Generasi Paling Terhubung yang Kehilangan Teman

Di tengah koneksi digital yang tidak pernah berhenti, semakin banyak anak muda justru kesulitan membangun pertemanan yang dekat dan bermakna. Foto: Cottonbro/ Pexels.

KITA hidup pada masa ketika seseorang dapat mengetahui sarapan orang lain, lagu yang sedang didengarkan, tempat ia berlibur, sampai isi kepalanya menjelang tidur.

Namun, ketika hidup mendadak terasa berat, belum tentu ada satu nama yang berani ditelepon.

Daftar kontak semakin panjang. Pengikut bertambah. Grup percakapan berlapis-lapis. Notifikasi tidak pernah benar-benar berhenti. Anehnya, semua itu tidak selalu membuat manusia merasa lebih dekat.

Di tengah dunia yang paling terhubung sepanjang sejarah, teman dekat justru perlahan menjadi barang langka.

Institute for Public Policy Research (IPPR) menemukan gejala yang mengkhawatirkan di Inggris. Jumlah anak muda yang mengaku tidak mempunyai teman dekat meningkat lima kali lipat dalam satu dekade.

Pada 2014, sekitar satu dari 100 anak muda mengatakan tidak memiliki teman dekat. Kini angkanya menjadi satu dari 20.

Proporsi anak muda berusia 16–21 tahun yang memiliki setidaknya tiga teman dekat juga turun. Pada 2012–2014 angkanya masih 85 persen. Dalam periode 2023–2025, tinggal 72 persen.

Data itu memang berasal dari Inggris. Namun, kegelisahan yang digambarkannya terasa sangat dekat dengan kehidupan anak muda di banyak tempat, termasuk Indonesia.

Ramai tetapi Sepi

Kesepian tidak selalu terlihat seperti seseorang yang duduk sendirian di kamar gelap.

Kesepian bisa hadir di tengah meja makan yang penuh. Di kampus yang ramai. Di kantor yang sibuk. Bahkan, di dalam grup percakapan yang anggotanya ratusan orang.

Seseorang bisa menerima puluhan respons atas unggahannya, tetapi tidak merasa benar-benar dikenal oleh siapa pun. Ia mempunyai banyak orang untuk diajak bercanda, tetapi tidak tahu kepada siapa harus mengaku sedang takut.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan satu dari enam manusia di dunia mengalami kesepian. Angkanya paling tinggi pada kelompok muda. Sekitar 21 persen remaja dilaporkan mengalaminya.

WHO membedakan kesepian dengan kesendirian. Kesepian muncul ketika ada jarak antara hubungan sosial yang dimiliki seseorang dan hubungan yang sebenarnya ia butuhkan.

Karena itu, seseorang tidak otomatis kesepian hanya karena sedang sendirian. Sebaliknya, ia dapat merasa sangat kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.

Baca juga: Kita Berlari, tetapi ke Mana?

Masalahnya bukan semata-mata berapa banyak manusia yang hadir. Masalahnya adalah apakah kehadiran itu cukup aman untuk menjadi tempat pulang.

Media sosial kerap dituding sebagai penyebab utama. Tuduhan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi terlalu sederhana jika seluruh persoalan dibebankan pada layar.

Platform digital juga mempertemukan orang-orang yang sebelumnya terpisah jarak, membantu seseorang menemukan komunitas, dan memberi ruang bagi mereka yang kesulitan berbicara secara langsung.

Persoalan muncul ketika koneksi mulai menggantikan kedekatan.

Percakapan dipadatkan menjadi emoji. Perhatian diukur melalui likes. Persahabatan dipertontonkan melalui unggahan. Bahkan, perasaan tertinggal dapat muncul hanya karena melihat teman-teman berkumpul tanpa kita.

Kita menjadi sangat mudah mengetahui kehidupan orang lain, tetapi belum tentu semakin mampu memahaminya.

Hidup Makin Sempit

Tidak adil jika kesepian anak muda dianggap sekadar akibat mereka terlalu sibuk dengan ponsel.

Pertemanan membutuhkan waktu, tempat, dan rasa aman. Ketiganya justru semakin sulit diperoleh.

Anak muda menghadapi biaya hidup yang meningkat, persaingan pendidikan, pekerjaan yang tidak pasti, serta tuntutan untuk terus terlihat produktif. Sebagian harus berpindah kota, bekerja dengan jam yang panjang, atau menunda berbagai tahap kehidupan karena kondisi ekonomi.

Ruang perjumpaan pun menyusut. Taman, perpustakaan, lapangan, sanggar, dan komunitas yang memungkinkan orang bertemu tanpa harus banyak membayar belum menjadi bagian penting dari pembangunan banyak kota.

Akhirnya, pertemanan ikut tunduk pada jadwal.

Bertemu harus direncanakan berminggu-minggu. Ngobrol perlu menunggu semua pekerjaan selesai. Padahal, pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.

IPPR mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh dijelaskan dengan menyebut anak muda sebagai generasi yang rapuh. Mereka bertumbuh di tengah pandemi, revolusi digital, tekanan ekonomi, biaya hunian yang mahal, dan jalan menuju kehidupan dewasa yang semakin terjal.

Baca juga: Mengapa Bercerita kepada AI Terasa Lebih Mudah?

Kesepian mereka bukan semata-mata kegagalan pribadi. Itu juga mencerminkan dunia yang terlalu sibuk mendorong manusia untuk bersaing, tetapi kurang menyediakan tempat bagi mereka untuk saling menjaga.

Di Indonesia, penelitian yang melibatkan 527 responden Gen Z dari berbagai daerah menemukan bahwa dukungan sosial memegang peranan penting dalam menekan kesepian.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 dan melibatkan peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu juga menemukan pentingnya penerimaan diri dan kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih.

Namun, manusia tidak seharusnya hanya diajarkan menjadi kuat sendirian. Lingkungannya juga perlu dibuat lebih ramah agar hubungan yang sehat dapat tumbuh.

Belajar Hadir Kembali

Mungkin kita perlu meninjau ulang arti pertemanan.

Teman bukan sekadar orang yang selalu muncul dalam foto. Bukan pula mereka yang paling cepat memberikan tanda suka. Teman adalah seseorang yang membuat kita tidak harus terus terlihat baik-baik saja.

Persahabatan semacam itu tidak tercipta melalui satu percakapan besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang berulang: menyapa, mendengarkan, mengingat cerita lama, menemani tanpa buru-buru memberi nasihat, serta menyediakan waktu meskipun tidak ada sesuatu yang perlu dirayakan.

Teknologi tidak harus dijauhi. Namun, perlu dikembalikan menjadi jembatan, bukan tujuan akhir.

Baca juga: Ketika Percakapan Menghilang

Pesan singkat dapat menjadi awal untuk bertemu. Grup digital dapat berkembang menjadi komunitas nyata. Unggahan “apa kabar?” dapat dilanjutkan dengan kesediaan mendengar jawaban yang jujur.

Kita mungkin tidak membutuhkan lebih banyak teman. Kita membutuhkan hubungan yang lebih dalam dengan beberapa orang yang sudah ada.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukan banyaknya nama dalam daftar kontak.

Melainkan keyakinan bahwa ketika dunia terasa terlalu berat, ada seseorang yang akan menjawab, “Aku di sini.” ***

Salam literasi

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *