
Mulamula.id – Perempuan muda kini menghadapi realitas baru di dunia kerja global. Bukan soal malas. Bukan pula soal kurang ambisi. Data terbaru justru menunjukkan masalahnya lebih struktural, dan makin kompleks.
Laporan Women in Work 2026 dari PwC mengungkap tren yang mengkhawatirkan. Tingkat pengangguran perempuan usia 16–24 tahun meningkat dalam setahun terakhir. Dari 3,5% pada 2023 menjadi 4,2% pada 2024.
Angka ini terlihat kecil. Tapi di baliknya, ada perubahan besar yang sedang terjadi.
Lonjakan Kelompok NEET
Kenaikan pengangguran ini berkaitan erat dengan meningkatnya jumlah perempuan muda yang masuk kategori NEET (not in education, employment, or training).
Artinya, mereka tidak bekerja. Tidak sekolah. Tidak juga mengikuti pelatihan.
Ini bukan sekadar fase sementara. Bagi sebagian perempuan Gen Z, kondisi ini bisa menjadi jebakan jangka panjang.
Baca juga: Cara Tak Biasa Lamar Kerja, CV Diselipkan dalam Kotak Donat
Riset menunjukkan, perempuan muda dengan pendidikan rendah atau memiliki masalah kesehatan punya risiko jauh lebih tinggi masuk kategori ini. Bahkan peluangnya bisa mencapai empat kali lipat dibanding kelompok lain.
Teknologi Jadi “Pembatas Baru”
Transformasi digital juga ikut memperlebar jurang.
Banyak pekerjaan yang dulu didominasi perempuan kini mulai tergantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, keterampilan digital yang dibutuhkan untuk beradaptasi belum dimiliki secara merata.
Baca juga: Langkah Awal Karier Digital, Tips Kunci untuk Gen Z
Akibatnya, sebagian perempuan muda tertinggal di tengah percepatan teknologi.
Ini bukan karena mereka tidak mampu. Tapi karena akses dan arah pembelajaran belum sepenuhnya berpihak.
Jalur Karier yang Tidak Seimbang
Masalah lain muncul dari struktur pasar kerja itu sendiri.
Laki-laki muda, bahkan dengan nilai akademik biasa, masih punya banyak opsi. Sektor seperti konstruksi, logistik, hingga pekerjaan teknis terus menyerap tenaga kerja.
Sementara perempuan dengan latar pendidikan serupa cenderung masuk ke sektor ritel, perawatan, atau perhotelan.
Baca juga: 9 Soft Skill Penting untuk Industri Prioritas Indonesia Emas 2045
Masalahnya, sektor-sektor ini justru sedang mengalami tekanan. Pertumbuhan melambat. Ruang karier pun terbatas.
Di sinilah ketimpangan mulai terlihat jelas.
Bukan Soal “Kurang”, tapi Soal Akses
CEO Bentley Lewis, Lewis Maleh, menilai akar persoalannya bukan pada kemampuan perempuan muda.
Masalah utamanya adalah terbatasnya jalur karier yang tersedia. Artinya, yang perlu diperbaiki bukan individunya, melainkan ekosistemnya.
Namun di sisi lain, ada langkah adaptasi yang bisa dilakukan sejak sekarang.
Skill Baru, Peluang Baru
Dunia kerja berubah cepat. Tapi peluang tetap ada, terutama di sektor yang sedang tumbuh.
Bidang seperti teknologi digital, energi hijau, dan kesehatan berbasis teknologi membuka banyak pintu baru. Sayangnya, minat perempuan muda ke sektor ini masih relatif rendah.
Baca juga: AI Buka 1,3 Juta Lowongan Baru, Gen Z Siap Rebut?
Padahal, keterampilan seperti penggunaan AI tidak selalu membutuhkan gelar tinggi. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar, eksplorasi, dan keberanian mencoba.
Magang, pelatihan digital, hingga proyek mandiri bisa menjadi pintu masuk.
Jangan Tunggu Kesempatan
Di tengah perubahan ini, strategi juga perlu berubah.
Tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Dunia kerja kini mencari mereka yang adaptif, ingin tahu, dan aktif membangun pengalaman.
Portofolio, jejaring, dan pengalaman praktis menjadi nilai tambah yang semakin penting.
Kesempatan memang tidak selalu datang. Tapi, bisa diciptakan.
Dan di situlah kunci bertahan, bahkan unggul, di era baru ini. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.