
GAJI masuk dalam rupiah. Tetapi banyak barang yang kita pakai setiap hari punya jejak dolar di belakangnya.
Mulai dari bahan baku industri, energi, komponen elektronik, hingga barang impor. Ketika rupiah melemah, ongkos itu berpotensi ikut naik. Masalahnya, tekanan datang ketika harga pangan di dalam negeri juga sedang bergerak.
Bank Indonesia mencatat JISDOR pada Senin, 5 Oktober 2026, berada di Rp17.917 per dolar AS. Posisi ini mendekati level Rp18.000 yang sempat ditembus rupiah pada akhir September.
Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi nasional September sebesar 3,28% secara tahunan, naik dari 3,19% pada Agustus. Secara bulanan, harga konsumen naik 0,30%.
Buat anak muda yang setiap bulan membagi gaji untuk makan, transportasi, kos, cicilan, pulsa, sampai menabung, dua angka itu bukan sekadar urusan ekonom.
Ujungnya bisa bertemu di tempat yang sama, isi dompet.
Pangan Lebih Dulu
Tekanan yang paling terasa datang dari dapur.
Inflasi kelompok harga bergejolak atau volatile food mencapai 5,03% secara tahunan pada September, melonjak dari 4,06% pada Agustus. Secara bulanan, kelompok ini naik 1,46%.
Pendorongnya antara lain daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi. BI menyebut gangguan cuaca dan kenaikan biaya produksi ikut memengaruhi pasokan pangan.
Baca juga: Rupiah Melemah Lagi, Harga Apa Menyusul Naik?
Beras menjadi salah satu titik perhatian. Reuters mencatat rata-rata harga eceran beras Indonesia pada September berada sekitar Rp15.769 per kilogram, dekat level tertinggi, sementara ancaman El Niño menambah risiko bagi produksi menuju 2027.
Artinya, konsumen sudah menghadapi tekanan harga dari dalam negeri bahkan sebelum seluruh dampak pelemahan rupiah terasa.
Dolar Ikut Menekan
Rupiah sendiri bukan melemah tanpa sebab.
Pada 29 September, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh Rp18.010 per dolar AS. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai tekanan tersebut terutama datang dari faktor eksternal, termasuk kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang Amerika Serikat.
Imbal hasil AS yang tinggi membuat aset dolar lebih menarik. Modal cenderung bergerak ke sana dan mata uang negara berkembang mendapat tekanan.
Senin ini, rupiah kembali ditutup melemah menjadi Rp17.917 per dolar AS. Penguatan dolar dan tekanan global masih menjadi faktor utama.
Lalu apa hubungannya dengan harga barang?
Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman mengingatkan pelemahan rupiah dapat meningkatkan inflasi impor serta biaya input impor. Risiko semakin besar bila harga energi global tinggi dan gangguan El Niño ikut mendorong harga pangan.
Namun, pelemahan kurs tidak berarti harga laptop, ponsel, makanan, atau barang lain otomatis naik keesokan harinya.
Perusahaan bisa memiliki stok lama, kontrak pembelian, atau lindung nilai kurs. Ada juga produsen yang memilih menyerap sebagian kenaikan biaya agar harga jual tidak langsung berubah.
Jadi efeknya bisa bertahap.
Dompet Jadi Penyangga
Bank Indonesia masih menilai inflasi nasional berada dalam sasaran 2,5±1%. Bank sentral juga terus melakukan stabilisasi rupiah dan bekerja bersama pemerintah untuk mengendalikan harga pangan.
Tetapi bagi rumah tangga, angka inflasi rata-rata tidak selalu sama dengan pengalaman sehari-hari.
Kalau belanja yang paling sering dilakukan justru ayam, beras, cabai, bensin, atau barang dengan komponen impor, tekanan bisa terasa lebih besar.
Baca juga: Gaji Setara UMP Bebas Pajak, Isi Dompet Bertambah Berapa?
Di situlah rupiah Rp17.900-an menjadi relevan bahkan bagi mereka yang tidak pernah membeli dolar.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah kurs menembus Rp18.000. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah berapa lama tekanan kurs berlangsung, seberapa banyak biaya impor diteruskan ke harga, dan apakah pangan kembali stabil.
Sebab ketika harga makanan sudah bergerak dan rupiah ikut tertekan, ekonomi makro akhirnya punya alamat yang sangat sederhana, dompet kita. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.