
MAKKAH, mulamula.id – Pergerakan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci tahun ini tidak hanya soal keberangkatan dan kedatangan. Ada satu sistem yang jadi tulang punggung mobilitas, Bus Sholawat. Layanan ini beroperasi 24 jam dan menjadi penopang utama aktivitas jemaah di Makkah.
Di tengah suhu yang bisa menyentuh 43 derajat Celsius, akses transportasi yang aman dan mudah bukan lagi pelengkap. Tapi, kebutuhan dasar.
Mobilitas Tanpa Henti
Pemerintah menyiapkan 452 armada Bus Sholawat. Semuanya beroperasi non-stop. Layanan ini menghubungkan hotel jemaah dengan Masjidil Haram melalui tiga terminal utama, Jiad (Ajyad), Jabal Ka’bah, dan Syib Amir.
Bus ini melayani 21 rute. Setiap rute dibedakan dengan warna dan nomor. Jemaah wajib membawa kartu panduan agar tidak salah jalur.
Sistem ini dirancang sederhana. Tujuannya, meminimalkan kebingungan di lapangan.
Ramah Lansia dan Disabilitas
Dari ratusan armada itu, 52 unit merupakan bus hidrolik. Bus ini dirancang khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Fitur ini penting. Sebab profil jemaah Indonesia didominasi kelompok usia lanjut.
Baca juga: Haji 2026 Berjalan Lancar, Jemaah Diminta Tak Salah Bayar Dam
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan layanan ini bagian dari komitmen inklusivitas.
“Bus Sholawat beroperasi 24 jam dengan armada ramah lansia dan disabilitas. Ini bagian dari layanan haji yang berkeadilan,” ujarnya.
Penopang Fase Kritis
Hingga hari ke-13 operasional, sebanyak 36 kloter dengan 14.503 jemaah telah tiba di Makkah. Mereka mulai menjalani umrah wajib dan bersiap menuju puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Di fase ini, mobilitas jadi krusial. Jarak hotel ke Masjidil Haram tidak selalu dekat. Tanpa sistem transportasi yang stabil, potensi kelelahan jemaah meningkat.
Bus Sholawat hadir untuk menutup celah itu.
Adaptasi Cuaca Ekstrem
Cuaca di Makkah bukan faktor kecil. Paparan panas ekstrem bisa memicu dehidrasi hingga gangguan kesehatan serius.
Data menunjukkan ribuan jemaah sudah menjalani rawat jalan. Sebagian dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia dan rumah sakit setempat.
Baca juga: Masuk Raudhah Gratis, Kalau Diminta Bayar itu Penipuan
Karena itu, pemerintah mengingatkan jemaah untuk mengatur ritme ibadah. Hindari aktivitas berat di siang hari. Perbanyak minum air. Gunakan pelindung diri.
Di titik ini, Bus Sholawat juga berfungsi sebagai “jalur aman”. Jemaah bisa meminimalkan berjalan kaki di tengah panas.
Sistem yang Terus Diuji
Secara umum, operasional haji 2026 berjalan terkendali. Lebih dari 74 ribu jemaah telah diberangkatkan. Mayoritas sudah tiba di Madinah dan mulai bergerak ke Makkah.
Namun ujian sebenarnya ada di detail layanan. Transportasi adalah salah satunya.
Baca juga: Haji Ilegal Makin Marak, Polri Turun Tangan hingga Arab Saudi
Bus Sholawat bukan sekadar fasilitas. Itu adalah sistem. Jika berjalan baik, ibadah jadi lebih tenang. Jika terganggu, efeknya langsung terasa di lapangan.
Karena itu, keberlanjutan dan konsistensi layanan ini akan menentukan kualitas pengalaman haji secara keseluruhan. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.