
JAKARTA, mulamula.id – Bayangkan ini, pejabat negara makan siang di pasar. Duduk santai. Ngopi. Tanpa protokoler berlebihan. Tanpa rasa canggung.
Di Tokyo, itu biasa. Di Bangkok, itu lumrah. Di Jakarta? Masih jadi mimpi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, ingin mengubah itu. Ia mendorong pasar-pasar di Ibu Kota naik kelas. Bukan cuma tempat jual beli. Tapi ruang sosial, ruang budaya, bahkan destinasi wisata kota.
Belajar dari Tokyo dan Bangkok
Kalau ke Tokyo, banyak orang menyempatkan diri ke Tsukiji Outer Market. Di Kyoto, ada Nishiki Market yang selalu ramai turis. Sementara Bangkok punya Chatuchak Market yang jadi ikon kota.
Baca juga: Dukuh Atas Bakal Punya Jembatan Pejalan Kaki, MRT Jakarta Satukan Semua Moda
Pasar bukan sekadar tempat beli ikan atau baju murah. Kota jadi pengalaman. Orang datang untuk suasana. Untuk kuliner. Untuk cerita.
“Semua bisa duduk santai. Mau menteri, presiden, atau warga biasa,” kata Pramono dalam forum diskusi di Balai Kota, Senin (23/2/2026).
Jakarta, menurutnya, punya potensi yang sama.
153 Pasar, Rp150 Triliun
Data Pemprov menunjukkan Jakarta memiliki 153 pasar. Total transaksi mencapai lebih dari Rp150 triliun per tahun. Ada sekitar 286 ribu UMKM menggantungkan hidup di dalamnya.
Ini bukan angka kecil. Ini mesin ekonomi kota.
Masalahnya, wajah pasar belum sepenuhnya nyaman. Masih ada soal kebersihan. Tata ruang. Parkir liar. Akses transportasi yang belum terintegrasi.
Padahal, jika ditata serius, pasar bisa jadi katalis pembangunan.

Gen Z dan Digitalisasi
Langkah awal sebenarnya sudah terlihat. Saat lomba digitalisasi QRIS digelar di 20 pasar, transaksi naik hampir 47 persen dalam dua pekan.
Artinya jelas. Pedagang siap. Pembeli juga siap.
Buat Gen Z yang terbiasa cashless, ini kabar baik. Bayar cepat. Tidak ribet. Lebih aman.
Tinggal satu hal, pengalaman ruangnya harus ikut berubah.
Baca juga: MRT Bikin Mal Jakarta Naik Kelas
Pasar perlu lebih bersih. Lebih terang. Lebih tertib. Tidak ada premanisme parkir. Akses mudah lewat MRT atau transportasi publik.
Jika integrasi ini berjalan, kawasan seperti Pasar Baru dan Glodok bisa hidup lagi. Bukan cuma sebagai pusat belanja, tapi ruang nongkrong urban.
Bukan Sekadar Renovasi
Transformasi pasar bukan soal ganti cat atau pasang lampu LED. Ini soal ekosistem. Soal rasa aman. Soal desain ruang yang bikin orang betah.
Bayangkan ada area duduk nyaman. Kopi lokal enak. Street food higienis. Event kreatif rutin. Instalasi seni. Semua ada dalam satu ruang.
Baca juga: Stasiun Gambir Disiapkan Jadi Hub Transportasi Terpadu Jakarta
Pasar tak lagi identik dengan masa lalu. Tapi jadi wajah baru Jakarta. Pertanyaannya sekarang sederhana, kita mau sampai di level itu, atau tidak?
Karena jika suatu hari diplomat asing makan siang di Pasar Santa, atau turis mancanegara sengaja mampir ke Glodok untuk merasakan atmosfernya, mungkin saat itu Jakarta benar-benar sudah naik kelas. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.