Dari Aceh ke Sydney, Rasa Gayo yang Menyeberang Samudra

Hidangan interpretasi masakan Gayo dan Aceh yang disiapkan Avi di Sydney, termasuk asam udeung vegan dan pliek u dengan jantung pisang. Foto: Dok. Pribadi Avi.

BANJIR dan longsor membawa Avi Mahaningtyas ke Aceh. Dari perjalanan kemanusiaan itu, lahir kisah yang tak biasa, rasa Gayo yang akhirnya tersaji di meja keluarga Joaquin Phoenix di Sydney.

Avi adalah WNI yang menetap di Sydney dan menikah dengan warga Australia. Ia terbiasa bolak-balik dua negara, membawa kecintaannya pada rempah dan cerita makanan Nusantara. Ketika bencana melanda Aceh akhir 2025, ia memilih datang langsung membantu.

Namun perjalanan itu tak mulus.

Beberapa hari ia tertahan, menunggu akses menuju wilayah terdampak. Setelah mendapat kabar aman dari sahabatnya, Samsidar Syamsuddin, warga Gayo yang rumahnya hanya dua kilometer dari Danau Laut Tawar, Avi pada 2 Januari 2026 menempuh perjalanan darat selama 8,5 jam menuju Takengon.

Luka di Tepi Danau

Rute Banda Aceh–Takengon melewati Pidie Jaya hingga Bener Meriah. Di pinggir Danau Laut Tawar, kampung halaman sahabatnya rata oleh banjir. Lumpur menutup kenangan masa kecil. Warga sudah puluhan hari tak merasakan protein segar.

Avi membawa ikan tongkol pesanan para pengungsi, juga obat-obatan, alat salat, dan pakaian dalam perempuan.

Baca juga: Menembus Jalan Runtuh, Relawan Mengantar Harapan ke Gayo

Di dapur pengungsi Kala Segi, ibu-ibu memasak Asam Jing dengan air yang keruh meski sudah disaring. Bau lumpur masih terasa. Tapi, dapur tetap menyala.

“Banyak yang berbagi makanan meski dalam kondisi sulit. Dari situ saya belajar banyak,” kata Avi.

Rasa yang Tak Ikut Tenggelam

Di sela-sela aktivitas kemanusiaan, Avi menemukan sesuatu yang tak kalah penting, rasa.

Sebagai pencinta rempah, ia diajak mencicipi Sie Reuboh, Kuah Beulangong, Asam Keu-eung, Asam Udeung, lontong kari bebek dengan buncis tauco pedas, timphan, bohromrom, kuah Pliek U, hingga cicah depik dari Danau Laut Tawar.

“Makannya kayak orang keluar penjara. Gas pol, rem blong,” ujarnya.

Semua rasa itu ia simpan. Bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan diterjemahkan.

Avi Mahaningtyas bersama Heart Phoenix di Sydney. Hidangan interpretasi masakan Gayo dan Aceh versi vegan tersaji dalam suasana hangat lintas budaya. Foto: Dok. Pribadi Avi.
Dari Danau Laut Tawar ke Northern Rivers

Eksperimen rasa itu berlanjut di Northern Rivers, New South Wales, kawasan subtropis yang dikenal dengan kebun-kebun organik komunitas hippies.

Semua bahan diambil dari kebun lokal.

Pucuk labu siam diganti pucuk daun markisa dan waluh.
Asam sunti diterjemahkan dengan rhubarb dan jeruk purut.
Asam udeung dihadirkan tanpa udang.
Jamur tangkap menggantikan protein hewani.

Baca juga: Puluhan Kilometer di Atas Lumpur, Warga Gayo Berjalan Demi Dapur

Ini bukan sekadar veganisasi. Ini adaptasi rasa terhadap tanah, iklim, dan ketersediaan bahan.

“Itu semua interpretasi masakan Gayo dan Aceh. Saya ingin tetap menghormati rasa aslinya,” ujar Avi.

Meja yang Menyatukan

Hidangan itu akhirnya tersaji di Sydney, di meja Heart Phoenix, aktivis sosial berusia 80 tahun dan ibu aktor Joaquin Phoenix, yang menjalani pola makan vegan.

Di dapur yang jauh dari Danau Laut Tawar, aroma Gayo tetap hidup.

Kisah ini bukan tentang Hollywood. Ini tentang perjalanan empati.

Dari lumpur banjir di Aceh,
ke dapur pengungsi,
ke kebun subtropis di New South Wales,
hingga meja makan lintas budaya.

Rempah tak ikut tenggelam. Tapi, beradaptasi dan menyeberang samudra. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *