
SEPORSI makan gratis seharusnya membuat keluarga lebih tenang. Anak mendapat asupan di sekolah, pengeluaran rumah tangga terbantu. Namun, manfaat itu membutuhkan satu fondasi, makanan yang aman dan pengawasan yang bekerja.
Fondasi tersebut kini menjadi perhatian Ombudsman Republik Indonesia. Lembaga pengawas pelayanan publik itu telah menerima laporan dari 34 provinsi terkait penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan tersebut akan menjadi bahan rekomendasi perbaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Angka 34 provinsi perlu dibaca dengan tepat. Itu merupakan asal laporan yang dihimpun, bukan jumlah provinsi yang mengalami keracunan. Rincian persoalan di setiap daerah juga belum dipaparkan dalam siaran pers pertemuan kedua lembaga.
Bagi siswa dan orang tua, persoalannya sangat konkret: bagaimana makanan diperiksa sebelum dibagikan, siapa yang menerima keluhan, dan apa yang berubah setelah masalah ditemukan.
Keamanan Jadi Fokus
Ketua Ombudsman Nuzran Joher menegaskan bahwa pengawasan MBG menyangkut pemenuhan hak masyarakat. Dalam pertemuan dengan Kepala BGN Sudaryono di Jakarta, Selasa (6/10/2026), ia menjelaskan rencana Investigasi Atas Prakarsa Sendiri terkait keamanan pangan dan penanganan keracunan MBG.
“Apa yang kurang dan yang harus diperbaiki secara menyeluruh,” ujar Nuzran, menjelaskan arah saran perbaikan tata kelola.
Baca juga: Cuma 2 Telur Tiap Pagi, Efeknya Nggak Main-main Buat Tubuhmu
Hasil pengawasan akan dituangkan dalam dokumen Saran Perbaikan untuk evaluasi dan tindak lanjut pihak terkait. Ombudsman juga menyebut telah menyampaikan hasil kajian pada 2025. Artinya, pengawasan ini mempunyai pekerjaan lanjutan: memastikan masukan sebelumnya menghasilkan perubahan.
Pengawasan akan lebih berarti jika masyarakat bisa mengetahui hasilnya. Persoalan yang ditemukan, pihak yang bertanggung jawab, serta langkah koreksi perlu dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dengan begitu, keluarga memiliki dasar untuk menilai pelaksanaan program di sekolah anaknya.
Prasmanan Masih Percobaan
BGN juga sedang mencoba perubahan cara penyajian. Dalam keterangan 5 Oktober, Sudaryono menyebut uji coba prasmanan di kelas telah berjalan di sekitar lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Makanan dibawa hangat ke kelas, lalu disajikan di sana. Menurut BGN, model ini diharapkan memperpendek jeda antara memasak dan konsumsi, menjaga kualitas makanan, serta mengurangi makanan terbuang. Pelaksanaannya membutuhkan kesiapan dapur, sekolah, dan pelatihan petugas.
Baca juga: Cara Makan Diam-diam Menentukan Kesehatan
Status percobaan itu penting. Tujuan memperbaiki kualitas belum sama dengan bukti bahwa model tersebut berhasil di semua sekolah. Hasil evaluasi tetap diperlukan sebelum penerapannya diperluas.
Pedoman Sertifikasi Keamanan Pangan BGN sendiri mengatur perlindungan makanan dalam penyajian prasmanan serta pengendalian waktu dan suhu. Pergantian bentuk penyajian tetap harus mengikuti standar keamanan pangan.
Keluhan Harus Berujung
Sudaryono menyatakan BGN terbuka terhadap kajian, kritik, dan saran Ombudsman. “BGN tidak menutup mata terhadap persoalan,” katanya.
Ia menilai masukan yang bersumber dari kondisi faktual di lapangan penting untuk pembenahan MBG. Pernyataan itu membuka ruang bagi pengawasan. Langkah berikutnya adalah menunjukkan bagaimana masukan tersebut ditangani.
Ukuran praktisnya sederhana. Keluhan siswa dan orang tua memperoleh respons. Sekolah mengetahui jalur pelaporan. Pengelola dapur menjalankan koreksi yang bisa diperiksa. Hasil evaluasi menjelaskan apakah persoalan berulang atau sudah selesai.
Keterbukaan semacam itu membantu menjaga kepercayaan sekaligus memberi pelaksana kesempatan memperbaiki layanan berdasarkan bukti.
MBG membawa harapan besar bagi banyak keluarga. Harapan tersebut perlu dijaga setiap hari, sejak makanan disiapkan hingga disantap siswa.
Bagi orang tua, keberhasilan program terasa ketika anak mendapat makanan layak, pulang dalam keadaan sehat, dan keluhannya didengar. Pengawasan harus mampu memastikan pengalaman itu. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.