Inflasi Menanjak, Tekanan Baru Datang dari BBM

Pengendara mengantre untuk mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina. Mulai 1 September 2026, harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan, sedangkan Pertalite, Biosolar, Pertamax, dan Pertamax Green 95 tetap. Foto: Dok. Pertamina.

Inflasi tahunan naik menjadi 3,19 persen pada Agustus 2026. Memasuki September, kenaikan harga BBM hingga avtur membawa tekanan baru bagi biaya hidup.

ANGKA inflasi baru saja bergerak naik. Belum sempat dompet mengambil napas, harga sejumlah bahan bakar ikut berubah pada awal September.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia mencapai 3,19 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Angka ini naik dari 2,88 persen pada Juli dan lebih tinggi daripada inflasi Agustus 2025 yang sebesar 2,31 persen.

Secara bulanan, harga-harga naik 0,21 persen. Padahal, pada Juli Indonesia masih mengalami deflasi 0,14 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, tekanan terbesar pada Agustus datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi 0,57 persen dan menyumbang 0,17 persen terhadap inflasi bulanan.

Daging ayam ras menjadi pendorong paling dominan. Cabai rawit, ikan segar, dan beras juga ikut mengerek angka inflasi.

Artinya, tekanan sudah terasa pada kebutuhan yang sulit dihindari. Harga makanan mungkin hanya bergerak beberapa ribu rupiah, tetapi pengeluarannya berulang hampir setiap hari. Bagi mahasiswa, pekerja awal karier, dan keluarga muda, akumulasinya dapat mengubah anggaran satu bulan.

September Membawa Tekanan Baru

Ada satu bagian penting dalam data Agustus. Ketika itu, kelompok transportasi justru mengalami deflasi 0,50 persen. Penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin membantu menahan inflasi.

Namun, kondisi tersebut berpotensi berubah pada September.

Mulai 1 September 2026, Pertamina menaikkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi. Di wilayah Jawa dan Bali, harga Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter.

Kenaikan lebih besar terjadi pada bahan bakar diesel. Dexlite melonjak dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.

Kenaikannya masing-masing sekitar 20,3 persen dan 19,1 persen.

Tidak semua BBM berubah. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, Biosolar Rp6.800, Pertamax Rp15.950, dan Pertamax Green 95 Rp16.600. Karena itu, kurang tepat jika perubahan tersebut disebut sebagai kenaikan seluruh harga BBM.

Pertamina menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti formula pemerintah dengan mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, dan pajak.

Baca juga: Gubernur BI Berganti, Dompet Kita Ikut Dipertaruhkan

Dampak langsungnya memang tidak menyentuh semua pengendara. Namun, lonjakan harga diesel nonsubsidi tetap perlu diperhatikan karena bahan bakar tidak berhenti sebagai pengeluaran di SPBU. Ia juga menjadi bagian dari biaya menjalankan kendaraan dan kegiatan usaha.

Tiket Pesawat Juga Bisa Tertekan

Tekanan dari energi juga menjalar ke penerbangan. Kementerian Perhubungan pada Rabu, 2 September 2026, menaikkan batas maksimal biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi dari 30 menjadi 40 persen dari tarif batas atas.

Kebijakan itu diambil setelah rata-rata harga avtur nasional per 1 September mencapai Rp23.315 per liter, naik sekitar 6,5 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Besaran 40 persen merupakan batas maksimal,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa. Maskapai tetap dapat mengenakan biaya di bawah batas tersebut sesuai kondisi pasar.

Ini bukan berarti seluruh harga tiket otomatis naik 40 persen. Angka itu adalah batas maksimal komponen tambahan bahan bakar yang boleh diterapkan maskapai. Namun, ruang untuk menaikkan harga tiket kini menjadi lebih lebar.

Inflasi 3,19 persen masih berada dalam sasaran nasional. Tetapi angka rata-rata tidak selalu menceritakan tekanan yang dirasakan setiap orang.

Agustus ditutup dengan kenaikan harga pangan. September dimulai dengan BBM dan avtur yang lebih mahal. Bagi anak muda yang pendapatannya belum ikut naik, persoalannya bukan sekadar angka inflasi, melainkan semakin sedikitnya ruang yang tersisa setelah semua kebutuhan dibayar. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *