Indonesia Membatasi Usia, Australia Mengatur Algoritma

Algoritma membuat setiap pengguna menerima linimasa yang berbeda, termasuk konten dari akun yang tidak pernah mereka pilih. Australia ingin memberi warganya pilihan untuk menolak feed rekomendasi. Foto: Ilustrasi/ Cottonbro/ Pexels.

KITA mengikuti teman, keluarga, dan kreator yang disukai. Namun, ketika media sosial dibuka, linimasa justru dipenuhi video dari orang-orang yang tidak pernah kita pilih.

Satu video lucu membawa kita ke video berikutnya. Konten tentang diet berubah menjadi tubuh ideal. Satu unggahan politik menyeret pengguna ke puluhan konten yang memperkuat kemarahan serupa.

Kita merasa sedang memilih. Padahal, algoritma telah lebih dahulu menentukan apa yang muncul, apa yang menghilang, dan berapa lama kita bertahan.

Australia kini ingin mengubah hubungan itu.

Pemerintah Perdana Menteri Anthony Albanese mengusulkan kebijakan My Feed, My Way. Platform media sosial akan diwajibkan memberi pilihan kepada pengguna berusia di atas 16 tahun. Tetap memakai feed rekomendasi atau hanya melihat unggahan dari akun yang sengaja mereka ikuti.

Pilihan itu harus ditawarkan secara terang melalui notifikasi. Bukan disembunyikan jauh di dalam menu pengaturan.

Pilihan Bukan Larangan

Kebijakan tersebut bukan tombol untuk mematikan seluruh algoritma. Media sosial tetap membutuhkan sistem otomatis untuk mengurutkan dan mengelola konten.

Yang dapat ditolak adalah rekomendasi personal yang terus memasukkan konten dari akun asing ke linimasa pengguna.

Australia juga belum memberlakukannya. Rancangan regulasi itu baru memasuki konsultasi sebelum dibawa ke parlemen. Jika disahkan, perusahaan yang tidak patuh dapat didenda hingga 109,2 juta dolar Australia atau sekitar Rp1,2 triliun.

“Ini bukan tentang memberikan kendali kepada pemerintah. Ini tentang memberikan kendali kepada rakyat,” kata Albanese.

Baca juga: Media Sosial Bikin Sulit Berhenti, Siapa Bertanggung Jawab?

Kalimat itu menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Selama ini, pengguna diminta mengendalikan waktu layar, menahan diri dari doomscrolling, dan menyaring konten berbahaya. Namun, desain platform yang sengaja mempertahankan perhatian jarang ikut dimintai tanggung jawab.

Australia mulai memindahkan sebagian beban tersebut kepada perusahaan teknologi.

Indonesia Memilih Usia

Indonesia telah mengambil jalur berbeda. Sejak Maret 2026, pemerintah membatasi anak di bawah 16 tahun memiliki akun pada platform digital berisiko tinggi seperti TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, X, dan Roblox.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut pornografi, perundungan siber, penipuan daring, dan kecanduan sebagai ancaman yang semakin nyata. Hingga Juni, TikTok dan YouTube dilaporkan telah menonaktifkan sekitar 4,7 juta akun anak di Indonesia.

Baca juga: Mulai 28 Maret, Anak di Bawah 16 Tahun Tak Bisa Akses Media Sosial

Langkah itu penting. Namun, batas usia belum menyentuh cara platform memperlakukan pengguna yang sudah boleh masuk.

Begitu berusia 16 tahun, seseorang kembali berhadapan dengan feed tanpa akhir, angka likes, notifikasi, dan rekomendasi yang dirancang untuk membuatnya terus melihat layar. Padahal, kedewasaan digital tidak otomatis datang bersama ulang tahun.

Di sinilah gagasan Australia relevan bagi Indonesia. Perlindungan digital tidak cukup berhenti pada pertanyaan siapa yang boleh masuk. Pemerintah juga perlu bertanya apa yang dilakukan platform setelah pengguna berada di dalam.

Tanpa Algoritma Lebih Baik?

Feed tanpa rekomendasi juga bukan jawaban sempurna. CEO Instagram Adam Mosseri memperingatkan bahwa urutan kronologis dapat membuat pengguna dibanjiri konten merek dan akun yang paling sering mengunggah. Teman yang jarang membuat konten justru bisa tenggelam.

Argumen itu patut dipertimbangkan. Algoritma dapat membantu menemukan musik, pengetahuan, komunitas, dan kreator baru. Banyak usaha kecil juga menggantungkan jangkauan produknya pada sistem rekomendasi.

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Medsos Dihukum karena Bikin Anak Kecanduan

Masalahnya bukan sekadar ada atau tidak ada algoritma. Masalahnya adalah pengguna hampir tidak pernah memahami mengapa sebuah konten disodorkan, dan platform memperoleh keuntungan ketika mereka bertahan lebih lama.

Karena itu, pilihan menjadi penting. Pengguna boleh memakai rekomendasi, tetapi tidak seharusnya dipaksa hidup di dalamnya.

Indonesia telah mulai membatasi usia. Langkah berikutnya mungkin lebih sulit, memastikan mereka yang boleh masuk tetap memegang kendali atas linimasanya sendiri. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *