga sistem ikut meluas.
Rekening bank, aplikasi pembayaran, data kampus, layanan kesehatan, perusahaan, pemerintahan, hingga akun media sosial sama-sama bergantung pada sistem yang harus dijaga.
Itulah mengapa kompetisi seperti C2C-CTF tidak sekadar mencari siapa paling cepat “membobol” komputer.
Universitas Indonesia menyebutnya sebagai ruang untuk memperkuat kolaborasi talenta muda dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang semakin kompleks.
Mencari Celah Sebelum Penjahat Menemukannya
Ada ironi menarik dalam keamanan digital.
Sistem yang terlihat aman belum tentu benar-benar aman.
Kadang dibutuhkan orang yang berpikir seperti penyerang untuk menemukan kelemahan yang luput dari pembuatnya.
Karena itu, belajar meretas tidak otomatis berarti belajar menjadi penjahat.
Baca juga: 34 Ribu Korban, Rp350 Miliar Raib: Phishing Global Terhubung dari Indonesia
Dalam ruang yang legal, terkontrol, dan memiliki izin, kemampuan tersebut justru dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan.
Dunia digital tidak hanya membutuhkan orang yang pandai membangun aplikasi dan sistem.
Ia juga membutuhkan orang yang mampu bertanya:
“Kalau saya ingin membobolnya, dari mana saya akan masuk?”
Sebab kelemahan yang ditemukan lebih dulu oleh penjaga masih bisa diperbaiki.
Yang berbahaya adalah ketika orang yang berniat jahat menemukannya lebih dahulu. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.