Di Tengah Polemik JKA, Aceh Diuji dalam Menjaga Tradisi Dialog

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, salah satu ikon peradaban dan ruang sosial masyarakat Aceh. Foto: Kai Merlyn/ Pexels.

Tiga generasi —dayah, kampus, dan diaspora, membentuk cara Aceh melihat perbedaan

ACEH, mulamula.id Perdebatan tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dalam beberapa waktu terakhir terasa semakin panas. Diskursus yang semestinya berada di ruang kebijakan perlahan bergeser menjadi adu argumen tanpa ujung, terutama di media sosial.

Pemerintah Aceh sendiri telah menegaskan bahwa JKA tidak dihapus, melainkan dirapikan. Namun, klarifikasi itu belum sepenuhnya meredakan situasi. Sebaliknya, ruang publik justru dipenuhi silang pendapat yang kerap kehilangan konteks.

Di titik ini, yang mengemuka bukan lagi soal teknis kebijakan kesehatan. Lebih dari itu, perdebatan ini memperlihatkan satu hal yang lebih mendasar, bagaimana masyarakat Aceh hari ini berinteraksi dengan perbedaan cara pandang.

Tiga Akar Cara Berpikir

Secara sosiologis, masyarakat Aceh tidak tumbuh dalam satu pola pikir yang seragam. Aceh dibentuk oleh setidaknya tiga arus besar generasi pendidikan yang hidup berdampingan dan saling memengaruhi.

Pertama adalah generasi Dayah. Lembaga pendidikan tradisional ini telah lama menjadi fondasi peradaban Aceh. Dayah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan moral. Cara pandang generasi ini cenderung reflektif, berhati-hati, dan berangkat dari otoritas keilmuan ulama.

Kedua adalah generasi universitas lokal. Mereka ditempa dalam lingkungan akademik seperti Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, Universitas Malikussaleh, dan lainnya. Pola pikir mereka lebih analitis dan sistematis. Isu seperti JKA dilihat sebagai persoalan desain kebijakan, efisiensi anggaran, dan keberlanjutan sistem.

Ketiga adalah generasi yang menempuh pendidikan di luar Aceh. Kelompok ini membawa perspektif nasional dan global. Mereka terbiasa dengan perubahan cepat, inovasi, serta pendekatan baru dalam menyelesaikan persoalan.

Ketiga generasi ini selama ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling berinteraksi, bahkan berkolaborasi dalam banyak aspek kehidupan sosial dan pemerintahan di Aceh.

Ketika Perbedaan Kehilangan Ruang

Perbedaan cara pandang sebetulnya bukan hal baru bagi Aceh. Justru dari perbedaan itulah lahir dinamika yang membuat masyarakatnya tetap hidup dan berkembang.

Namun, persoalan muncul ketika ruang untuk saling memahami mulai menyempit.

Baca juga: Aceh Dua Dekade Damai, Saatnya Mengakhiri Amnesia Sejarah di Kelas

Perdebatan tentang JKA menjadi contoh nyata. Argumen yang disampaikan sering kali tidak lagi bertujuan mencari titik temu, melainkan mempertahankan posisi masing-masing. Dalam kondisi seperti ini, diskursus berubah menjadi apa yang kerap disebut sebagai “debat kusir”.

Padahal, Aceh memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah. Sebuah proses yang tidak bertumpu pada siapa yang paling benar, tetapi pada bagaimana menemukan kesepahaman bersama.

Bukan Soal Kekurangan Intelektual

Situasi yang terjadi saat ini tidak mencerminkan kekurangan kapasitas intelektual. Aceh memiliki ulama, akademisi, dan sumber daya manusia yang mumpuni di berbagai bidang.

Yang justru mengemuka adalah berkurangnya ruang dialog yang sehat.

Ketika setiap kelompok berbicara dari sudut pandangnya sendiri tanpa upaya memahami yang lain, maka perbedaan yang semestinya menjadi kekuatan berubah menjadi sumber gesekan.

Mengembalikan Irama Bersama

Dalam konteks ini, penting untuk melihat kembali peran masing-masing generasi.

Generasi Dayah memiliki kekuatan dalam menjaga nilai dan etika sosial. Generasi akademisi berperan dalam merumuskan kebijakan berbasis analisis. Sementara generasi luar daerah membawa perspektif baru yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan masa depan.

Ketiganya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Perdebatan tentang JKA pada akhirnya bisa menjadi momentum untuk mengingat kembali satu hal mendasar, bahwa Aceh dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Dan dalam tradisi itu, mendengar dan musyawarah selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbicara, sebuah kebiasaan lama yang menjaga Aceh tetap utuh hingga hari ini. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *