
Mulamula.id – Setelah lebih dari setengah abad, manusia akhirnya kembali “menyentuh” Bulan, meski belum mendarat. Misi Artemis II resmi berakhir dengan selamat, menandai babak baru eksplorasi luar angkasa.
Kapsul Orion yang membawa empat astronaut mendarat di Samudra Pasifik, Jumat (10/4) waktu setempat. Ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ini sinyal kuat, manusia serius kembali ke Bulan.
Misi Bersejarah Dimulai Lagi
Empat astronaut, Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, menjalani perjalanan hampir 10 hari.
Mereka melesat sejauh 694.481 mil (lebih dari 1,1 juta kilometer). Pada titik terjauh, jaraknya mencapai 252.756 mil dari Bumi, melampaui rekor manusia sebelumnya sejak era Apollo.
Baca juga: Artemis II Bersiap Mendarat, Delapan Menit Kritis Hadapi Panas 2.760 Derajat
Misi ini diluncurkan menggunakan roket Space Launch System dari Kennedy Space Center. Dengan dorongan 8,8 juta pon, roket ini menjadi salah satu yang paling kuat dalam sejarah.
Lebih dari Sekadar Terbang
Artemis II bukan wisata luar angkasa. Ini adalah uji coba penuh.
Astronaut menguji sistem penopang kehidupan, mengendalikan pesawat secara manual, hingga mensimulasikan kondisi darurat. Semua untuk menjawab satu pertanyaan, apakah manusia benar-benar siap hidup di luar Bumi?
“Ini momen penting. Sistem masuk ulang dan pendaratan bekerja sesuai desain,” kata Amit Kshatriya, pejabat NASA.
Lebih dari 14 negara terlibat dalam misi ini. Artinya, eksplorasi Bulan kini bukan proyek satu negara, tapi kolaborasi global.
Mengintip Masa Depan dari Orbit Bulan
Saat melintas di dekat Bulan, Orion hanya berjarak sekitar 4.067 mil dari permukaan. Dari sana, para astronaut mengabadikan lebih dari 7.000 gambar.
Hasilnya? Bukan cuma visual indah.
Baca juga: Foto Pertama Artemis II Ungkap Sisi Bulan yang Tak Pernah Dilihat Manusia
Mereka menangkap fenomena langka seperti gerhana Matahari dari sudut pandang luar angkasa, serta detail topografi Bulan, dari kawah hingga aliran lava purba.
Data ini penting. Terutama untuk memahami kondisi di kutub selatan Bulan, lokasi yang ditargetkan sebagai titik pendaratan misi berikutnya.
Sains di Luar Angkasa
Selain eksplorasi, Artemis II juga membawa eksperimen.
Salah satunya adalah studi tentang dampak mikrogravitasi terhadap jaringan tubuh manusia. Ini krusial untuk misi jangka panjang, termasuk ambisi ke Mars.
Astronaut juga menguji peralatan, prosedur darurat, dan pakaian luar angkasa generasi baru.
Semua hasilnya akan menjadi “manual awal” bagi misi berikutnya.

Menuju Artemis III
Dengan Artemis II selesai, fokus kini bergeser ke Artemis III. Targetnya lebih ambisius, mendaratkan manusia kembali di Bulan pada 2028, sekaligus membangun basis permanen.
NASA juga mulai menyiapkan integrasi dengan pendarat komersial, langkah menuju ekonomi luar angkasa.
Baca juga: Artemis II Lintasi Bulan Hari Ini, Manusia Pecahkan Rekor Jarak Terjauh
Administrator NASA, Jared Isaacman, menyebut misi ini sebagai fondasi masa depan.
“Ini bukan sekadar kembali ke Bulan. Ini tentang memastikan kita tidak pernah meninggalkannya lagi,” ujarnya.
Lebih dari Simbol
Artemis II bukan hanya pencapaian teknologi. Ini simbol arah baru manusia.
Dari eksplorasi sesaat menjadi kehadiran permanen. Dari kompetisi negara menjadi kolaborasi global. Dan dari mimpi lama, menuju rencana nyata.
Jika semua berjalan sesuai rencana, dekade ini bisa menjadi titik balik. Saat manusia benar-benar menjadikan luar angkasa sebagai “rumah kedua”. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.