Saat AI Membawa Kita Pulang ke Masa yang Tak Pernah Kita Jalani

Generasi yang tumbuh di era digital kini memakai AI untuk membayangkan dirinya hidup di tahun 1980-an. Tren foto retro ini memunculkan nostalgia pada masa yang bahkan tidak pernah mereka alami. Foto: AI-generated/ MulaMula.id.

MENDADAK linimasa terasa seperti album keluarga yang dibuka kembali setelah puluhan tahun.

Rambut mengembang. Blazer longgar. Kacamata besar. Lampu studio kekuningan. Warna foto sedikit pudar. Ada grain yang membuat gambar terlihat seperti dicetak di laboratorium foto tahun 1986.

Padahal fotonya dibuat beberapa menit lalu.

Tren foto AI bergaya 1980-an sedang memenuhi Instagram, X, dan platform lain. Pengguna mengunggah foto sekarang, lalu meminta AI mengubah pakaian, rambut, aksesori, pencahayaan, dan latarnya menjadi potret era 80-an. ChatGPT bahkan menyediakan opsi khusus “80s Flashback” untuk membuatnya.

Yang menarik bukan cuma hasil fotonya.

Sebagian orang yang paling antusias “kembali” ke tahun 1980-an bahkan belum lahir ketika dekade itu berakhir.

Jadi, apa sebenarnya yang sedang kita rindukan?

Rindu pada Masa yang Tidak Pernah Dialami

Ada istilah untuk perasaan itu, anemoia.

Istilah tersebut dipopulerkan penulis John Koenig untuk menggambarkan nostalgia terhadap masa atau tempat yang tidak pernah kita alami sendiri.

Dan fenomena ini makin mudah ditemukan di kalangan Gen Z.

Financial Times baru-baru ini menulis bagaimana anak muda kembali tertarik pada kamera retro, media fisik, dan estetika lama. Bukan semata karena bentuknya keren. Ada pencarian terhadap sesuatu yang terasa lebih nyata, lebih tidak sempurna, dan lebih manusiawi di tengah dunia digital yang semakin dipoles algoritma dan AI.

Ironinya cukup indah.

Kita memakai teknologi paling mutakhir untuk menciptakan kembali ketidaksempurnaan teknologi lama.

Baca juga: AI Bisa Mengerjakan Banyak Hal, Buat Apa Kuliah?

Kamera ponsel sekarang berlomba menghasilkan gambar semakin tajam. AI bisa memperbaiki kulit, cahaya, komposisi, bahkan ekspresi.

Tetapi, kita justru meminta mesin menambahkan grain.

Membuat warna sedikit kusam.

Membiarkan foto terasa tidak sempurna.

Mungkin karena kesempurnaan digital mulai terasa terlalu mudah.

Ketika Foto Dulu Terasa Lebih “Berharga”

Dulu, satu rol film hanya memberi puluhan kesempatan.

Tidak ada tombol delete. Tidak ada preview. Tidak ada seratus kali jepret untuk mencari satu foto terbaik.

Foto harus menunggu dicetak.

Karena jumlahnya terbatas, setiap gambar punya bobot.

Baca juga: Belajar AI Bukan Lagi Hanya untuk Anak Teknik

Hari ini kita bisa menghasilkan ribuan foto dalam hitungan minggu. Semuanya tajam. Semuanya tersimpan. Tetapi justru karena terlalu banyak, sebagian cepat dilupakan.

Di titik itu, estetika lama menawarkan sesuatu yang hilang dari budaya digital, kelangkaan.

Bukan cuma tampilannya yang dirindukan. Bisa jadi juga ritmenya.

Masa ketika sebuah foto tidak harus sempurna untuk dianggap layak disimpan.

Tapi Ada Ironi Lain

Tren ini juga memperlihatkan hubungan kita yang semakin rumit dengan AI.

Untuk mendapatkan foto yang terasa “lebih manusiawi”, kita menyerahkan wajah kepada mesin.

Foto pribadi menjadi bahan bagi sistem digital untuk mengenali bentuk wajah, ekspresi, dan karakter visual pengguna. Karena itu, tren berbasis selfie juga memunculkan pertanyaan soal privasi dan penggunaan data pribadi.

Namun, justru di situlah tren ini menarik.

Baca juga; AI Belum Tentu Mengambil Kerjamu, tapi Bisa Mengubah Nilaimu

AI tidak hanya sedang membawa kita menuju masa depan.

AI juga menjadi mesin waktu.

Dan untuk beberapa detik, seseorang yang lahir tahun 2003 bisa melihat dirinya seolah sedang menunggu hasil cetak foto pada 1987.

Mungkin kita sebenarnya tidak sedang ingin hidup pada tahun 80-an.

Kita hanya sedang mencari sesuatu yang terasa makin langka hari ini, yakni dunia yang sedikit lebih lambat, sedikit kurang sempurna, dan mungkin terasa lebih nyata. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *