
JAKARTA, mulamula.id – Serangan air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus kini menjadi perhatian dunia. Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam dan meminta pemerintah Indonesia mengusut kasus tersebut secara serius.
Melalui akun resmi di platform X, @UNHumanRights menyebut serangan terhadap Wakil Koordinator Urusan Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu sebagai tindakan kekerasan yang tidak dapat ditoleransi.
PBB menegaskan para pelaku harus dimintai pertanggungjawaban. Pembela HAM, menurut lembaga internasional tersebut, harus dapat menjalankan pekerjaannya tanpa rasa takut.
“Pembela hak asasi manusia harus dilindungi dalam pekerjaan vital mereka dan dapat mengangkat isu kepentingan publik tanpa intimidasi,” tulis akun tersebut, Sabtu (14/3/2026).
PBB Tekankan Bahaya Impunitas
Sorotan serupa datang dari Pelapor Khusus PBB untuk Pembela HAM, Mary Lawlor. Ia menyatakan sangat khawatir atas laporan serangan yang menimpa Andrie Yunus.
Dalam pernyataannya di media sosial, Lawlor menilai kekerasan terhadap pembela HAM tidak boleh dibiarkan tanpa konsekuensi hukum.
“Saya mendengar kabar yang sangat mengkhawatirkan bahwa Andrie Yunus mengalami serangan air keras yang menyebabkan luka serius,” tulisnya.
Ia mendesak aparat penegak hukum di Indonesia melakukan penyelidikan menyeluruh. Menurut Lawlor, praktik impunitas terhadap kekerasan kepada pembela HAM adalah ancaman serius bagi demokrasi.
“Impunitas atas kekerasan terhadap pembela HAM tidak dapat diterima,” tegasnya.

Serangan Terjadi di Jakarta Pusat
Peristiwa penyiraman air keras terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Saat itu Andrie baru pulang dari kegiatan rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Di sekitar Jembatan Talang, korban diduga dihampiri dua pria yang berboncengan sepeda motor. Motor yang digunakan disebut-sebut merupakan Honda Beat keluaran sekitar 2016–2021.
Menurut keterangan dari KontraS, kedua pelaku datang dari arah berlawanan. Salah satu pelaku kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban.
Cairan tersebut mengenai sisi kanan tubuh Andrie, terutama wajah, mata, dada, dan tangan.
Setelah melakukan aksinya, kedua pelaku langsung melarikan diri. Sementara korban terlihat limbung dan sempat menghentikan kendaraannya.
Serangan Picu Kecaman Publik
Kasus ini memicu reaksi keras dari kelompok masyarakat sipil. Banyak pihak menilai serangan tersebut sebagai upaya membungkam suara kritis yang selama ini mengadvokasi isu hak asasi manusia.
Dimas, perwakilan KontraS, menyebut tindakan tersebut sebagai kekerasan brutal yang mencederai nilai kemanusiaan.
“Ini bukan lagi sekadar alarm. Ini marabahaya. Bulan suci dinodai dengan tindakan yang sangat brutal, buruk, dan zalim,” ujarnya.
Serangan terhadap pembela HAM bukanlah isu kecil. Dalam banyak kasus global, intimidasi terhadap aktivis sering menjadi indikator melemahnya perlindungan terhadap kebebasan sipil.
Karena itu, desakan agar aparat mengusut tuntas kasus ini terus menguat. Bagi banyak pihak, penegakan hukum yang transparan akan menjadi ujian penting bagi komitmen Indonesia terhadap perlindungan hak asasi manusia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.