Pemuda Diminta Berkontribusi, Peluangnya Sudah Terbuka?

Ilustrasi aktivitas warga di Jakarta. Momentum Sumpah Pemuda 2026 kembali mengingatkan pentingnya membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda terhadap pendidikan, keterampilan, dan pekerjaan. Foto: Febry Arya/ Pexels.

Menjelang Sumpah Pemuda ke-98, jutaan anak muda Indonesia masih menghadapi tantangan memperoleh pekerjaan dan kesempatan mengembangkan diri.

ANAK muda Indonesia kembali diajak tampil sebagai penggerak masa depan bangsa. Semangat persatuan, kreativitas, dan kontribusi akan menjadi pesan utama peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.

Namun, di balik ajakan tersebut, ada kenyataan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan semangat.

Banyak anak muda telah menempuh pendidikan, mengirim lamaran kerja, mengikuti pelatihan, hingga mencoba membangun usaha. Tidak semuanya berhasil menemukan kesempatan yang mereka harapkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persoalan itu belum kecil.

Pada 2025, sebanyak 19,44 persen penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia tergolong NEET (not in employment, education, or training). Artinya, hampir satu dari lima anak muda dalam kelompok usia tersebut tidak sedang bekerja, bersekolah, ataupun mengikuti pelatihan. 

Angka ini bukan berarti seluruhnya penganggur. Sebagian mungkin menghadapi tanggung jawab rumah tangga, keterbatasan akses pendidikan, atau hambatan lain. Namun, proporsinya memperlihatkan besarnya tantangan untuk memastikan anak muda tetap terhubung dengan pendidikan dan kegiatan ekonomi.

Persoalannya bukan hanya bagaimana generasi muda bersedia berkontribusi. Negara, dunia usaha, dan lembaga pendidikan juga perlu menyediakan jalan agar kontribusi itu memiliki ruang.

Ketika Usia Muda Belum Menjamin Kesempatan

Persaingan masuk dunia kerja menjadi salah satu tantangan terbesar.

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen pada 2025. Sementara kelompok usia 15–19 tahun menghadapi tingkat pengangguran 23,34 persen.

Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran terbuka keseluruhan tercatat 4,85 persen pada periode data yang sama. 

Angka tersebut menggambarkan tingkat pengangguran dalam angkatan kerja masing-masing kelompok, bukan persentase seluruh penduduk pada usia itu.

Situasi ini memperlihatkan bahwa masa transisi dari bangku sekolah atau kuliah menuju dunia kerja belum selalu berjalan mulus.

Bahkan, memiliki pekerjaan pun tidak otomatis menjamin jam kerja yang mencukupi. Pada 2025, BPS mencatat tingkat setengah pengangguran usia 20-24 tahun sebesar 13,13 persen, lebih tinggi daripada rata-rata keseluruhan sebesar 7,91 persen. 

Artinya, tantangan generasi muda tidak berhenti pada mendapatkan pekerjaan. Kualitas dan kecukupan pekerjaan juga perlu menjadi perhatian.

Pemerintah Menyiapkan Ruang bagi Pemuda

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai pembangunan kepemudaan perlu mendapatkan perhatian lebih besar, terutama ketika Indonesia mendekati puncak bonus demografi.

Dalam Forum Nasional Transformasi Kebijakan Kepemudaan dan Keolahragaan di Jakarta, 15 Oktober 2026, Erick meminta pemerintah pusat dan daerah membangun perspektif baru tentang peran generasi muda.

Kemenpora, menurutnya, sedang menyiapkan sejumlah langkah, termasuk Career Hub, perluasan program magang bersama BUMN dan swasta, serta program pengembangan kewirausahaan.

Erick juga mendorong perubahan tata kelola kepemudaan agar persoalan anak muda tidak hanya ditangani melalui kegiatan atau organisasi, tetapi menjadi bagian lebih terintegrasi dari kebijakan pemerintah daerah. 

Langkah tersebut menunjukkan pemerintah menyadari pentingnya membuka akses dan memperluas kesempatan.

Meski demikian, program yang diumumkan masih perlu dinilai melalui pelaksanaan dan hasilnya. Berapa banyak anak muda yang memperoleh pekerjaan setelah mengikuti pelatihan atau magang. Sejauh mana kesempatan tersebut juga menjangkau mereka yang berada di luar kota besar?

Ukuran keberhasilan program kepemudaan tidak cukup berhenti pada jumlah peserta atau kegiatan.

Ijazah Saja Tidak Lagi Cukup

Tantangan lain datang dari perubahan kebutuhan industri.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan ekonomi hijau sedang mengubah jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan.

Dalam kuliah umum di Universitas Baiturrahmah, Padang, pada 25 September 2026, Yassierli menekankan pentingnya kompetensi, pengalaman praktik, kemampuan beradaptasi, dan kemauan terus belajar.

Menurutnya, pendidikan formal tetap penting, tetapi harus dilengkapi keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Kemnaker mendorong peningkatan keterampilan melalui balai pelatihan vokasi, program magang nasional, serta sertifikasi kompetensi. 

Baca juga: 17,4 Persen Anak Muda Menganggur, Apa yang Salah?

Pernyataan itu memberi gambaran bahwa tuntutan terhadap pencari kerja muda semakin kompleks.

Mereka bukan hanya diminta menguasai bidang studinya, tetapi juga memahami teknologi baru, membangun portofolio, dan terus memperbarui keterampilan.

Namun, tanggung jawab menghadapi perubahan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada individu.

Perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan antara pembelajaran dan kebutuhan pekerjaan. Perusahaan perlu menyediakan kesempatan bagi kandidat yang belum memiliki pengalaman panjang. Pemerintah juga perlu memastikan akses pelatihan tidak hanya dinikmati mereka yang sudah memiliki fasilitas dan jaringan memadai.

Tanpa dukungan tersebut, tuntutan agar anak muda terus meningkatkan kemampuan berisiko menjadi beban tambahan bagi mereka yang sejak awal memiliki kesempatan terbatas.

Kesempatan Tidak Merata di Setiap Daerah

Tantangan kepemudaan juga memiliki dimensi wilayah.

Data BPS 2025 menunjukkan proporsi pemuda usia 15–24 tahun yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan mencapai 24,84 persen di Jawa Barat dan 23,72 persen di Banten.

Sebaliknya, Bali mencatat 5,33 persen dan DI Yogyakarta 11,25 persen. 

Perbedaan tersebut tidak bisa langsung diartikan bahwa kebijakan satu daerah lebih berhasil daripada daerah lain. Struktur ekonomi, pendidikan, migrasi, dan karakteristik penduduk turut memengaruhi hasilnya.

Namun, variasi angka ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan setiap wilayah.

Baca juga: 732 Ribu Berebut Magang, Sesulit Apa Cari Kerja?

Kesempatan yang terasa dekat bagi anak muda di kota pendidikan belum tentu sama bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat pelatihan, jaringan usaha, atau kawasan industri.

Pemerataan akses menjadi bagian penting dari agenda pembangunan pemuda.

Sumpah Pemuda dan Masa Depan yang Nyata

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 tahun ini mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.”Pemerintah mengajak generasi muda memperkuat persatuan, ketangguhan, dan kepedulian sosial. 

Pesan tersebut tetap relevan. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu bekerja sama, menjaga persatuan, serta mengambil bagian dalam perubahan.

Tetapi, kontribusi tidak lahir dari ajakan semata.

Anak muda juga membutuhkan pendidikan yang terjangkau, kesempatan memperoleh pengalaman, pasar kerja yang terbuka, serta lingkungan yang memberi ruang bagi gagasan baru.

Baca juga: Anak Muda Ingin Kerja Kreatif, tapi Pintu Masuknya Belum Lebar

Karena itu, menjelang Sumpah Pemuda, persoalan terpenting bukan hanya seberapa besar harapan bangsa terhadap generasi mudanya.

Yang sama pentingnya adalah seberapa jauh harapan tersebut didukung oleh kesempatan nyata.

Sebab, masa depan tidak cukup dipercayakan kepada anak muda. Jalan menuju masa depan itu juga harus dibuka. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *