AI Kini Jadi ‘Mata Kedua’ Dokter, Diagnosis Kanker Lebih Cepat

Seorang dokter menganalisis hasil CT scan paru dengan sistem digital. Integrasi AI kini membantu mempercepat dan meningkatkan akurasi diagnosis kanker di Indonesia. Foto: Ilustrasi/ Mart Production/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id – Ruang diagnosis kanker di Indonesia mulai berubah. Kini, dokter tak lagi bekerja sendirian. Ada “mata kedua” yang ikut membaca hasil pemeriksaan.

Artificial Intelligence (AI) mulai digunakan sebagai first reader dalam skrining kanker payudara dan kanker paru.

Transformasi ini dibahas dalam diskusi “Hari Kanker Sedunia: Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI” yang digelar AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals di Jakarta, akhir bulan lalu.

Dalam forum itu, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, dokter spesialis penyakit dalam dan subspesialis hematologi onkologi medik, menegaskan AI bukan pengganti dokter.

“AI tidak akan menggantikan dokter. Tapi dokter yang tidak pakai AI bisa kalah dengan yang pakai AI,” ungkapnya.

Pernyataan itu muncul di tengah lonjakan beban kanker nasional.

Lonjakan Kasus, Waktu Kian Sempit

Data GLOBOCAN mencatat sekitar 65 ribu kasus baru kanker payudara pada 2020, dengan lebih dari 22 ribu kematian.

Secara nasional, sekitar 400 ribu kasus kanker baru terdeteksi setiap tahun. Angka kematian mencapai 240 ribu kasus.

Kementerian Kesehatan memproyeksikan kenaikan lebih dari 70 persen pada 2050 jika deteksi dini tidak diperkuat.

Masalahnya bukan hanya jumlah. Tapi, keterlambatan.

Baca juga; AI Setara Manusia Tinggal Selangkah Lagi, Dunia Siap?

Dokter pulmonologi subspesialis onkologi toraks, dr. Sita Laksmi Andarini, menyebut sekitar 90 persen pasien kanker paru datang dalam stadium lanjut. Padahal, pergeseran stadium bisa terjadi dalam 1 hingga 1,5 tahun.

Artinya, jeda satu tahun saja bisa mengubah peluang terapi secara drastis.

Biaya pun melonjak. Penanganan stadium lanjut bisa empat sampai lima kali lebih mahal dibanding stadium awal.

Bagaimana AI Bekerja?

Pada kanker payudara, AI membantu menilai status HER2, protein yang mendorong pertumbuhan sel kanker lebih agresif.

Kategori HER2-low dan HER2-ultra low sering kali punya batas tipis. Studi yang dipresentasikan dalam ASCO 2025 menunjukkan AI mampu meningkatkan deteksi HER2-ultra low hingga 40 persen, dengan akurasi mendekati 92 persen.

Pada kanker paru, AI membaca foto toraks dan menandai nodul mencurigakan sebelum diverifikasi dokter radiologi.

dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad., menjelaskan sistem ini membantu memprioritaskan kasus abnormal dan memangkas waktu laporan hingga sekitar 40 persen.

Namun keputusan akhir tetap di tangan dokter.

Tantangan Indonesia: Dokter Terbatas, Wilayah Luas

Dokter patologi anatomi di Indonesia masih terbatas jumlahnya. Sementara Indonesia adalah negara kepulauan dengan tantangan distribusi layanan.

Menurut dr. Patricia Diana Prasetyo, Msi.Med., Sp.PA., integrasi AI memungkinkan hasil pemeriksaan dibagikan lintas fasilitas kesehatan secara digital. Konsultasi kasus bisa dilakukan jarak jauh tanpa memindahkan sampel fisik.

Kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals menjadi salah satu model implementasi awal.

Baca juga: Ketika AI Salah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Presiden Direktur Siloam, David Utama, menegaskan teknologi ini dirancang sebagai pendamping klinis. Sementara President Director AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menyebut integrasi AI sebagai bagian dari penguatan ekosistem layanan kanker nasional.

Dua Mata Lebih Tajam dari Satu

AI bisa membaca ribuan data dalam hitungan detik.
Dokter membaca konteks, risiko, dan kondisi pasien.

Ketika keduanya bekerja bersama, diagnosis bisa lebih cepat dan lebih presisi.

Dan di tengah ancaman lonjakan kasus kanker, Indonesia mungkin memang membutuhkan satu hal sederhana, tambahan satu mata lagi untuk melihat lebih jelas.

Apakah Semua Rumah Sakit Siap?

Meski AI mulai diintegrasikan di sejumlah rumah sakit besar, pertanyaan berikutnya lebih mendasar, apakah teknologi ini bisa diakses secara merata?

Indonesia masih menghadapi ketimpangan fasilitas kesehatan antarwilayah. Rumah sakit di kota besar mungkin lebih siap dari sisi infrastruktur digital dan sumber daya manusia. Namun di daerah, ketersediaan perangkat radiologi canggih saja belum merata.

Implementasi AI membutuhkan sistem digital yang stabil, konektivitas yang baik, serta integrasi data antarunit layanan. Tanpa itu, AI hanya akan menjadi teknologi eksklusif di segelintir fasilitas kesehatan.

Baca juga: ASEAN vs Deepfake, Indonesia Dorong Aturan Bersama Lawan Manipulasi AI

Selain itu, regulasi dan tata kelola data medis juga menjadi tantangan tersendiri. Penggunaan AI dalam diagnosis menyentuh isu keamanan data pasien, validasi klinis, serta standar etika medis.

Artinya, transformasi ini bukan hanya soal menghadirkan teknologi. Tapi, juga soal kesiapan sistem.

Jika tidak dikelola dengan baik, kesenjangan akses bisa semakin lebar. Namun jika dirancang sebagai bagian dari strategi nasional deteksi dini kanker, AI justru bisa menjadi alat untuk memperkecil jurang tersebut.

Karena pada akhirnya, “mata kedua” hanya berarti jika ia bisa melihat untuk semua. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *