
JAKARTA, mulamula.id – Datang ke pasar membawa uang Rp100 ribu mungkin masih terasa biasa. Namun, begitu mulai menghitung harga cabai, telur, beras, dan minyak goreng, daftar belanja bisa mendadak harus dipangkas.
Harga kebutuhan pangan kembali menjadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Oktober 2026. Meski laju inflasi tahunan sedikit melambat, harga sejumlah bahan makanan tetap memberi tekanan pada pengeluaran rumah tangga.
BPS mencatat inflasi tahunan Oktober sebesar 3,23 persen, turun tipis dari 3,28 persen pada September. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi lebih tinggi, yakni 4,82 persen.
Artinya, rata-rata harga dalam kelompok kebutuhan tersebut masih meningkat dibandingkan setahun sebelumnya. Bagi masyarakat yang sebagian besar uang bulanannya digunakan untuk makan, angka itu bukan sekadar statistik.
Cabai Jadi Sorotan
Tekanan harga terlihat dari pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia.
Pada Senin, 2 November 2026, pukul 09.52 WIB, harga cabai rawit merah tercatat Rp124.400 per kilogram. Cabai merah keriting mencapai Rp101.900 per kilogram, sementara cabai merah besar berada di Rp91.250 per kilogram.
Bukan hanya cabai. Harga telur ayam ras tercatat Rp39.400 per kilogram, daging ayam ras Rp53.750 per kilogram, dan minyak goreng curah Rp25.650 per liter.
Baca juga: Kerja Tiap Hari, Kenapa Hidup Makin Susah Dikejar?
Beras kualitas medium I tercatat Rp22.300 per kilogram. Seluruh angka tersebut merupakan hasil pemantauan PIHPS pada waktu tertentu dan dapat berbeda antarwilayah serta pasar.
BPS juga mengidentifikasi cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, dan daging ayam ras sebagai sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan kelompok pangan.
Inflasi Turun, Harga Bertahan
Ada hal penting yang sering luput saat membaca berita inflasi. Ketika inflasi turun, bukan berarti harga otomatis kembali murah.
Penurunan inflasi dari 3,28 persen menjadi 3,23 persen menunjukkan bahwa laju kenaikan harga secara tahunan sedikit melambat. Secara umum, harga tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bahkan, secara bulanan, BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22 persen. Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi pendorong penting dalam kelompok makanan.
Baca juga: Uang Cepat Habis? Bisa Jadi Hidup Makin Mahal
Ini menjelaskan mengapa angka inflasi nasional yang terlihat relatif terkendali belum tentu membuat belanja sehari-hari terasa ringan.
Apalagi, kebutuhan pangan tidak bisa ditunda seperti membeli pakaian baru atau mengganti ponsel. Orang tetap harus makan, sekalipun beberapa bahan makanan sedang mahal.
Dompet Ikut Menyesuaikan
Tekanan harga paling mudah terasa pada anggaran yang terbatas. Mahasiswa yang tinggal di kos, pekerja bergaji tetap, hingga keluarga muda perlu mengatur pengeluaran agar kebutuhan makan tidak mengganggu biaya transportasi dan tagihan bulanan.
Pilihan yang tersedia memang ada. Membandingkan harga antarpenjual, membeli bahan musiman, atau menyesuaikan menu bisa membantu mengendalikan pengeluaran.
Namun, berhemat bukan jawaban untuk semua persoalan.
Baca juga: Rupiah Melemah Lagi, Harga Apa Menyusul Naik?
Konsumen tidak dapat mengendalikan biaya distribusi, gangguan pasokan, ataupun perubahan harga di tingkat produsen. Karena itu, menjaga keterjangkauan pangan juga membutuhkan pasokan yang stabil, distribusi lancar, dan pengawasan harga yang efektif.
Pemerintah perlu memastikan gejolak harga tidak terus membebani kelompok berpenghasilan terbatas, terutama ketika kenaikan biaya makan berlangsung bersamaan dengan kebutuhan hidup lainnya.
Pada akhirnya, urusan harga pangan bukan hanya soal berapa persen inflasi tercatat.
Bagi banyak orang, ukuran paling sederhana justru muncul saat membayar belanjaan. Apakah uang yang dibawa masih cukup untuk membawa pulang semua kebutuhan? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.