Kapan Cukup Lewat Layar?

Ilustrasi rapat hibrida. Teknologi memungkinkan pertemuan dari lokasi berbeda, sementara kebutuhan hadir langsung perlu dipertimbangkan berdasarkan tujuan dan manfaatnya. Foto: Mart P/ Pexels.

Dari pemberitahuan pencopotan hingga pengunduran diri, layar memperpendek jarak. Perjalanan pejabat pun layak menghadapi pertanyaan yang sama, kapan kehadiran benar-benar diperlukan?

SEBUAH panggilan masuk. Percakapan berlangsung. Sesudahnya, seseorang bukan lagi menteri.

Purbaya Yudhi Sadewa mengetahui pemberhentiannya sebagai Menteri Keuangan melalui telepon seorang pejabat Istana pada September lalu. Sebulan kemudian, pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa menggunakan Zoom, 14 Oktober 2026.

Dua peristiwa itu berbeda. Pada Purbaya, telepon menjadi saluran pemberitahuan. Pada PLN, layar menjadi ruang rapat untuk mengambil keputusan. Keduanya memperlihatkan betapa urusan besar dapat berlangsung tanpa semua orang duduk dalam satu ruangan.

Di dunia kerja, bayangkan adegan yang lebih dekat. Seorang pekerja mengetik pesan kepada atasannya. Ia menyampaikan niat mengundurkan diri melalui WhatsApp.

Pesan terkirim. Dua centang muncul. Percakapan yang dahulu dibayangkan membutuhkan ketukan pintu kini dimulai dari layar ponsel.

Apakah itu tidak sopan?

Jawabannya bergantung pada apa yang berlangsung sesudah pesan tersebut. Ada orang yang memakai WhatsApp untuk membuka percakapan, lalu menuntaskan pengunduran diri dan serah terima dengan baik. Ada pula yang menganggap satu pesan sudah cukup untuk meninggalkan seluruh tanggung jawab.

Keduanya memakai aplikasi yang sama. Sikapnya berbeda.

Cepat Belum Tentu Selesai

Kita mudah terpukau oleh kecepatan. Rapat bisa berlangsung dari beberapa kota. Keputusan dapat disampaikan dalam hitungan menit. Undangan, instruksi, persetujuan, sampai ucapan perpisahan masuk melalui benda yang sama.

Tetapi, penerima pesan tetap manusia.

Bagi pengirim, sebuah keputusan mungkin sudah selesai setelah disampaikan. Bagi penerima, justru saat itulah pertanyaan dimulai. Mengapa, sejak kapan, bagaimana pekerjaan berikutnya, dan kepada siapa urusan yang tertinggal diserahkan?

Di situlah mutu komunikasi terlihat. Ada kesempatan untuk bertanya. Ada penjelasan yang bisa dipahami. Ada tanggung jawab yang dituntaskan.

Baca juga: Nama Berganti, Apa yang Berubah?

Pertemuan langsung pun bisa terasa dingin jika seseorang hanya dipanggil untuk mendengar keputusan tanpa ruang bicara. Sebaliknya, percakapan melalui video dapat berlangsung penuh penghormatan ketika kedua pihak sungguh-sungguh mendengarkan.

Karena itu, pekerja muda tidak layak buru-buru dicap kehilangan tata krama hanya karena membuka pembicaraan lewat WhatsApp. Atasan juga tidak otomatis dapat berlindung di balik alasan praktis ketika menyampaikan keputusan yang berdampak besar terhadap orang lain.

Ukuran kepatutan seharusnya berlaku ke dua arah.

Mengapa Masih Harus Terbang?

Dari ruang kerja, pertanyaannya dapat dibawa ke urusan negara.

Jika rapat pergantian pimpinan perusahaan sebesar PLN dapat berlangsung melalui layar, kegiatan pemerintahan mana yang sebenarnya juga bisa dilakukan dari kantor?

Pertanyaan ini pantas diajukan ketika presiden atau menteri bepergian ke luar negeri.

Perjalanan resmi melibatkan kebutuhan transportasi, penginapan, pengamanan, protokol, serta pekerjaan banyak orang. Besarnya biaya berbeda menurut tujuan, durasi, dan susunan delegasi. Karena menggunakan uang publik, alasan keberangkatan layak dijelaskan kepada publik.

Mengapa pertemuan itu memerlukan kehadiran langsung. Mengapa rombongannya sebesar itu. Hasil apa yang ditargetkan. Siapa yang memastikan tindak lanjutnya setelah pesawat kembali mendarat?

Diplomasi tentu memiliki kebutuhan yang tidak seluruhnya dapat dipindahkan ke konferensi video. Negosiasi sensitif, pembangunan kepercayaan, dan percakapan di sela agenda resmi bisa memperoleh manfaat dari pertemuan langsung.

Namun, alasan tersebut perlu diterangkan untuk kegiatan yang bersangkutan. Kata “diplomasi” terlalu luas jika digunakan untuk menjawab setiap pertanyaan tentang biaya perjalanan.

Baca juga: Generasi Paling Terhubung yang Kehilangan Teman

Agenda yang terutama berisi sambutan, penyampaian laporan, atau pembahasan lanjutan layak diuji kemungkinan pelaksanaannya secara daring. Untuk agenda yang memerlukan kehadiran, jumlah peserta dan lamanya perjalanan tetap dapat diperiksa.

Efisiensi membutuhkan penilaian semacam itu. Membatalkan perjalanan yang penting bisa merugikan. Memberangkatkan rombongan tanpa kebutuhan yang jelas juga membebani.

Publik berhak mengetahui pertimbangannya.

Ukuran yang Sama

Ada ironi yang patut kita renungkan. Kita bisa begitu praktis ketika menyampaikan keputusan kepada seseorang, tetapi begitu mudah menganggap kehadiran fisik sebagai keharusan untuk sebuah agenda resmi.

Di kantor, alasan efisiensi dapat muncul saat pertemuan hendak dipangkas. Dalam perjalanan dinas, alasan membangun hubungan dapat muncul saat keberangkatan hendak dipertahankan.

Keduanya mungkin masuk akal. Keduanya juga perlu diuji.

Apakah pertemuan memberi ruang penjelasan yang dibutuhkan. Apakah perjalanan menghasilkan manfaat yang sepadan. Apakah pilihan daring membantu pekerjaan selesai, atau sekadar membantu seseorang menghindari percakapan yang tidak nyaman?

Pertanyaan tersebut lebih berguna daripada perdebatan tentang aplikasi mana yang sopan.

Baca juga: Bahasa Isyarat Bukan Aksesori di Sudut Layar

Kita memerlukan kebiasaan menjelaskan pilihan. Pekerja yang hendak pergi menjelaskan dan menuntaskan serah terima. Pemimpin yang mengganti orang menyediakan komunikasi yang patut. Pejabat yang bepergian menerangkan kebutuhan dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Dengan begitu, teknologi membantu kita menghemat hal yang memang dapat dihemat. Waktu tunggu, perjalanan yang tidak perlu, dan biaya pertemuan yang bisa disederhanakan.

Sementara itu, perhatian kepada orang dan tanggung jawab kepada publik tetap mendapat tempat.

Budaya baru akan terasa manfaatnya ketika ukuran tersebut berlaku untuk semua, dari pekerja yang sedang mengetik pesan pengunduran diri sampai pejabat yang sedang menyusun jadwal keberangkatan.

Sebelum menekan tombol kirim atau memesan penerbangan, ada satu pertanyaan yang layak dijawab. Kehadiran seperti apa yang dibutuhkan, dan untuk kepentingan siapa? ***

Salam literasi

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *