Mengapa Bercerita kepada AI Terasa Lebih Mudah?

Percakapan dengan AI terasa mudah karena selalu tersedia dan tidak menghakimi. Namun, kenyamanan itu juga membuka pertanyaan tentang ruang aman dalam hubungan antarmanusia. Foto: Ilustrasi/ Pexels.

ADA cerita yang tertahan berhari-hari karena kita tidak tahu harus menyampaikannya kepada siapa.

Kepada teman, kita khawatir dianggap terlalu banyak mengeluh. Kepada keluarga, kita takut membuat mereka ikut cemas. Kepada pasangan, ada kemungkinan cerita berubah menjadi perdebatan.

Lalu sebuah ruang percakapan dibuka.

Kita mengetik satu kalimat. Mesin membalas tanpa menyela. Ia tidak terlihat bosan. Tidak buru-buru mengganti topik. Tidak pula mengatakan bahwa persoalan orang lain jauh lebih berat.

Percakapan berlanjut.

Hal-hal yang sulit disampaikan kepada manusia perlahan dituliskan kepada kecerdasan buatan.

Fenomena ini tidak lagi terasa asing. AI semakin sering digunakan bukan hanya untuk mencari informasi, menyusun pekerjaan, atau menemukan ide. Sebagian orang juga menggunakannya untuk membicarakan kesepian, kecemasan, hubungan, rasa gagal, dan persoalan yang belum berani mereka bagi kepada orang lain.

Sebuah survei di empat negara Eropa menemukan hampir separuh responden berusia 11–25 tahun pernah menggunakan chatbot AI untuk membicarakan persoalan pribadi dan emosional. Sebanyak 51 persen menyebut AI mudah diajak bicara. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan tenaga kesehatan dan jauh di atas psikolog dalam persepsi kemudahan akses. Teman dan orang tua tetap menjadi tempat bercerita utama, tetapi mesin mulai mengambil tempat dalam ruang yang dahulu hanya dihuni manusia.

Pendengar yang Tidak Menghakimi

Tidak sulit memahami mengapa AI terasa nyaman.

AI tersedia saat tengah malam. Tidak perlu membuat janji. Tidak memiliki wajah yang dapat berubah ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan. Kita juga bisa menghapus kalimat, menggantinya, lalu memulai cerita dari awal.

Di hadapan manusia, bercerita selalu mengandung risiko.

Kita bisa disalahpahami. Rahasia dapat tersebar. Nasihat datang sebelum cerita selesai. Ada pula orang yang mendengarkan hanya untuk menunggu giliran berbicara.

Baca juga: Jangan Bunuh Pertanyaan dengan Sebuah Label

AI seolah menghilangkan banyak risiko itu.

Bahasanya dapat terdengar tenang, teratur, dan penuh penerimaan. AI membantu memberi nama pada perasaan yang sebelumnya berantakan. Bagi sebagian orang, percakapan semacam ini bahkan menjadi latihan sebelum mereka berbicara kepada manusia yang sesungguhnya.

Kajian mengenai kepercayaan dalam dukungan emosional berbasis AI menemukan bahwa personalisasi, kendali pengguna atas percakapan, serta bahasa yang positif dapat menumbuhkan rasa percaya. Namun, sifat yang sama juga dapat membuat pengguna lupa bahwa respons tersebut tetap dihasilkan oleh mesin yang dilatih untuk menyusun bahasa, bukan oleh makhluk yang mengalami perasaan.

Di situlah kenyamanan dan kerawanan berdiri berdekatan.

Merespons Bukan Berarti Merasakan

AI dapat mengenali pola bahasa kesedihan. Ia dapat menghasilkan kalimat yang terdengar empatik. Ia bahkan bisa mengingat konteks tertentu dan menyesuaikan cara berbicara.

Namun, AI tidak duduk bersama kita dalam kesunyian.

AI tidak ikut kehilangan tidur karena memikirkan masalah kita. Ia tidak menanggung konsekuensi dari nasihat yang diberikannya. Ketika ruang percakapan ditutup, mesin tidak membawa pulang kegelisahan yang baru saja kita ceritakan.

Ini bukan berarti percakapan dengan AI tidak berguna.

Baca juga: Ketika Percakapan Menghilang

AI dapat membantu menyusun pikiran, menunjukkan sudut pandang lain, atau mempersiapkan percakapan yang sulit. Dalam keadaan tertentu, ia mungkin menjadi jembatan bagi seseorang yang belum siap mencari bantuan atau membuka diri.

Namun, jembatan berbeda dari tempat tinggal.

Penelitian OpenAI bersama MIT Media Lab menunjukkan hasil yang tidak sederhana. Dampak penggunaan chatbot terhadap kesejahteraan emosional berbeda-beda, bergantung pada cara penggunaan dan keadaan penggunanya. Meski demikian, penggunaan yang lebih berat dan berkepanjangan berkorelasi dengan kesepian, ketergantungan emosional, penggunaan bermasalah, serta berkurangnya interaksi sosial pada sebagian pengguna. Temuan itu belum membuktikan hubungan sebab-akibat tunggal, tetapi memberi alasan untuk berhati-hati.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah kita boleh bercerita kepada AI.

Pertanyaannya adalah, apakah percakapan itu membantu kita kembali kepada manusia, atau justru membuat kita semakin nyaman menjauhinya?

Hubungan Manusia Memang Tidak Selalu Nyaman

Manusia sering menjadi pendengar yang tidak sempurna.

Kadang-kadang kita memberikan respons yang salah. Kita kehabisan kata-kata. Kita salah memahami. Ada saatnya kita terlalu sibuk dengan masalah sendiri sehingga gagal hadir sepenuhnya untuk orang lain.

Namun, hubungan manusia tidak tumbuh karena semua percakapan berjalan sempurna.

Hubungan tumbuh ketika seseorang memilih tetap tinggal meskipun ceritanya berat. Ketika dua orang berusaha memperbaiki salah paham. Ketika seseorang belajar meminta maaf karena responsnya menyakiti. Ketika kita perlahan memahami bahwa mendengarkan bukan sekadar merangkai jawaban yang tepat.

Dalam hubungan dengan manusia, kita tidak selalu mendapat respons yang kita inginkan. Tetapi kita belajar bernegosiasi, berempati, menerima perbedaan, dan menghadapi kenyataan bahwa orang lain juga mempunyai batas.

AI dapat menyesuaikan diri dengan kita.

Manusia meminta kita ikut menyesuaikan diri.

Kerumitan itulah yang terkadang melelahkan. Namun, dari sanalah kedewasaan emosional dibentuk.

Barangkali Kita Sedang Kekurangan Ruang Aman

Meningkatnya kebiasaan bercerita kepada AI seharusnya tidak hanya membuat kita mengawasi teknologi. Tapi, juga layak dibaca sebagai pertanyaan bagi hubungan antarmanusia.

Apakah orang-orang di sekitar kita merasa aman untuk bercerita?

Apakah kita benar-benar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi?

Apakah setiap kegelisahan selalu kita balas dengan ceramah, perbandingan, atau kalimat yang mengecilkan perasaan?

Bisa jadi orang memilih mesin bukan karena mesin telah menjadi manusia. Bisa jadi karena manusia semakin jarang menyediakan ruang untuk didengarkan dengan tenang.

Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa

Teknologi sering kali tidak menciptakan seluruh kebutuhan baru. Ia menemukan kebutuhan lama yang belum terjawab, lalu menawarkan cara yang lebih mudah untuk memenuhinya.

AI dapat menjadi ruang pertama untuk merapikan pikiran. Ia bisa membantu kita menemukan kata-kata ketika isi kepala masih kusut. Tetapi pada akhirnya, manusia tetap membutuhkan kehadiran yang tidak hanya menjawab, melainkan juga bertanggung jawab, mengingat, dan ikut menjalani kehidupan bersama kita.

Barangkali pertanyaan terpentingnya bukan lagi mengapa AI terasa lebih mudah diajak bicara.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian dari kita tidak lagi merasa cukup aman untuk bercerita kepada manusia.

Dan mungkin, sebelum meminta orang lain menjauh dari mesin, kita perlu belajar kembali menjadi manusia yang layak dipercaya untuk mendengarkan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *