Pertamina Perluas Aksi Lingkungan ke Desa dan Ekonomi Sirkular

Aksi tanam pohon melibatkan masyarakat dan generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi lokal. Foto: Pertamina.

JAKARTA, mulamula.id – Hari Bumi 2026 bukan sekadar seremoni. Bagi Pertamina, momentum ini dipakai untuk memperluas aksi nyata, dari hutan hingga desa, dari kampus hingga pelaku UMKM.

Tema global “Our Power, Our Planet” diterjemahkan menjadi satu pesan sederhana, menjaga bumi butuh kolaborasi.

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa pendekatan perusahaan kini tidak lagi berdiri sendiri. Masyarakat, akademisi, hingga pelaku usaha ikut dilibatkan.

“Melalui berbagai program TJSL dan inovasi di seluruh lini bisnis, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berkontribusi menjaga bumi,” ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci

Pendekatan berbasis kolaborasi ini terlihat dalam berbagai program yang dijalankan bersama Pertamina Foundation.

Mahasiswa, peneliti, hingga komunitas lokal dilibatkan langsung. Tujuannya tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Artinya, isu keberlanjutan tidak lagi berhenti di konservasi. Tapi, mulai masuk ke ranah kesejahteraan.

Satu Juta Pohon dan Ekonomi Lokal

Salah satu program utama adalah PFlestari. Fokusnya, memulihkan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi.

Lebih dari satu juta pohon telah ditanam. Tidak hanya di daratan, tetapi juga kawasan mangrove yang rentan rusak.

Baca juga: Aku Net-Zero Hero, Cara Baru Warga Tekan Emisi

Yang menarik, program ini tidak berhenti di penanaman. Masyarakat dilatih mengolah hasil hutan dan limbah tanaman menjadi produk bernilai jual.

Pendekatan ini menunjukkan satu hal penting: pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan ekonomi lokal.

Desa Energi Mulai Tumbuh

Di sisi lain, isu transisi energi juga mulai menyentuh level desa.

Melalui program Desa Energi Berdikari Sobat Bumi (DEB SoBI), masyarakat didorong memanfaatkan energi terbarukan.

Dalam tiga tahun terakhir, 40 desa telah dibina. Hasilnya mulai terlihat.

Produksi energi mencapai sekitar 1.100 kWh per tahun dari panel surya, serta 6.199 meter kubik biogas.

Lebih dari 1.600 warga merasakan manfaat langsung.

Angka ini memang belum besar secara nasional. Namun, memberi sinyal penting: transisi energi bisa dimulai dari skala kecil.

Beasiswa hingga Aksi Lingkungan

Di sektor pendidikan, program beasiswa Sobat Bumi telah menjangkau lebih dari 5.000 penerima sejak 2011.

Tidak hanya menerima bantuan pendidikan, para penerima juga terlibat dalam aksi lingkungan. Mulai dari penanaman pohon hingga kegiatan bersih lingkungan.

Pendekatan ini membentuk satu pola baru: pendidikan yang terhubung dengan aksi nyata.

Ekonomi Sirkular dari Limbah

Upaya lain terlihat pada pengembangan UMKM berbasis ekonomi sirkular.

Salah satu contoh, minyak jelantah diolah menjadi sabun dan lilin. Limbah produksinya bahkan dimanfaatkan sebagai pakan maggot.

Model ini menunjukkan bagaimana limbah bisa menjadi sumber ekonomi baru.

Sekaligus, mengurangi beban lingkungan.

Dari Program ke Dampak

Secara keseluruhan, langkah-langkah ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals dan komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution.

Fokusnya jelas: penanganan perubahan iklim, perlindungan ekosistem darat dan laut, serta penurunan emisi gas rumah kaca.

Namun, tantangan berikutnya bukan pada jumlah program.

Melainkan pada skala dan dampak jangka panjangnya.

“Menjaga bumi adalah gerakan bersama,” kata Baron. “Kami akan terus membuka ruang kolaborasi agar manfaatnya benar-benar terasa.”

Di titik ini, pertanyaannya bergeser.

Bukan lagi soal siapa yang bergerak, tetapi seberapa besar dampaknya bisa diperluas. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *