
Ada yang membutuhkan semangat. Ada pula yang membutuhkan seseorang untuk mendengar, mengambil sebagian beban, dan memberinya waktu beristirahat.
HARI Minggu datang. Namun, bagi sebagian orang, kepalanya masih berada di hari Senin.
Ada pekerjaan yang belum selesai. Pesan atasan yang belum dibalas. Tagihan yang tanggal jatuh temponya lebih mudah diingat daripada ulang tahun sendiri.
Ketika seseorang akhirnya berkata, “Aku capek,” jawaban kita sering begitu cepat.
“Semangat, ya.”
“Kamu pasti bisa.”
Ucapan itu bisa lahir dari kasih sayang. Kita ingin menguatkan. Kita ingin orang yang disayangi tidak menyerah. Namun, pernahkah kita berhenti sebentar untuk mendengar apa yang sebenarnya sedang ia minta?
Mungkin ia membutuhkan teman bicara. Mungkin ia memerlukan bantuan. Mungkin, untuk sekali ini, ia ingin mengakui bahwa tenaganya terbatas tanpa harus menjelaskan mengapa.
Pada pertengahan Oktober, keluhan lelah seorang pegawai SPBU di Denpasar menjadi pemberitaan. Dalam laporan Radar Badung, Gubernur Bali Wayan Koster meminta pelayanan tetap berjalan meski petugas lelah. Pemerintah daerah juga mengerahkan personel TNI untuk membantu operasional malam hari di sejumlah SPBU.
Pelayanan publik memang perlu dijaga. Ada masyarakat yang membutuhkan bahan bakar untuk bekerja dan menjalankan kegiatan sehari-hari. Pada saat yang sama, orang yang melayani mereka juga memiliki tubuh yang perlu dipulihkan.
Dari sana, pertanyaan yang lebih dekat dengan hidup kita muncul. Ketika sebuah pekerjaan harus terus berjalan, siapa yang memastikan orang-orang di dalamnya memperoleh kesempatan beristirahat?
Menyembunyikan Lelah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal banyak versi permintaan untuk terus kuat.
Anak sulung yang diharapkan selalu mengerti keadaan keluarga. Pegawai baru yang sungkan mengaku kewalahan karena masih ingin membuktikan diri. Pencari kerja yang menyimpan kabar penolakan agar orang tuanya tidak ikut khawatir.
Ada pula orang yang sudah menjadi tempat bersandar begitu lama sampai lupa bagaimana caranya meminta pertolongan.
Bayangkan seseorang yang seharian melayani pelanggan. Ia pulang, membuka percakapan keluarga, lalu mengetik, “Hari ini berat sekali.”
Baca juga: Ketika Orang Terdekat Memilih Diam
Sebelum pesannya selesai dibaca, nasihat berdatangan. Ia diminta bersyukur masih memiliki pekerjaan. Diingatkan bahwa banyak orang menghadapi keadaan lebih sulit.
Percakapan pun berhenti. Besok, mungkin ia memilih menjawab, “Baik-baik saja.”
Kita kehilangan kesempatan mengetahui keadaannya.
Membandingkan kesulitan memang bisa memberi perspektif. Tetapi jika setiap keluhan harus melewati perbandingan, kapan seseorang boleh merasa cukup aman untuk bercerita?

Semangat yang Disertai Tindakan
Ketangguhan membantu kita melewati banyak hal. Hidup memiliki tuntutan, dan sebagian memang perlu dijalani meski terasa berat.
Namun, ketangguhan juga membutuhkan dukungan yang nyata.
Di tempat kerja, dukungan itu bisa berupa pembagian tugas yang masuk akal, pergantian petugas, atau kesempatan mengambil jeda. Dalam keluarga, bentuknya bisa sesederhana bergantian mengurus orang tua dan pekerjaan rumah.
Dalam pertemanan, kita bisa mulai dengan mendengarkan sampai selesai.
“Apa yang paling berat?”
“Ada yang bisa kubantu?”
Baca juga: Kapan Cukup Lewat Layar?
Pertanyaan seperti itu memberi ruang bagi jawaban yang selama ini tertahan. Kita pun memperoleh kesempatan memahami bantuan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Tentu, kita tidak selalu sanggup menyelesaikan masalah orang lain. Ada persoalan yang melampaui kemampuan seorang teman, pasangan, atau anggota keluarga. Mendengarkan tetap berarti. Begitu pula mengakui dengan jujur apa yang bisa kita lakukan, lalu menepatinya.
Membawakan makan malam. Menggantikan satu tugas. Menemani mengurus sesuatu yang terus tertunda.
Perhatian menjadi terasa ketika hadir dalam tindakan.
Sebelum Meminta Lebih Kuat
Hari Minggu ini, barangkali kita bisa memikirkan seseorang yang selalu terlihat sanggup.
Orang yang paling cepat menjawab pesan. Yang jarang menolak permintaan. Yang selalu berkata, “Biar aku saja.”
Kita mungkin sudah terlalu terbiasa menerima bantuannya. Begitu terbiasa sampai tidak lagi bertanya apakah ia masih memiliki tenaga.
Cobalah menghubunginya tanpa membawa permintaan baru. Beri ia waktu menjawab dengan jujur. Jika ia bercerita, tahan keinginan untuk segera memberi pelajaran.
Hal serupa boleh kita lakukan kepada diri sendiri. Mengakui lelah memberi kita kesempatan mengenali batas, menata ulang pekerjaan, dan mencari bantuan sebelum beban semakin sulit ditanggung.
Sebelum meminta seseorang lebih kuat, mungkin kita perlu bertanya, apa yang bisa kita ringankan?
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA